BAB 12
Kata Ayah
Tahun 1988
Raka jatuh lagi. Untuk kesekian kalinya.
Lututnya lecet, mengelupas, meninggalkan daging merah yang basah. Sikunya berdarah, garis- garis merah merambat di lengan bawah. Debu menempel di lukanya, bercampur keringat menjadi pasta kotor yang perih. Ia duduk di tanah, di antara rumput-rumput liar yang tumbuh di pinggir halaman, dan menangis.
Bukan menangis keras, tapi tangis tertahan yang keluar dari tenggorokan sesekali, diselingi isak pendek-pendek. Tangis frustrasi. Tangis lelah. Tangis anak kecil yang merasa tak akan pernah bisa.
Siti berlari dari dapur, meninggalkan sayur yang sedang ia goreng. Ia berlutut di samping Raka, memeluknya, meraba-raba lukanya. "Ra, sakit?"
Raka tak menjawab. Ia hanya menangis, membenamkan wajah di bahu ibu.
Tapi Bapak juga datang. Ia keluar dari rumah, berjalan pelan, lalu duduk di samping Raka. Diam-diam, ia ikut memeluk.
"Ra," katanya pelan, "kenapa nangis?"
Raka mengangkat wajah. Matanya bengkak, merah. "Nggak bisa, Pak. Aku nggak bisa. Selalu jatuh."
Bapak tersenyum. Senyum yang sama seperti ketika ia bercerita tentang masa lalunya hangat, tapi ada getir di sudutnya.
"Ra, Bapak dulu juga nggak bisa."
Raka berhenti menangis. Matanya membelalak. "Bapak? Nggak bisa apa?"
Bapak menggeser duduknya, mengambil posisi lebih nyaman di tanah. Di kejauhan, matahari mulai turun, menciptakan bayang-bayang panjang di halaman.
"Waktu pertama kerja di tambang, Bapak nggak bisa angkat beban seberat itu. Berat, Nak. Puluhan kilo. Bapak jatuh, berulang kali. Tangan Bapak lecet, kaki Bapak bengkak. Badan Bapak remuk."
Raka diam, mendengarkan.
"Tapi Bapak ingat, suatu hari nanti, Bapak mau jadi guru. Bapak mau keluar dari tambang. Bapak mau punya hidup yang lebih baik. Dan itu yang bikin Bapak terus berusaha."
"Bener, Pak?"
"Bener. Bapak dulu juga belajar. Semua orang belajar. Ibu juga belajar. Kamu juga akan bisa." Raka mengusap air mata. Debu di pipinya luntur, menyisakan garis-garis kotor.
"Pak, dulu Bapak kerja di tambang?"
"Iya. Capek banget. Panas, hujan, debu. Tiap hari. Tapi Bapak belajar dari situ. Bapak belajar bahwa hidup itu keras. Tapi kalau kita mau berusaha, pasti ada jalan."
"Jadi Bapak jadi guru karena belajar?"
"Iya. Bapak belajar malam-malam, baca buku pinjaman dari tetangga. Kadang ngantuk, kadang capek. Tapi Bapak ingat, suatu hari nanti, Bapak mau lihat anak-anak Bapak sekolah. Bapak mau lihat kalian sukses."
Raka memeluk Bapak erat. Pelukan yang tak terduga, yang membuat Bapak sedikit terkejut, lalu tersenyum.
"Pak, aku akan belajar. Aku janji." "Janji apa?"
"Aku akan belajar naik sepeda. Pokoknya bisa." Bapak tertawa. "Bagus, Nak. Bapak tunggu."
Siti, yang sejak tadi diam menyaksikan dari samping, ikut tersenyum. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tak menangis. Ini bukan momen untuk menangis. Ini momen untuk bersyukur.
Malam harinya, setelah makan, Bapak duduk di teras. Raka duduk di sampingnya, dengan kaki yang masih diperban. Mereka memandangi bintang-bintang yang mulai bermunculan.
"Pak," kata Raka tiba-tiba. "Iya, Nak."
"Aku pengen jadi guru. Kayak Bapak."
Bapak menoleh. Matanya berbinar. "Kenapa?"
"Karena Bapak hebat. Bapak bisa jadi guru meski dulu susah." Bapak tersenyum. Ia mengusap kepala Raka.
"Kamu lebih hebat, Nak. Bapak dulu cuma kerja buat diri sendiri. Kamu nanti kerja buat banyak orang."
Mereka diam. Di kejauhan, suara jangkrik mulai terdengar. "Pak," Raka bicara lagi.
"Iya?"
"Aku sayang Bapak."
Bapak tertegun. Kata-kata itu jarang diucapkan. Jarang sekali. Tapi malam ini, di teras rumah sederhana itu, kata-kata itu terasa begitu hangat.
"Bapak juga sayang kamu, Nak."
No comments:
Post a Comment