BAB 10
Radio dan Kabar dari Jakarta
Tahun 1985
Di ruang guru SDN 5 Manggar, di pojok belakang dekat lemari besi yang pintunya miring, sebuah radio tua merek National diletakkan di atas tumpukan buku bekas. Radio itu sudah sangat tua mungkin lebih tua dari beberapa guru yang mengajar di sana. Catnya kusam, warna coklatnya memudar di sana-sini, memperlihatkan lapisan kayu di bawahnya yang mulai lapuk. Knopnya longgar, sering copot kalau diputar terlalu kencang. Antenanya pernah patah dua kali, dan sekarang disambung dengan lakban hitam yang sudah mengelupas di ujung-ujungnya.
Tapi radio itu masih hidup.
Setiap pagi, sebelum bel masuk, Pak Zainal akan menyalakannya dengan penuh hormat. Ia akan memutar knop pelan-pelan, melewati derau dan desis, mencari siaran berita dari Jakarta. Kadang butuh waktu lama suara hilang timbul, tertutup oleh gangguan cuaca atau jarak. Tapi ketika akhirnya suara penyiar itu terdengar jernih, Pak Zainal akan tersenyum puas, seperti seorang nelayan yang berhasil mendapat ikan setelah seharian melaut.
Hari itu, seperti biasa, Pak Zainal duduk di kursinya dengan radio di samping. Guru-guru lain mulai berdatangan, duduk di kursi masing-masing, menyiapkan buku dan kapur. Pak Zainal memutar knop perlahan. Desis... desis... lalu suara penyiar mulai terdengar, samar-samar, seperti suara dari dunia lain.
"...kebijakan pemerintah tentang harga BBM... stabilitas keamanan tetap terjaga... Presiden Soeharto meninjau proyek pembangunan di Jawa Timur..."
Pak Zainal memasang telinga. Matanya yang sayu tiba-tiba fokus. Ia mendekatkan telinga ke radio, mencoba menangkap setiap kata di tengah derau yang kadang menutupi. Tangannya bergerak-gerak kecil, seolah membantu menangkap suara.
"Harga BBM naik lagi," gumamnya.
Bu Sri, yang sedang menyusun buku di meja, mengangkat kepala. Matanya yang sayu berkedip- kedip. "Naik lagi? Yang bener, Pak?"
"Iya. Dengar sendiri."
Radio itu terus berderak. Suara penyiarnya kadang jelas, kadang hilang tertiup gangguan. Tapi cukup jelas untuk mengetahui bahwa BBM naik. Lagi.
Bu Dina yang masih muda, yang sedang menyisir rambutnya di depan kaca kecil yang retak, ikut nimbrung. "Pak, kenapa BBM naik terus? Tiap tahun naik. Padahal kata orang, Indonesia ini kaya minyak."
Pak Karman, yang sedang membaca koran bekas, menjawab tanpa mengangkat wajah. Suaranya berat, seperti orang yang sudah lelah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. "Kaya minyak, Din. Tapi yang menikmati bukan kita. Kita cuma bisa ngerasain dampaknya."
"Tapi kan rakyat susah."
"Rakyat memang harus susah. Itu sudah biasa."
Bu Mala menegur. "Pak Karman, jangan bicara begitu. Nanti ada yang dengar."
Pak Karman tersenyum. Senyum yang getir, senyum yang sudah puluhan tahun ia pertahankan. "Di sini aman, Bu. Cuma kita."
Radio terus berderak. Kali ini suara yang muncul berbeda. Suara pidato. Entah siapa. Entah tentang apa. Tapi intonasinya tegas, menggebu-gebu, seperti biasa. Kata-kata "pembangunan", "stabilitas", "Pancasila" terdengar samar-samar.
Pak Zainal mematikan radio. "Udah. Nggak jelas."
Dia kembali ke mejanya, membuka koran. Tapi pikirannya masih pada berita tadi. Harga BBM naik. Harga sembako pasti ikut naik. Gaji guru tidak naik. Perhitungan sederhana yang akan membuat hidup lebih berat.
