BAB 33
Surat dari Ibu
Tahun 2000-2004
Sub-bab 1: Malam di Meja Kayu
Di Manggar, Siti juga menulis surat.
Setiap minggu, setelah mengajar, setelah membereskan rumah, setelah memastikan Ina tidur, ia duduk di meja kayu dengan secarik kertas buram dan pena yang tintanya mulai menipis. Lampu minyak di sampingnya berkedip-kedip, menciptakan bayang-bayang di dinding papan.
Ia menulis perlahan. Setiap kata dipilih, setiap kalimat dirangkai. Bukan karena ia ingin suratnya indah, tapi karena ia ingin Raka merasakan kehangatan kampung halaman.
"Raka anak Ibu,
Ibu terima suratmu. Ibu senang kamu baik-baik saja. Di sini, Ibu juga baik. Si Merah masih setia. Tiap pagi Ibu ke sekolah naik dia. Kadang Ibu ajak ngobrol, 'Merah, ayo kita jemput Raka.' Dia diam saja, tapi Ibu tahu dia dengar.
Pak Karman masih sehat. Warung Mak Inang masih buka. Tapi Mak Inang sudah tua, jalannya lambat. Kadang Ibu bantu angkat kopi kalau ke sana. Dia sering tanya kabarmu. 'Raka gimana? Kapan pulang?' Selalu begitu.
Ina rajin sekolah. Nilainya bagus. Dia bilang mau jadi dokter, biar bisa obati orang-orang di kampung. Ibu bilang, 'Kuliah dulu yang bener.' Dia mengangguk, tapi Ibu tahu dia serius.
Bapak juga baik. Tapi sering diam. Ibu tahu, dia kangen kamu. Kadang malam-malam dia duduk di teras, memandangi Si Merah. Mungkin dia ingat waktu kamu kecil, belajar naik sepeda.
Ra, Ibu titip: jaga diri. Makan yang cukup. Jangan lupa ibadah. Kalau rindu kampung, ingat tanjakan Samak. Ingat warung Mak Inang. Ingat Ibu selalu doakan kamu.
Ibu."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke amplop, menulis alamat kos Raka di Rawamangun. Besok pagi, sebelum berangkat mengajar, ia akan mampir ke kantor pos.
Sub-bab 2: Surat-surat Penolong
Di Jakarta, surat-surat itu menjadi penolong Raka.
Setiap kali ia putus asa, setiap kali ia hampir menyerah, amplop putih dengan tulisan tangan ibu akan tiba. Ia membacanya berulang-ulang, sampai hafal di luar kepala.
Suatu malam, setelah nilai ujiannya buruk lagi, ia duduk di lantai kos, memegang surat terakhir dari ibu. Ia membaca, lalu membaca lagi, lalu membaca sekali lagi.
Air matanya jatuh.
Bukan karena sedih. Tapi karena malu. Ibu di kampung, dengan segala keterbatasannya, masih tersenyum. Ibu masih semangat. Ibu masih percaya padanya.
Sementara ia di sini, di Jakarta, dengan fasilitas lebih baik, justru mudah menyerah.
Ia mengambil kertas, mulai menulis balasan.
"Bu,
Maaf kalau suratku kali ini pendek. Aku lagi sibuk banget. Tapi aku baik-baik saja. Janji.
Bu, aku ingat waktu kecil. Ibu antar aku sekolah naik Si Merah. Aku di boncengan, pegang erat pinggang Ibu. Kadang aku tidur, kepala nyender di punggung Ibu. Hangat.
Di sini dingin, Bu. Kosan sempit, tembok sebelah cuma setengah meter. Tapi aku punya foto Ibu. Itu penghangat.
Doakan aku, Bu. Aku akan buat Ibu bangga.
Raka."
Sub-bab 3: Kotak Kayu Penuh Kenangan
Surat-surat itu bolak-balik selama empat tahun.
Siti menyimpan semua surat Raka dalam sebuah kotak kayu. Kadang, di malam hari, ia membuka kotak itu, membaca surat-surat lama, dan tersenyum sendiri.
"Baca apa, Bu?" tanya Ina suatu malam.
"Surat kakakmu."
Ina mendekat, ikut membaca. "Kaka nulis bagus, ya."
"Iya. Dia anak baik."
"Bu, kaka kapan pulang?"
"Nanti, Nak. Nanti kalau libur."
Ina mengangguk. "Aku kangen Kaka."
"Ibu juga, Nak. Ibu juga."
Refleksi Penutup
Empat tahun. Empat puluh delapan bulan. Dua ratus delapan minggu.
Setiap minggu, Siti duduk di meja kayu dengan lampu minyak yang berkedip. Setiap minggu, ia menulis tentang hal-hal kecil: tentang ayam yang bertelur, tentang hujan yang tak kunjung reda, tentang Ina yang naik kelas, tentang Bapak yang pulang dengan wajah lelah.
Setiap minggu, ia menyelipkan doa di sela-sela kalimat. Doa agar Raka sehat. Doa agar Raka semangat. Doa agar Raka tak lupa jalan pulang.
Dan Raka? Raka membaca surat-surat itu berulang kali. Menghafal setiap kata. Menyimpan setiap lembar kertas dalam kotak kayu yang sama pindahan dari ibu, yang ia bawa ke Jakarta.
Kotak itu sekarang ada di kamar kosnya. Di samping tempat tidur. Dalam jangkauan tangan.
Jika malam terasa terlalu dingin, jika kegagalan terasa terlalu berat, jika rindu terasa terlalu dalam ia membuka kotak itu. Membaca satu surat. Lalu tersenyum.
Karena di sana, dalam goresan pena yang kadang putus-putus karena tinta menipis, ibunya masih bicara. Masih menyapa. Masih menguatkan.
Seperti dulu. Seperti selalu.
No comments:
Post a Comment