Tuesday, April 7, 2026

BAB 32

Telepon Pertama

Tahun 2001

Sub-bab 1: Rindu yang Tak Tertahankan

Setelah wisuda, Raka kembali ke Jakarta. Lina, istrinya, sudah menunggu di kosan. Tapi ada yang berbeda dalam diri Raka. Ia lebih sering diam, lebih sering memandangi foto-foto lama.

"Ra, kenapa?" tanya Lina suatu malam.

Raka menghela napas. "Lin, aku pengen Bapak dan Ibu punya telepon di rumah."

Lina mengernyit. "Telepon? Di Manggar?"

"Iya. Biar aku bisa dengar suara mereka. Biar aku bisa kabaran setiap saat."

Lina duduk di sampingnya. "Mahal, Ra. Pasang telepon rumah aja bisa jutaan."

"Aku tahu. Tapi aku sudah mikir. Aku bisa nabung. Kerja paruh waktu."

Lina memandang suaminya. Di matanya, ada tekad yang bulat.

"Kamu serius?"

"Serius, Lin. Aku kangen suara Ibu. Kalau tulis surat, seminggu baru sampai. Telepon umum antre panjang, kadang putus-putus. Aku ingin Ibu dan Bapak punya telepon sendiri. Biar aku bisa telepon kapan saja."

Lina tersenyum. "Kalau kamu serius, aku dukung."

Sub-bab 2: Nabung untuk Telepon

Enam bulan kemudian, tabungan Raka cukup.

Ia menelepon kantor telepon di Manggar.

"Halo, Pak. Saya mau pasang telepon di rumah orang tua saya. Di Manggar."

"Alamat?"

"Jalan Tanjakan Samak, RT 03, rumah Bu Guru Siti."

Petugas di seberang mencatat. "Nama pemilik?"

"Siti binti Abdullah."

"Biaya pasang Rp 1,5 juta, Bang. Belum termasuk pulsa."

Raka menggigit bibir. Tabungannya pas-pasan. Tapi ia sudah bulat.

"Iya, Pak. Saya setuju. Kapan bisa dipasang?"

"Minggu depan, Bang. Teknisi akan ke sana."

Minggu itu, Raka tak bisa diam. Ia bolak-balik menelepon tetangga, menitipkan pesan pada Ibu.

"Bu, nanti ada teknisi datang. Pasang telepon. Ibu terima, ya."

Ibu di seberang bingung. "Telepon? Buat apa, Ra? Mahal."

"Buat Ibu. Biar aku bisa telepon tiap minggu. Nggak perlu nunggu surat lama."

Ibu tertawa. Tawanya renyah, seperti dulu.

"Kamu ini... boros."

"Buat Ibu, nggak boros, Bu."

Sub-bab 3: Pemasangan

Hari pemasangan tiba.

Dua orang teknisi dari Telkom datang ke rumah Ibu. Mereka membawa kabel gulungan besar, tang, dan peralatan lainnya. Ibu keluar, menyambut mereka dengan senyum.

"Silakan, Pak. Maaf rumahnya sederhana."

"Wajar, Bu. Kami biasa."

Mereka memasang kabel dari tiang telepon di pinggir jalan, masuk ke rumah, lalu memasang kotak kecil berwarna krem di dinding ruang tengah.

Ibu memperhatikan dengan takjub.

"Ini bisa buat telepon ke Jakarta, Pak?"

"Bisa, Bu. Seluruh Indonesia bahkan dunia."

Ibu tersenyum lebar.

Sub-bab 4: Dering Pertama

Sore harinya, telepon berdering untuk pertama kalinya.

Kring... kring... kring...

Ibu terkejut. Ia memandangi benda hitam di dinding itu. Benda itu berdering lagi.

Kring... kring... kring...

Bapak keluar dari dapur. "Bu, itu telepon?"

"I-iya, Pak."

"Diangkat, Bu."

Ibu mendekat, ragu. Ia mengangkat gagang telepon, menempelkannya ke telinga.

"Halo?"

"Halo, Bu? Bu, ini aku. Raka."

Suara itu terdengar jelas. Jelas sekali. Seperti Raka ada di sampingnya.

