BAB 35
Ina dan Si Merah
Tahun 2001
Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian
Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sudut rumah.
Kadang debu menempel di sadelnya, kadang daun jambu jatuh di jeruji rodanya. Sepeda itu tampak kesepian, seperti kehilangan teman main. Tapi di matanya, sepeda itu tetap setia menunggu.
Ina tak membiarkannya lama-lama sendiri.
"Ina mau belajar naik Si Merah," katanya suatu sore pada ibu.
Siti yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah menoleh. Ia tersenyum, tapi ragu.
"Mau? Tapi sepedanya besar, Ina. Berat. Raka aja dulu jatuh berkali-kali."
"Tak apa-apa. Raka dulu juga belajar pake ini. Aku pasti bisa."
Siti memandangi anaknya. Ina usianya baru enam belas tahun masih kecil, masih ringan. Tapi matanya berbinar, penuh tekad. Tekad yang sama seperti Raka dulu.
Siti ingat, Raka dulu juga seperti itu. Matanya berbinar, penuh tekad, sebelum akhirnya jatuh bangun berkali-kali. Tapi ia tak pernah menyerah.
"Ayo," kata Siti akhirnya. "Ibu pegangin."
Sub-bab 2: Jatuh, Bangun, Tertawa
Ina memegang stang Si Merah. Tangannya kecil, hampir tak sampai. Tingginya tak seberapa ia harus berjingkat untuk mencapai pedal. Tapi ia tak gentar. Ia melompat-lompat kecil, mencoba meraih ketinggian yang tepat.
"Ina, pegang stang erat-erat. Lihat ke depan, jangan lihat roda."
Ina mengangguk. Lalu ia mengayuh.
Satu kayuhan. Dua kayuhan. Si Merah bergerak, oleng ke kiri-kanan seperti perahu kecil di tengah badai. Ina menjerit campur tawa. Siti berlari di sampingnya, siap menangkap. Tangannya terulur, siap menyelamatkan.
"Bu, aku bisa! Lihat!"
"Tapi oleng, Nak! Kuatkan stang!"
Tak sempat Ina membetulkan posisi, Si Merah oleng terlalu jauh. Ina jatuh. Lututnya lecet, merah mengelupas. Sikunya berdarah, meninggalkan garis-garis merah tipis. Debu menempel di lukanya.
Tapi ia tak menangis. Ia malah tertawa.
"Aduh, sakit juga, ya. Raka dulu sering begini?"
"Sering. Tapi dia tak pernah menyerah."
"Aku juga tak akan menyerah."
Ina bangkit, memegang stang lagi, dan mencoba lagi.
Jatuh. Bangun. Jatuh lagi. Bangun lagi.
Sub-bab 3: Pak Karman Tersenyum
Hari-hari berikutnya, Ina terus berlatih.
Setiap sore, sepulang sekolah, ia langsung menuju Si Merah. Latihan, jatuh, bangun, latihan lagi.
Kadang ia pulang dengan luka baru di lutut. Kadang sikunya berdarah. Tapi ia tak pernah mengeluh.
Pak Karman, yang kebetulan lewat suatu sore, berhenti untuk melihat. Ia menuntun sepeda tuanya, lalu berdiri di pinggir halaman.
"Wah, Ina belajar naik? Hebat!"
Ina tersenyum bangga, meski lututnya masih perih.
"Iya, Pak. Aku harus bisa, biar bisa ke mana-mana kayak Raka."
"Seperti kakakmu dulu. Dia juga belajar naik sepeda ini. Jatuh bangun, tapi akhirnya bisa."
"Raka dulu suka jatuh?"
Pak Karman tertawa. "Sering. Bibirnya pernah jontor, kakinya pernah masuk jeruji. Tapi dia nggak pernah menyerah. Itu yang penting."
"Aku juga nggak akan menyerah."
Pak Karman tersenyum. Ia melihat Ina, seperti melihat Raka dulu. Roda kehidupan terus berputar. Yang satu pergi, yang lain datang. Tapi sepeda itu tetap setia.
