BAB 31
Surat dari Raka
Tahun 2001
Sub-bab 1: Malam di Kos
Di Jakarta, Raka menulis surat untuk keluarganya.
Ini kebiasaan yang ia lakukan setiap bulan, sejak pertama kali ia merantau setahun lalu. Di kamar kosnya yang sempit, dengan lampu 5 watt yang remang-remang, ia duduk di lantai beralaskan tikar, mencoret-coret di atas kertas buram.
Di luar, suara kota masih ramai meski sudah larut. Klakson, deru mesin, teriakan pedagang kaki lima semua berbaur menjadi satu, menciptakan simfoni yang tak pernah tidur. Tapi di dalam kamar ini, hanya ada suara pena yang menggores kertas dan sesekali napas panjang Raka.
Ia menulis perlahan. Setiap kata dipilih, setiap kalimat dirangkai. Bukan karena ia ingin suratnya indah, tapi karena ia ingin keluarganya di kampung merasakan kehangatan meski jarak memisahkan.
"Ibu, Pak, Ina,
Kabar baik di sini. Kuliah lancar. Aku dapat nilai bagus semester ini. Dosenku bilang, aku punya potensi. Katanya, kalau rajin, bisa dapat beasiswa.
Aku kangen kalian. Kangen masakan Ibu. Kangen ngobrol sama Pak. Kangen main sama Ina meski sekarang Ina sudah besar, mungkin udah nggak mau main sama kakaknya.
Pak, aku ingat cerita Bapak dulu. Tentang perjuangan Bapak jadi guru. Tentang tambang, tentang jalan kaki lima belas kilometer, tentang buku pinjaman yang dibaca di malam hari. Itu yang bikin aku semangat. Kalau Bapak bisa lewati semua, aku pasti bisa.
Di sini keras, Pak. Jakarta keras. Tapi aku ingat kata Ibu: 'Kebaikan tak perlu dibayar. Cuma perlu diteruskan.' Aku pegang itu.
Doakan aku, ya.
Raka."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke amplop, menulis alamat di Manggar dengan hati-hati. Besok pagi, sebelum berangkat kuliah, ia akan mampir ke kantor pos.
Sub-bab 2: Pak Pos Bersepeda
Tiga hari kemudian, surat itu tiba di Manggar.
Pak Pos bersepeda tua, dengan tas kulit di samping, berhenti di depan rumah Siti. Ia berseru, "Bu Siti! Surat!"
Siti berlari keluar, mengambil amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. Sudah sebulan sejak surat terakhir. Setiap surat dari Raka adalah harta karun yang dinanti-nanti.
Ia duduk di teras, membuka amplop perlahan. Matanya membaca baris demi baris, bergerak cepat, lalu berhenti di beberapa kalimat yang membuatnya tersenyum.
Bapak keluar, duduk di sampingnya.
"Dari Raka?"
"Iya, Pak."
"Bacain."
Siti membacakan dengan suara lantang. Setiap kata, setiap kalimat, diucapkan dengan penuh perasaan. Ketika sampai di bagian tentang Bapak, suaranya bergetar.
"Pak, aku ingat cerita Bapak dulu. Tentang perjuangan Bapak jadi guru. Tentang tambang, tentang jalan kaki lima belas kilometer, tentang buku pinjaman yang dibaca di malam hari. Itu yang bikin aku semangat. Kalau Bapak bisa lewati semua, aku pasti bisa."
Bapak menunduk. Tangannya yang kapalan mengusap mata. Ia tak ingin menangis di depan istri, tapi air matanya jatuh juga.
"Dia ingat," bisiknya. "Dia ingat cerita itu."
Siti memegang tangan suaminya. "Iya, Pak. Dia anak baik."
Sub-bab 3: Bapak Membalas
Malam harinya, Bapak duduk di meja kayu.
Ia mengambil kertas dan pena, lalu mulai menulis. Tangannya kaku, tulisannya tidak rapi tapi setiap kata keluar dari hati.
"Raka anak Bapak,
Bapak terima suratmu. Bapak bangga. Bapak nangis bacanya.
Ingat, Nak. Perjuangan itu nggak pernah sia-sia. Bapak dulu juga begitu. Teruslah belajar. Teruslah berusaha.
Kami di sini selalu doakan kamu. Ibu tiap malam baca doa buat kamu. Ina juga, meski dia nggak ngaku.
Jaga diri, Nak. Jangan lupa makan. Jangan lupa ibadah.
Bapak."
Keesokan harinya, surat itu dikirim. Perjalanan tiga hari, melintasi laut dan darat, sampai ke tangan Raka di Jakarta.
Sub-bab 4: Siklus Surat
Dan siklus itu terus berulang.
Surat bolak-balik, menjadi jembatan antara dua dunia kampung yang tenang dan kota yang keras. Menjadi pengingat bahwa di mana pun mereka berada, hati mereka tetap terhubung.
Setiap kali amplop putih itu tiba, Raka merasa seperti menerima pelukan dari jauh. Ia bisa membaca kegelisahan ibu di antara baris-baris kalimat yang ditulis dengan pena tumpul. Ia bisa merasakan getaran tangan Bapak yang sudah tua dan kaku.
Setiap kali amplop itu tiba, Siti merasa anaknya masih dekat. Ia bisa membayangkan Raka duduk di lantai kos yang sempit, dengan lampu 5 watt yang berkedip-kedip, menulis dengan hati-hati agar ibunya tak terlalu khawatir.
Refleksi Penutup
Surat. Benda sederhana yang kini mulai dilupakan orang. Kertas dan tinta. Amplop dan perangko. Antrean di kantor pos. Perjalanan tiga hari melewati laut dan darat.
Tapi bagi Siti dan Raka, surat adalah nyawa. Setiap kata adalah detak jantung. Setiap kalimat adalah pelukan dari jauh.
Raka tak bisa pulang setiap minggu. Tapi suratnya bisa. Suratnya akan tiba, meski lambat, meski kertasnya kadang kusut karena perjalanan panjang.
Dan ketika Siti membuka amplop itu, ketika matanya membaca baris pertama, untuk sesaat, jarak tak ada. Raka ada di sampingnya. Bercerita. Tersenyum. Seperti dulu, saat masih kecil, duduk di pangkuannya sambil memegang mobil-mobilan kayu.
Surat. Benda sederhana.
Tapi penuh cinta.
No comments:
Post a Comment