Sunday, April 5, 2026

BAB 13

Bibir Jontor

Tahun 1988

Pagi itu, Raka mengayuh Si Merah dengan percaya diri. Enam bulan latihan telah mengubahnya dari anak yang selalu jatuh menjadi pengayuh yang lumayan belum mahir, tapi cukup untuk tidak membuat ibunya cemas. Kakinya masih belum bisa mencapai tanah kalau duduk di sadel, tapi ia sudah bisa mengayuh sambil berdiri dengan cukup stabil.

Matahari baru naik setinggi pohon kelapa. Udara masih sejuk, dan jalan kampung belum terlalu ramai. Raka menikmati perjalanan, sesekali bersiul, sesekali melambai pada orang-orang yang dikenalnya.

"Raka!"

Suara itu datang dari belakang. Raka menoleh. Budi, teman sekelasnya, mengayuh sepeda gunung baru. Sepeda itu merah putih, stangnya lurus, bannya gendut model terbaru, kata orang. Catnya masih mengilap, belum kena debu.

"Raka, adu balap!" teriak Budi. "Adu balap? Nanti jatuh."

"Ah, kamu penakut! Takut kalah!"

Raka tersinggung. Takut kalah? Tidak. Ia tidak takut kalah. Tapi ia takut jatuh. Takut pulang dengan luka baru. Takut melihat ibu cemas lagi.

Tapi Budi terus mengejek. "Raka penakut! Raka penakut!"

Tanpa sadar, kaki Raka mengayuh lebih kencang.

Si Merah melaju. Budi di sampingnya, juga mengayuh kencang. Mereka meninggalkan debu di belakang, meninggalkan warung-warung yang baru buka, meninggalkan orang-orang yang menoleh dengan heran.

Di tikungan dekat pasar, nasib berkata lain.

Dari arah berlawanan, seorang bapak dengan sepeda butut muncul tiba-tiba. Sepedanya penuh muatan sayur kangkung, bayam, kacang panjang di boncengan dan di stang. Sayur-sayuran itu bergoyang-goyang, seperti akan jatuh setiap saat.

Budi terkejut. Ia membanting setang ke kiri tepat ke arah Raka. BRAK!

Raka jatuh. Sepeda-sepeda bertumpuk. Sayur-sayuran berhamburan di aspal. Kangkung berserak, bayam beterbangan, kacang panjang bergelimpangan.

Raka merasakan sesuatu yang hangat di bibirnya. Ia meraba. Tangannya merah. Darah. Banyak.

Bapak penjual sayur itu segera bangun dan berlari. Wajahnya pucat pasi, seperti orang yang melihat hantu.

"Nak, Nak! Sakit?! Banyak darah!"

Raka tak bisa bicara. Bibirnya bengkak, seperti sosis yang digoreng terlalu lama. Darah mengucur dari sudut mulutnya, membasahi baju seragamnya.

Budi juga jatuh, tapi ia segera bangun. Ia memandang Raka dengan wajah ketakutan. "Ra... Raka... maaf..."

Raka tak menjawab. Ia hanya memegang bibirnya, berusaha menghentikan darah yang terus mengalir.

Seorang ibu yang kebetulan lewat berteriak, "Itu anak Bu Guru! Cepat panggil ibunya! Panggil Bu Guru Siti!"

Tak sampai sepuluh menit, Siti sudah tiba. Ia baru selesai mengajar di SD, baru saja meletakkan tas, ketika mendengar teriakan dari jalan. Ia berlari secepat mungkin, tanpa peduli sandal yang hampir lepas.

Sesampainya di lokasi, ia melihat Raka duduk di pinggir jalan, bibirnya bengkak berdarah, bajunya kotor. Di sampingnya, Bapak penjual sayur sedang mengompres bibir Raka dengan sapu tangan.

"Raka!"

Siti berlari, menggendong Raka, dan tanpa pikir panjang langsung menaikkan anaknya ke Si Merah.

"Bu, itu sepedanya..." seseorang berteriak. "Nanti ambil! Sekarang rumah sakit!"

Siti mengayuh sekuat tenaga. Tiga kilometer ke puskesmas. Tanjakan, turunan, tanjakan lagi. Debu, panas, terik. Tak ada yang dihiraukan. Yang ada hanya detak jantung yang berpacu dan doa yang tak henti.

