BAB 9
Pohon Beringin
Tahun 1985
Di dinding ruang guru, tepat di belakang meja Pak Karman, tergantung sebuah kalender besar. Kalender itu dari bank, gambarnya pemandangan gunung dan sawah, dengan tulisan "Bank Rakyat Indonesia" di pojok atas. Tapi bukan pemandangan itu yang menarik perhatian. Yang menarik adalah lingkaran-lingkaran merah yang mengelilingi tanggal-tanggal tertentu tanggal merah, tanggal libur, dan tanggal pemilu.
Tanggal pemilu itu dilingkari tiga kali. Tinta merahnya tebal, seperti peringatan yang tak boleh dilupakan. Di sampingnya, seseorang telah mencoret-coret dengan pensil: "PEMILU 1987 - GOLKAR PASTI MENANG?" Tanda tanya itu menggantung, seperti pertanyaan yang tak berani diucapkan.
Tahun 1985, tahun politik. Pemilu 1987 masih dua tahun lagi, tapi baunya sudah tercium. Dari Jakarta, dari koran, dari radio, dari bisik-bisik di warung kopi. Pemilu, partai, Golkar, pohon beringin kata-kata itu bertebaran di mana-mana, seperti debu di musim kemarau.
Di luar ruang guru, di sepanjang jalan utama Manggar, spanduk-spanduk mulai bermunculan. Warna kuning mencolok di antara hijau daun lada dan merah bata rumah-rumah papan. Pohon beringin bergambar di spanduk itu, besar, rindang, akarnya menjulur ke bawah. "GOLKAR - GOLONGAN KARYA - UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT," begitu tulisan di bawahnya.
Di pinggir jalan, seorang bapak tua bertanya pada tetangganya, "Itu partai apa, Nek?" "Golkar, Pak. Partaine penguasa."
"Oh." Bapak tua itu mengangguk-angguk, lalu kembali mencangkul di kebunnya.
Di ruang guru, suasana pagi itu sedikit berbeda. Udara terasa lebih berat, meskipun matahari belum naik tinggi. Pak Zainal duduk di kursinya dengan koran terbuka lebar. Matanya bergerak cepat, membaca baris demi baris. Kadang ia berhenti, mengerutkan kening, lalu melanjutkan lagi.
"Eh, teman-teman," katanya, tanpa mengangkat wajah. Suaranya pelan, tapi cukup jelas di ruangan sempit itu. "Di Jakarta, kampanye sudah mulai. Golkar target menang lagi."
Bu Sri yang sedang menyusun buku di meja, mengangkat kepala. "Target berapa, Pak?"
Pak Zainal mengangkat koran, membacakan dengan suara lantang. "Tujuh puluh persen. Kata menteri, itu target realistis."
Bu Sri menghela napas. Napas panjang yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. "Seperti biasa, Pak. Golkar pasti menang. Dari dulu begitu."
Pak Silaban, yang sedang menyeduh kopi di pojok, ikut nimbrung. Suaranya berat, logat Bataknya kental. "Di sini juga. Dulu saya baru pindah, tahun 1980, ditanya tetangga: 'Bapak pilih apa?' Saya bilang: 'Saya Kristen.' Mereka tertawa."
Semua menoleh. Pak Silaban melanjutkan, matanya berbinar mengenang kejadian itu. "'Bukan agamanya, Pak. Pilih partainya.' Saya baru ngerti. Di sini, pilihan bukan soal keyakinan. Tapi soal aturan."
Pak Trisno yang sedang meregangkan badan di pojok, ikut bertanya. "Pak Silaban, terus Bapak pilih apa?"
"Ya Golkar lah. Saya PNS. Monoloyalitas, katanya." Pak Silaban mengaduk kopinya pelan. "Kalau tak pilih Golkar, bisa kena masalah. Mutasi. Tak naik pangkat. Dipindah ke pulau seberang."
Pak Zainal mengangguk. "Iya, PNS harus pilih Golkar. Aturan. Tapi kata orang, di bilik suara, bebas. Mau pilih apa saja. Suara rahasia."