Sub-bab 4: Akhirnya Bisa
Suatu sore, setelah dua minggu berlatih, Ina akhirnya bisa.
Ia mengayuh Si Merah keliling halaman, sekali putaran, dua putaran, tiga putaran, tanpa jatuh. Sepeda itu melaju mantap, meninggalkan jejak-jejak di tanah merah. Ina melenggang dengan percaya diri, rambutnya terkibas angin.
Siti yang melihat dari dapur berlari keluar, matanya berkaca-kaca. Sendok di tangannya jatuh, tak peduli.
"Ina! Kamu bisa!"
Ina mengerem di depan ibu. Napasnya terengah, wajahnya merah, keringat membasahi bajunya. Tapi matanya bersinar.
"Aku bisa, Bu! Aku bisa!"
Siti memeluk anaknya. Tubuh kecil itu hangat, berkeringat, tapi penuh kebahagiaan.
"Ibu bangga."
Sub-bab 5: Surat untuk Raka
Malam harinya, Ina menulis surat untuk Raka.
Pensilnya bergerak lambat, menorehkan kata-kata di atas kertas buram.
"Kaka,
Aku bisa naik Si Merah! Jatuh berkali-kali, tapi akhirnya bisa. Sekarang aku bisa ke warung Mak Inang sendiri. Beli gula, beli kopi, beli apa saja.
Aku kangen Kaka. Cepet pulang, ya. Nanti kita boncengan. Aku yang kayuh, Kaka yang duduk di boncengan.
Ina."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke amplop. Besok akan dikirim.
Sub-bab 6: Ke Warung Mak Inang
Beberapa minggu kemudian, Ina pamit pada ibu.
"Bu, aku mau ke warung Mak Inang. Beli gula."
"Naik apa?"
Ina tersenyum lebar. "Naik Si Merah!"
Siti mengangguk, bangga. "Hati-hati, ya."
Ina mengayuh Si Merah dengan hati-hati. Sepanjang jalan, ia ingat kakaknya. "Raka dulu lewat sini," batinnya. "Raka dulu boncengan Ibu."
Di warung Mak Inang, ia disambut Mak Inang yang tersenyum. Warung itu masih sama papan lapuk, meja kayu, kursi bambu.
"Wah, Ina! Naik Si Merah sendiri? Hebat!"
"Iya, Mak. Aku mau beli gula."
"Ini, Nak. Ambil."
Ina membayar, lalu duduk sebentar di warung. Di dinding, foto-foto lama masih menempel. Ada foto Raka kecil, memegang ikan kerisi. Ada foto para guru di Pantai Burung Mandi. Ada foto ibunya bersama Pak Karman, tertawa lebar.
"Ina, kangen kakakmu?" tanya Mak Inang.
"Iya, Mak. Kapan ya dia pulang?"
"Lain kali, Nak. Lain kali."
Ina mengangguk. Ia memandangi foto Raka sekali lagi, lalu bangkit dan mengayuh Si Merah pulang.
Di jalan, angin menerpa rambutnya. Ia merasa seperti terbang. Seperti Raka dulu.
Refleksi Penutup
Si Merah telah menemani dua generasi. Pertama Raka, yang belajar naik dengan jatuh bangun di halaman yang sama. Kini Ina, yang mewarisi tekad yang sama, semangat yang sama, sepeda yang sama.
Roda kehidupan terus berputar. Yang satu pergi merantau, yang lain datang mengisi kekosongan. Tapi sepeda itu tetap setia. Menunggu. Melayani. Menjadi saksi bisu perjuangan anak-anak Siti.
Ina kini bisa pergi ke warung Mak Inang sendiri. Bisa membeli gula, membeli kopi, membantu ibu. Dan suatu hari nanti, ketika Raka pulang, mereka akan boncengan. Ina yang mengayuh, Raka di belakang, tertawa bersama.
Sepeda yang sama. Halaman yang sama. Tapi cerita yang terus berlanjut.
Seperti roda yang terus berputar.
Pelan, tapi pasti.