BAB 11
Raka Belajar Naik
Tahun 1988
Tahun 1988. Raka berusia delapan tahun. Kakinya mulai panjang tidak panjang-panjang amat, tapi cukup untuk membuatnya berpikir bahwa ia sudah besar. Terlalu besar untuk terus dibonceng. Terlalu besar untuk terus minta diantar. Ia ingin naik sendiri. Ia ingin mengayuh sendiri.
Setiap sore, Siti mengajari Raka naik sepeda di halaman rumah. Halaman tanah yang tidak rata, dengan lubang di sana-sini bekas kaki, bekas hujan, bekas ayam yang mengais. Di satu sisi, pohon pisang tumbuh dengan daun-daun lebar yang kadang jatuh dan membusuk di tanah. Di sisi lain, tumpukan kayu bakar untuk dapur, tersusun rapi di bawah pohon jambu.
Matahari sore menyinari halaman dengan cahaya jingga. Bayang-bayang pohon pisang menari- nari di tanah, tertiup angin sepoi-sepoi. Suara burung-burung mulai berkicau, bersahutan dari satu pohon ke pohon lain.
Raka memegang stang Si Merah. Tangannya gemetar, telapaknya berkeringat. Sepeda itu terlalu besar untuknya sadelnya terlalu tinggi, kakinya tak bisa menyentuh tanah kalau duduk. Ia harus belajar dengan cara yang berbeda: berdiri di atas pedal, mengayuh sambil berjingkat, badan oleng ke kiri-kanan seperti perahu kena badai.
Siti berjongkok di sampingnya. Wajahnya basah oleh keringat, tapi matanya penuh kesabaran. "Ra, lihat ke depan. Jangan lihat roda. Jangan lihat tanah. Lihat ke depan."
Raka mengangguk. Tapi matanya tetap ke bawah, memperhatikan roda yang sebentar lagi akan berputar.
"Bu, takut."
"Semua orang takut, Nak. Yang tak takut itu bukan manusia." Raka tersenyum kecil. Lalu ia mengayuh.
Satu kayuhan. Dua kayuhan. Roda berputar, tidak oleng. Raka melaju beberapa meter, merasa seperti terbang. Tapi kemenangan itu hanya sebentar.
Bruk!
Ia jatuh. Lututnya lecet, merah mengelupas. Sikunya berdarah, meninggalkan garis-garis merah tipis di lengan. Debu menempel di peluhnya, menciptakan coreng-coreng kotor di pipi.
Siti berlari. "Sakit, Nak?"
Raka menggeleng. Tapi matanya berkaca-kaca. Bukan sakit, tapi frustrasi. Jatuh lagi. Selalu jatuh.
Siti duduk di sampingnya. Tanah itu hangat, masih menyimpan panas matahari seharian. Ia memeluk Raka.
"Raka, lihat Ibu."
Raka menengadah. Air matanya jatuh, membasahi pipi yang kotor.
"Ibu juga pernah jatuh. Berkali-kali. Waktu pertama kali naik Si Merah, Ibu jatuh di Tanjakan Samak. Sampai lutut Ibu berdarah. Sampai sepeda Ibu ringsek."
Raka membelalak. "Bener, Bu?"
"Bener. Tapi Ibu bangkit lagi. Ibu bawa sepeda ke bengkel, Ibu rawat lukanya, Ibu coba lagi. Karena kalau berhenti, kita tak akan sampai ke puncak. Kita akan selamanya di dasar."
Raka mengusap air mata. Debu di pipinya luntur, meninggalkan garis-garis kotor.
"Puncak apa, Bu?"
Siti menunjuk ke Tanjakan Samak yang samar-samar terlihat dari halaman rumah. Di bawah sinar senja, tanjakan itu tampak seperti pita merah yang melilit bukit. Lampu-lampu kecil mulai menyala di kejauhan, seperti kunang-kunang raksasa.