Ibu tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

"Ra... Nak... Ibu dengar suara kamu."

"Iya, Bu. Aku di Jakarta. Tapi suaraku sampai ke sana."

"Jelas, Ra. Jelas sekali."

Mereka ngobrol lama. Tentang kesehatan, tentang cuaca, tentang Ina yang rajin sekolah, tentang Bapak yang masih setia minum kopi di teras. Ibu tertawa, Bapak ikut nimbrung di gagang lain.

"Pak, ini canggih banget. Bapak bisa dengar suara Raka juga."

Bapak mengangguk, meski Ibu tak melihat. "Iya, Bu. Canggih."

Sub-bab 5: Malam yang Hangat

Malam harinya, setelah telepon berakhir, Ibu duduk di teras. Bapak di sampingnya. Mereka memandangi bintang-bintang.

"Pak, dulu kita cuma bisa kirim surat. Nunggu berhari-hari, kadang berminggu-minggu."

"Iya, Bu."

"Sekarang? Tinggal angkat telepon, langsung dengar suaranya."

Bapak tersenyum. "Zaman berubah, Bu."

"Iya. Tapi satu hal nggak berubah."

"Apa, Bu?"

Ibu memandang suaminya. Matanya berbinar.

"Cinta. Cinta anak kita pada kita."

Bapak tertawa kecil. "Iya, Bu. Itu nggak pernah berubah."

Sub-bab 6: Di Jakarta

Di Jakarta, Raka juga duduk termenung.

Lina mendekat, memeluknya dari belakang.

"Ra, gimana?"

Raka tersenyum. "Ibu kaget. Tapi senang."

"Pasti."

"Lin, dengar suara Ibu... rasanya kayak Ibu di sini. Kayak nggak ada jarak."

Lina mengusap punggungnya. "Itu karena cinta, Ra. Cinta nggak kenal jarak."

Raka mengangguk. Ia memandangi telepon di samping tempat tidurnya.

"Bu, mulai sekarang aku bisa dengar suara Ibu kapan saja. Nggak perlu nunggu berhari-hari. Ini hadiah wisudaku untuk Ibu."

Ia tersenyum. "Terima kasih sudah jadi Ibu, Bu. Terima kasih sudah selalu ada."

Sub-bab 7: Setiap Minggu

Keesokan harinya, Raka menelepon lagi. Cuma sebentar.

"Bu, ini cuma mau dengar suara Ibu."

Ibu tertawa. "Kamu ini, Ra. Boros."

"Nggak apa-apa, Bu. Buat Ibu."

"Ya udah, Ibu doain kamu. Jaga diri."

"Iya, Bu. Ibu juga."

Telepon berakhir. Tapi kehangatannya tak pernah berakhir.

Sejak malam itu, telepon menjadi benda paling berharga di rumah Ibu. Setiap minggu, Raka menelepon. Setiap minggu, Ibu menunggu dering itu.

Bapak kadang bercanda, "Bu, ini anak lebih sayang telepon daripada Bapak."

Ibu tertawa. "Dia sayang kita berdua, Pak. Cuma Ibu yang lebih cantik."

Mereka tertawa bersama. Tawa yang sama seperti dulu, saat masih muda, saat hidup lebih sederhana.

Refleksi Penutup

Jarak tak lagi berarti.

Suara bisa menyeberangi lautan dan gunung. Kabel tipis yang membentang dari tiang ke tiang, dari kota ke kampung, dari Jakarta ke Manggar membawa getaran suara, membawa detak jantung, membawa cinta.

Raka tak bisa memeluk ibunya setiap hari. Tapi ia bisa mendengar suaranya. Mendengar tawanya. Mendengar napasnya.

Dan bagi Siti, itu sudah cukup.

Cukup untuk meyakinkan bahwa anaknya baik-baik saja. Cukup untuk mengurangi kerinduan yang kadang menyiksa. Cukup untuk membuat rumah terasa tak terlalu kosong.

Telepon. Benda kecil berwarna krem di dinding ruang tengah.

Tapi bagi keluarga ini, telepon adalah keajaiban.

Jembatan yang menghubungkan dua dunia.

Dan cinta cinta selalu menemukan jalannya.

No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...