Tuesday, April 7, 2026

BAB 34

Handphone Pertama

Tahun 2003

Sub-bab 1: Toko Elektronik di Glodok

Tahun 2003. Raka sudah tiga tahun di Jakarta.

Di sela-sela kesibukan kuliahnya, ia bekerja paruh waktu di sebuah toko elektronik di kawasan Glodok. Toko itu menjual segala macam barang radio, televisi, kaset, dan yang paling baru: handphone.

Handphone. Kata itu masih asing di telinga kebanyakan orang. Benda kecil dengan antena pendek, layar hijau monokrom, dan tombol-tombol kecil yang harus ditekan dengan hati-hati. Harganya selangit bisa mencapai jutaan rupiah, setara dengan gaji dua bulan seorang PNS. Orang-orang menyebutnya telepon genggam, karena bisa digenggam dan dibawa ke mana-mana.

Tapi peminatnya banyak. Orang-orang kaya, pengusaha, pejabat mereka rela antre, rela membayar mahal, demi sebuah handphone.

Raka memandangi handphone-handphone itu dari balik etalase. Kaca etalase itu bening, memantulkan bayangannya sendiri. Nokia 3310. Yang paling populer. Kuat, tahan banting, baterainya bisa bertahan berhari-hari. Warnanya hitam, dengan layar kecil dan game Snake yang membuat orang betah berjam-jam. Di sampingnya, ada juga merek lain Siemens, Ericsson, Motorola tapi Nokia tetap yang paling dicari.

Sub-bab 2: Bonus untuk Ibu

Suatu hari, setelah mendapat bonus dari bos, Raka memutuskan untuk membelinya.

"Ini, Bang. Nokia 3310. Yang terbaru."

Pedagang itu seorang pria paruh baya dengan kumis tebal membungkus handphone dengan plastik, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil. Raka membayar, lalu pulang dengan perasaan campur aduk: senang, bangga, tapi juga agak bersalah. Uang sebanyak itu, bisa untuk kebutuhan lain. Bisa untuk membeli buku. Bisa untuk ditabung.

Tapi pikirannya sudah bulat.

Ini untuk ibu.

Dua minggu kemudian, Raka pulang kampung. Di terminal Manggar, ia turun dari bus dengan ransel besar dan sebuah kotak kecil di tas tangannya. Kotak itu ia pegang erat-erat, takut jatuh.

Ina sudah menunggu. Ia melompat-lompat ketika melihat kakaknya turun.

"Kaka! Kaka!"

Raka memeluk adiknya. Ina sudah besar lima belas tahun, duduk di kelas satu SMA. Rambutnya panjang, dikuncir dua, dan matanya masih sama cerah, penuh tanya. Ia sudah tak sekecil dulu.

"Kaka, bawa apa?"

Raka tersenyum misterius. "Nanti lihat."

Sub-bab 3: Kejutan untuk Keluarga

Di rumah, setelah makan malam, Raka mengeluarkan kotak kecil itu.

Keluarga berkumpul di ruang tengah. Lampu minyak menerangi wajah-wajah penasaran.

Ina langsung mendekat, matanya berbinar. "Apa itu, Kaka?"

"Ini namanya handphone, Ina."

Ina memegang benda itu dengan hati-hati, seperti memegang benda paling berharga di dunia. Warnanya hitam, antena pendek, layar kecil hijau. Ia membolak-baliknya, mengamati dari berbagai sudut.

"Ini... buat apa?"

"Buat telepon. Bisa dibawa ke mana-mana. Nggak perlu telepon umum."

Ina membelalak. "Nggak perlu telepon umum? Nggak perlu koin? Bisa telepon dari mana aja?"

"Bisa."

Ina memegang handphone itu erat-erat, takut jatuh. "Kaka, keren banget!"

Siti keluar dari dapur, mengelap tangan di kain. Ia melihat handphone di tangan Ina, lalu memandang Raka. Matanya penuh tanya.

"Itu apa, Ra?"

"Handphone, Bu. Buat Ibu."

Siti terkejut. "Buat Ibu? Ibu nggak bisa pake, Nak."

"Nanti aku ajarin, Bu. Gampang."

Sub-bab 4: Belajar Menekan Tombol

Siti mendekat, memandangi handphone itu dengan rasa ingin tahu. Ia belum pernah melihat benda seperti itu sebelumnya. Di Manggar, belum ada orang yang punya handphone. Mungkin beberapa orang kaya, pegawai tambang, atau pejabat. Tapi guru biasa seperti dia? Tidak.

"Ini mahal, Ra?"

"Enggak, Bu. Murah."

Siti tahu anaknya berbohong. Tapi ia tak membantah. Ia hanya tersenyum.

Malam itu, Raka mengajari ibu dan Ina cara menggunakan handphone. Cara menekan tombol, cara memilih menu, cara mengetik SMS. Keluarga kecil itu berkumpul, belajar bersama.

"Ini, Bu, kalau mau nulis pesan, tekan sini dulu. Lalu ketik angkanya. Setiap angka punya huruf."

Siti mencoba. Tangannya gemetar, jari-jarinya kaku.

"Ra, ini susah."

"Sabar, Bu. Nanti biasa."

Ina lebih cepat belajar. Matanya awas, tangannya lincah. Ia sudah bisa mengetik SMS dalam waktu singkat. Ia mengirim pesan ke Raka, meski mereka duduk bersebelahan, lalu tertawa.

"Kaka, dapet!"

Raka melihat ponselnya. Layar menyala, menunjukkan satu pesan baru: "HAHAHA"

Ia tertawa. "Ina, kamu iseng."

Sub-bab 5: Pesan Singkat dari Ibu

Sejak malam itu, handphone menjadi benda berharga di rumah mereka. Setiap malam, Ina akan meminjamnya, mencoba-coba, belajar. Kadang ia mengetik pesan panjang untuk teman-temannya, lalu menghapusnya karena malu mengirim.

Siti lebih lambat, tapi ia belajar. Setiap kali Raka telepon, ia akan mencatat di buku kecil: "Tekan ini dulu, lalu ini, lalu ini." Catatannya penuh dengan coretan dan anak panah, seperti peta harta karun.

Suatu malam, Raka di Jakarta menerima SMS dari ibu.

Pesan singkat, hanya tiga kata: "Ra, apa kabar?"

Raka tersenyum. Ia membalas, "Baik, Bu. Ibu gimana?"

Tak lama, balasan masuk. "Baik. Jaga diri."

Pesan sederhana. Tapi cukup untuk membuat Raka merasa hangat. Di tengah dinginnya kosan, di tengah kerasnya Jakarta, pesan itu adalah pengingat bahwa ada rumah, ada ibu, ada adik, yang selalu menunggu.

Refleksi Penutup

Tahun 2003. Handphone pertama di keluarga itu.

Benda kecil yang akan mengubah cara mereka berkomunikasi, mengubah cara mereka saling menyapa. Tak perlu lagi menunggu surat seminggu. Tak perlu lagi antre di telepon umum. Cukup tekan tombol, ketik pesan, lalu kirim.

Tapi satu hal tak berubah: cinta yang dikirim lewat pesan-pesan pendek itu.

Cinta yang sama seperti dulu, ketika surat-surat masih bolak-balik antara Jakarta dan Manggar.

Hanya medianya yang berubah.

Hatinya tetap sama.

No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...