"Lihat itu. Tanjakan Samak. Di sana, semua orang harus turun. Tapi setelah itu, mereka sampai di puncak. Ibu mau lihat Raka sampai di sana. Ibu mau lihat Raka berdiri di puncak, melihat ke bawah, dan berkata: 'Aku berhasil.'"
Raka memandang tanjakan itu lama. Matanya berbinar. "Aku mau, Bu. Aku mau sampai di sana."
Siti tersenyum. "Nanti. Pelan-pelan. Setiap hari belajar sedikit. Besok jatuh lagi, lusa jatuh lagi. Tapi suatu hari, kau akan bisa."
Mereka berdua duduk di tanah, di antara debu dan daun kering. Matahari semakin rendah, meninggalkan semburat jingga di ufuk barat. Angin sore berhembus, membawa aroma daun lada dan tanah.
Hari-hari berikutnya, Raka terus berlatih. Setiap sore, setelah mandi dan makan, ia keluar ke halaman. Si Merah sudah menunggu.
Jatuh. Bangun. Jatuh lagi. Bangun lagi.
Lututnya penuh luka, ditutupi perban yang diganti setiap hari. Siku kanannya berkerak, mengering dengan sendirinya. Tapi ia tak pernah menyerah.
Siti selalu di sampingnya, siap menangkap kalau ia jatuh. Kadang Bapak ikut menemani, duduk di teras sambil tersenyum melihat perjuangan anaknya.
Suatu sore, saat Siti sedang memasak di dapur, ia mendengar teriakan dari halaman.
"Bu! Bu! Lihat!"
Siti berlari keluar, masih memegang sendok kayu. Di halaman, Raka sedang mengayuh Si Merah. Tidak oleng. Tidak jatuh. Rodanya berputar mantap, meninggalkan jejak-jejak di tanah merah. Raka melaju lurus, membelah halaman, lalu berputar balik dengan mulus.
"Aku bisa, Bu! Aku bisa!"
Siti berdiri di teras, matanya berkaca-kaca. Ia ingin berteriak, ingin melompat, ingin memeluk anaknya. Tapi ia hanya diam, tersenyum, dan menangis dalam hati.
Raka berputar di halaman, sekali, dua kali, tiga kali. Rasa bangga memenuhi dadanya. Ia tak lagi jatuh. Ia bisa.
Akhirnya ia mengerem di depan ibu. Napasnya terengah, wajahnya merah, keringat membasahi bajunya. Tapi matanya bersinar.
"Bu, aku bisa."
Siti mengusap kepalanya. Rambut itu basah, lengket, tapi terasa lembut di tangannya. "Ibu tahu, Nak. Ibu tahu."
Malam harinya, Bapak pulang dan melihat luka-luka di kaki Raka. Perban di lutut sudah kotor, tapi Raka tak peduli.
"Wah, kamu jadi petarung ya, Nak?"
Raka tertawa. "Aku belajar naik sepeda, Pak. Jatuh berkali-kali." Bapak memandang Siti. "Berapa kali?"
Siti mengangkat bahu. "Tak terhitung."
Bapak tertawa. "Itu bagus. Berarti kau tak pernah menyerah."
Raka mengangguk bangga. "Aku mau sampai di puncak Tanjakan Samak. Kata Ibu, di sana semua orang harus turun. Tapi aku mau coba."
Bapak terkejut. "Tanjakan Samak? Itu curam sekali. Bahkan Ibu dulu harus turun." "Iya. Tapi aku mau coba."
Bapak memandang istrinya. Siti tersenyum. "Anak kita hebat, Pak."
Bapak mengangguk. "Iya, Bu. Dia hebat."
Malam itu, sebelum tidur, Raka memandangi langit-langit kamar. Di sampingnya, Ina sudah terlelap, bernapas pelan. Ia tersenyum.
Besok ia akan berlatih lagi. Lusa juga. Sampai benar-benar mahir. Sampai bisa ke Tanjakan Samak. Sampai bisa mengayuh seperti ibu.
Dan suatu hari nanti, ia akan sampai di puncak.
No comments:
Post a Comment