BAB 30
Raka Kuliah di Jakarta
Tahun 2000
Sub-bab 1: Selamat Tinggal Manggar
Tahun 2000. Dua tahun setelah reformasi, Raka lulus SMA dan merantau ke Jakarta.
Keputusan itu tak mudah. Ibu menangis ketika Raka pamit. Bapak diam, tapi matanya berkaca-kaca. Ina memeluk kakaknya erat-erat, tak mau lepas. Bahkan Si Merah, yang terparkir di halaman, seolah ikut bersedih. Daun-daun jambu berguguran, seperti ikut merasakan kepergian.
"Ra, jaga diri," pesan Ibu. "Makan yang cukup. Jangan lupa ibadah. Telepon kalau ada apa-apa."
"Iya, Bu. Aku janji."
"Uang di dompet cukup?"
"Cukup, Bu."
"Cukup benar?"
Raka tertawa. "Cukup, Bu."
Ia naik ke dalam bus. Dari jendela, ia melihat ibu dan Ina melambai. Air mata ibu jatuh, tak tertahan. Ina menyeka matanya dengan lengan baju. Raka ingin turun, memeluk ibu sekali lagi.
Tapi bus sudah bergerak.
Selamat tinggal, Manggar. Selamat tinggal, Si Merah. Selamat tinggal, masa kecil.
Sub-bab 2: Jakarta, Kota Raksasa
Jakarta begitu besar. Begitu ramai. Begitu cepat.
Raka tinggal di kos sempit di Rawamangun. Kamar dua kali tiga meter. Kasur tipis yang langsung menyentuh lantai. Meja belajar dari kayu lapis yang goyang kalau ditulis. Jendela menghadap tembok tetangga yang hanya berjarak setengah meter. Di kamar itu, matahari tak pernah masuk. Lampu harus menyala sepanjang hari.
Awalnya, ia terkejut. Jakarta begitu berbeda dengan Manggar.
Di Manggar, orang saling sapa. Di Jakarta, orang berjalan cepat, tatapan lurus ke depan, tak peduli kanan-kiri.
Di Manggar, suara ayam berkokok di pagi hari. Di Jakarta, suara klakson dan mesin yang membangunkan.
Malam pertama, ia tak bisa tidur. Bukan karena bising ia sudah lelah. Tapi karena rindu. Rindu yang tiba-tiba menyerang, tak kenal waktu.
Ia meraih dompet, mengeluarkan foto kecil di dalamnya. Foto Ibu, Raka kecil, dan Si Merah. Diambil saat tamasya ke Pantai Burung Mandi, tahun 1989. Warna fotonya sudah agak pudar, tapi senyum ibu masih jelas terlihat.
Raka tersenyum, lalu matanya berkaca-kaca.
Sub-bab 3: Telepon Umum
Telepon umum di ujung gang menjadi sahabat barunya.
Setiap minggu, ia antre bersama penghuni kos lain untuk menelepon kampung. Telepon itu merah, dengan kabel panjang dan lubang koin di atasnya.
"Ra, gimana kabar?" suara ibu di seberang.
"Baik, Bu. Kosan enak. Teman-teman baik."
"Jangan bohong, Nak. Ibu tahu kamu pasti kangen."
Raka tertawa. "Kangen, Bu. Kangen Si Merah. Kangen naik sepeda keliling kampung."
"Di Jakarta nggak ada sepeda?"
"Ada, Bu. Tapi naik sepeda di sini? Nyawa taruhannya. Motor pada ugal-ugalan."
Ibu tertawa di ujung sana. "Hati-hati, Nak. Jangan lupa ibadah. Jangan lupa makan."
"Iya, Bu."
Telepon berakhir. Raka berjalan kembali ke kos, melewati gang sempit yang gelap. Di kamar, ia duduk termenung, memandangi foto ibu.
Sub-bab 4: Dua Tahun Pertama
Dua tahun pertama berat. Sangat berat.
Jakarta mengajarkan Raka banyak hal. Tentang kerasnya hidup. Tentang ketimpangan yang lebih parah dari Manggar. Pencakar langit di samping permukiman kumuh. Mobil mewah di jalan, pengemis di lampu merah. Mal mewah di sebelah rel kereta, anak-anak jalanan tidur di kolong jembatan.
Ia juga belajar tentang kegagalan.