Bu Sinta, guru kesenian yang selalu ceria, masuk dengan langkah tergesa. Di tangannya, ia membawa seikat bunga kertas buatan murid-muridnya kemarin. Bunga-bunga itu warna-warni, merah, kuning, biru, meskipun dari kertas bekas. "Lihat, ini bagus ya!" serunya, memamerkan bunganya pada Bu Dina.
Tapi tak ada yang merespon dengan semangat. Mereka masih memikirkan berita tadi. Wajah- wajah mereka muram, seperti langit sebelum hujan.
Bu Sinta mengernyit. "Kenapa? Kok pada murung?" Bu Dina berbisik. "BBM naik."
"Oh." Bu Sinta duduk, meletakkan bunganya di meja. "Naik lagi?"
Belum sempat ada yang menjawab, Pak Silaban masuk dengan logat Bataknya yang khas. "Horas!" sapanya, seperti biasa. Tapi hari ini tak ada yang membalas horas.
Pak Silaban memandangi wajah-wajah muram itu. "Ada apa?" "BBM naik," jawab Pak Zainal singkat.
Pak Silaban menghela napas. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu duduk dengan lemas. "Di Medan juga begitu. Harga naik semua. Di berita, demo mahasiswa mulai lagi."
Bu Dewi, yang sejak tadi diam membaca Al-Qur'an di pojok, menutup kitabnya. Matanya sayu, tapi suaranya tenang. "Demo? Di mana?"
"Jakarta. Surabaya. Beberapa kota."
Suasana ruang guru yang tadinya hangat, tiba-tiba berubah berat. Udara terasa sesak. Di luar, anak-anak masih berlarian, tertawa, berkejaran. Mereka tak tahu apa-apa tentang BBM, tentang demo, tentang politik. Mereka hanya tahu bahwa pagi ini cerah dan mereka bisa bermain.
Pak Karman meletakkan korannya. "Sudah, sudah. Jangan dibahas terlalu dalam. Kita ini guru. Tugas kita ngajar, bukan berpolitik."
"Tapi Pak," Bu Dina tak bisa diam. Suaranya bergetar. "Masa kita diam aja? Rakyat susah, harga naik, tapi yang di atas..."
"Di atas itu urusan mereka. Kita di bawah." Pak Karman memotong. "Kita di bawah, ngayuh sepeda. Ingat itu."
Pak Zainal mengangguk. "Pak Karman benar. Yang penting kita kerja. Yang penting gaji cair. Yang penting beras di rumah ada."
Pak Trisno, yang sejak tadi hanya diam di pojok, ikut bicara. "Iya. Daripada mikirin yang nggak- nggak, mending olahraga. Jalan-jalan. Lupakan sejenak."
Tapi tak ada yang benar-benar bisa melupakan. Berita itu sudah masuk, merayap ke celah-celah kesadaran mereka, seperti air yang meresap ke tanah kering. Berita itu akan tinggal, akan tumbuh, akan mempengaruhi hari-hari mereka.
Bel berbunyi. Nyaring, memekak. Suaranya menggema di seluruh sekolah, masuk ke ruang guru lewat jendela yang terbuka.
Para guru bangkit, mengambil buku dan kapur. Satu per satu mereka keluar, meninggalkan ruang guru yang sunyi.
Di ruang guru yang kosong, radio tua itu masih menyala. Meski dimatikan, lampu indikatornya masih berkedip-kedip pelan, seperti jantung yang masih berdetak. Di balik diamnya, ia menyimpan ribuan suara berita, pidato, lagu, dan kabar-kabar dari Jakarta yang tak pernah sampai ke telinga anak-anak di luar sana.
Pak Zainal, yang paling akhir keluar, berhenti sebentar di depan pintu. Ia menatap radio itu lama. Matanya menerawang ke masa lalu, ke masa depan, ke sesuatu yang tak terlihat.
"Semoga kita semua baik-baik saja," bisiknya. Lalu ia melangkah keluar, menuju kelasnya.
Di luar, matahari mulai naik. Anak-anak berlarian. Guru-guru berjalan menuju kelas masing- masing. Dan radio tua itu tetap diam, menunggu, setia.
Siap menyiarkan kabar apa pun yang akan datang.
No comments:
Post a Comment