Raka di boncengan, memegang erat pinggang ibu. Ia bisa merasakan tubuh ibu gemetar. Ia bisa mendengar napas ibu terengah, seperti orang yang kehabisan napas setelah lari jauh. Ia bisa merasakan tetesan keringat ibu jatuh ke lengannya.

"Ra, tahan, ya. Sebentar lagi. Ibu antar."

Di puskesmas, dokter muda langsung menangani. Jahitan kecil di bibir. Lima jahitan. Obat anti- nyeri. Kompres es.

Siti duduk di kursi tunggu, masih terengah. Tangannya gemetar memegang kartu berobat.

Pak Mantri, yang kebetulan ada di puskesmas hari itu, duduk di sampingnya. "Bu Guru, tenang. Dokternya bagus. Anak Ibu selamat. Cuma jahitan kecil."

Siti menunduk. Air matanya jatuh. "Pak, saya takut. Saya pikir... saya pikir dia..." "Sudah, Bu. Sudah. Ini sudah lewat. Tak usah dipikir."

Dokter keluar, tersenyum. "Bu Guru, anak Ibu selamat. Bibirnya bengkak, tapi tak parah. Jahitan kecil. Nanti dua tiga hari sembuh. Jangan lupa kontrol."

Siti masuk ke ruang periksa. Raka duduk di ranjang, bibirnya bengkak, tapi ia tersenyum. "Bu, aku tak nangis."

Siti tertawa dan menangis bersamaan. "Iya, Nak. Kamu hebat. Kamu kuat."

Keesokan harinya, Raka masuk sekolah dengan bibir bengkak. Jahitan hitam terlihat jelas di sudut bibirnya, seperti ulat yang merayap.

Teman-teman langsung kompak berbisik, lalu tertawa. "Raka jadi badut! Bibirnya kayak sosis!"

"Raka, kamu habis disengat lebah?" "Raka, itu bibir atau bakpao?"

Raka malu. Ia menunduk. Duduk di bangkunya tanpa bicara.

Bu Dina guru kelasnya memasuki ruangan. "Anak-anak, diam! Jangan mengejek teman! Raka jatuh dari sepeda, itu bisa menimpa siapa saja. Kalian mau diejek kalau jatuh?"

Kelas hening. Tapi bisik-bisik tetap ada.

Sepanjang minggu itu, Raka jadi bahan tertawaan. Setiap kali ia lewat, ada saja yang berbisik dan tertawa. Budi, yang merasa bersalah, jadi sahabat karibnya untuk sementara. Tapi Budi tak bisa selalu ada.

Tapi di balik semua tawa itu, ada yang tak berubah: setiap pulang sekolah, Ibu selalu menjemput dengan Si Merah.

"Gimana sekolah, Nak?"

"Malu, Bu. Mereka ketawain aku. Badut sosis."

Siti mengayuh pelan. Angin sore membelai mereka.

"Lihat, Nak. Mereka tertawa, tapi kamu punya Ibu yang jemput. Mereka tertawa, tapi kamu punya sepeda yang anter. Mereka tertawa, tapi kamu kuat."

"Kuat, Bu?"

"Iya. Kamu masih sekolah. Kamu masih tersenyum. Kamu masih naik Si Merah. Kamu masih bisa tertawa. Itu artinya kamu kuat."

Raka diam. Ia merenung.

Seminggu kemudian, bibir Raka sembuh. Jahitannya copot. Hanya menyisakan bekas tipis di sudut mulut.

Ia bercermin lama di kaca rias ibu. "Bu, bekasnya tak hilang?"

"Tak hilang, Nak. Itu kenangan."

"Kenangan jelek."

Siti tertawa. "Kenangan jelek pun, kalau dikenang nanti, bisa jadi lucu. Bisa jadi cerita. Bisa jadi pelajaran. Percaya sama Ibu."

Raka memandang bayangannya sendiri. Bekas itu kecil, hampir tak terlihat. Tapi ia tahu, ia akan selalu ingat.

Dua puluh lima tahun kemudian, saat Raka melihat Si Merah berkarat di pohon jambu, ia memegang bekas luka di sudut bibirnya. Dan ia tersenyum.

Ibu benar. Kenangan jelek pun bisa jadi lucu. Bisa jadi hangat. Bisa jadi alasan untuk terus tersenyum.

Bersambung ke BAB 11: Kaki Masuk Jeruji


No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...