Semester tiga, nilai-nilainya jeblok. Ia hampir DO. Semester empat, ia jatuh cinta pada perempuan Jakarta yang kemudian meninggalkannya. Semester lima, ia kehilangan beasiswa parsialnya karena IP-nya turun.
Malam-malam di kos terasa panjang. Kadang ia menangis, membayangkan ibu di kampung yang selalu tersenyum meski lelah. Membayangkan Bapak yang tak pernah mengeluh meski gaji pas-pasan. Membayangkan Ina yang masih kecil dan harus sekolah.
Ia merasa gagal. Gagal sebagai anak. Gagal sebagai mahasiswa. Gagal sebagai manusia.
Sub-bab 5: Pengemis di Lampu Merah
Suatu malam, dalam perjalanan pulang dari kampus, Raka melihat seorang pengemis tua di lampu merah.
Laki-laki, mungkin enam puluh tahun, duduk di trotoar dengan tangan mengulur. Matanya sayu, pakaiannya lusuh. Di sampingnya, sebuah topi kusam berisi beberapa keping uang receh.
Raka ingin lewat saja. Tapi sesuatu menghentikannya.
Ia teringat ibunya. Teringat Pak Mantri. Teringat Bang Lahat. Teringat Pak Thamrin.
Ia menghentikan langkah. Lalu duduk di samping pengemis itu.
"Bapak dari mana?"
Pengemis itu terkejut. Mungkin tak biasa ditanya seperti itu. Mungkin tak pernah ada yang duduk di sampingnya, apalagi bertanya.
"Dari Jawa, Nak. Anak saya tinggal di sini, tapi jarang jenguk. Sudah setahun tak kirim kabar."
"Bapak tinggal di mana?"
"Di kolong jembatan. Dekat sini. Ramai juga."
Raka mengeluarkan uang lima ribu dari sakunya. Uang yang seharusnya untuk makan malam.
"Ini, Pak. Buat makan."
Pengemis itu menerima dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Nak. Tuhan berkati."
"Bapak, jangan menyerah."
Pengemis itu tersenyum. Senyum yang sama seperti senyum Pak Udin dulu. Lelah, tapi tulus.
Raka melanjutkan perjalanan. Ia memandang langit Jakarta yang kelabu, tak berbintang. Tapi hatinya sedikit hangat.
Dalam hati, ia berbisik:
"Ibu, di Jakarta aku nolong orang. Seperti dulu Ibu ajarin: tolong-menolong itu penting."
Sub-bab 6: Surat untuk Ibu
Malam itu, sebelum tidur, ia menulis surat untuk ibu. Bukan surat panjang, hanya beberapa baris. Ditulis di kertas buram dengan pena yang tintanya mulai menipis.
"Bu,
Di Jakarta aku belajar banyak hal. Tentang kerasnya hidup, tentang arti perjuangan. Tapi yang paling penting, aku belajar bahwa Ibu benar. Kebaikan itu sederhana. Cukup dengan berhenti, bertanya, dan memberi.
Aku kangen, Bu. Kangen rumah. Kangen Si Merah. Kangen warung Mak Inang.
Doakan aku, Bu.
Raka."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke amplop. Besok akan ia kirim.
Ia mematikan lampu. Di kamar sempit itu, ia bermimpi tentang Tanjakan Samak. Tentang warung Mak Inang. Tentang suara ibu yang memanggil.
"Raka, ayo pulang."
Refleksi Penutup
Raka belajar di Jakarta bahwa merantau bukan hanya tentang menuntut ilmu. Tapi tentang belajar menjadi dewasa. Tentang menghadapi kegagalan. Tentang tetap tegar meski jatuh berkali-kali.
Ia juga belajar bahwa kebaikan tidak mengenal tempat. Bahwa di kota sebesar Jakarta sekalipun, masih ada orang yang membutuhkan uluran tangan. Dan bahwa ia bisa menjadi bagian dari kebaikan itu.
Seperti ibunya dulu.
Seperti yang diajarkan sejak kecil.
Ia mungkin gagal di beberapa ujian. Mungkin ditinggal kekasih. Mungkin kehilangan beasiswa. Tapi ia tak akan gagal menjadi manusia baik.
Itu janjinya pada ibu.
Pada Si Merah.
Pada Manggar.
No comments:
Post a Comment