Bu Dina, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, berbisik pelan. "Tapi kalau ketahuan, bisa bahaya."
Bu Mala menegur. "Din, jangan sembarangan bicara. Di luar boleh, di sini jaga mulut. Dinding punya telinga."
Suasana agak tegang. Udara di ruang guru yang sempit itu tiba-tiba terasa lebih berat. Di luar, anak-anak masih berlarian, tak tahu apa-apa tentang politik, tentang Golkar, tentang pohon beringin. Mereka hanya tahu bahwa hari ini cerah dan mereka bisa bermain.
Siti, yang sedari tadi diam, mencoba melerai. "Sudah, Bu. Ini cuma obrolan. Yang penting kita rukun. Yang penting sekolah jalan."
Pak Karman, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara. Suaranya pelan, tapi semua orang mendengarkan. "Bu Siti benar. PGRI itu bukan partai. PGRI itu rumah kita semua. Mau pilih Golkar, mau pilih yang lain di PGRI kita sama. Guru. Mendidik anak-anak. Itu tugas utama kita. Politik urusan nanti."
Pak Silaban mengangkat cangkir kopinya. "Iya, kita ini guru. Bukan politikus. Tugas kita ngajar, bukan kampanye."
Bu Dewi, yang sejak tadi membaca Al-Qur'an di pojok, menutup kitabnya. "Tapi Pak, murid- murid kita ada yang orang tuanya buruh tambang. Ada yang pedagang. Ada yang petani. Mereka semua punya pilihan masing-masing. Di sekolah, mereka harus sama. Tak boleh dibeda- bedakan."
Pak Karman tersenyum. "Nah, itu yang penting. Di sekolah, semua sama. Tak peduli orang tuanya pilih apa, partainya apa, agamanya apa. Semua sama. Semua murid kita."
Di luar, suara anak-anak semakin ramai. Seorang guru muda melintas di depan jendela, membawa setumpuk buku. Belum berbunyi, tapi mereka sudah siap masuk kelas.
Pak Zainal melipat korannya. "Ya sudah, yang penting kita kerja. Yang penting gaji cair. Yang penting beras di rumah ada."
Pak Trisno menepuk pundaknya. "Pak Zainal, realistis sekali." "Realistis? Iya. Idealisme boleh, tapi perut juga harus diisi."
Semua tertawa. Suasana kembali hangat. Tapi di sudut ruangan, Pak Karman masih termenung, memandangi kalender di dinding dengan lingkaran-lingkaran merah itu.
Seminggu kemudian, di puncak Tanjakan Kantor Telepon, di warung Mak Inang, obrolan yang sama muncul lagi.
Sore itu, Siti duduk di meja favoritnya. Di hadapannya, secangkir kopi mengepul. Pak Karman duduk di seberang, dengan kopi yang sama. Di meja lain, beberapa buruh tambang duduk minum teh, sesekali tertawa.
Dari puncak tanjakan, pemandangan terbentang luas. Di kejauhan, kompleks tambang mulai gelap. Lampu-lampu kantor dan perumahan mulai menyala satu per satu, menciptakan titik-titik kuning di kejauhan. Cerobong asap masih mengepul, mengeluarkan asap putih yang membubung ke langit senja.
Di sisi lain, kampung mereka juga mulai gelap, tapi hanya beberapa lampu yang menyala sebagian besar rumah masih menggunakan lampu minyak. Dua dunia. Berdampingan. Tak pernah bertemu.
"Bu Siti," kata Pak Karman tiba-tiba. "Ya, Pak?"
"Kamu tahu lambang Golkar?"
Siti mengangguk. "Pohon beringin."
"Betul. Pohon beringin. Akarnya menjulur ke mana-mana. Daunnya rindang. Konon, itu lambang pengayoman. Rakyat kecil dinaungi, dilindungi."
Siti diam, menunggu. Pak Karman menyeruput kopinya, lalu melanjutkan.
"Tapi lihat ke sana." Ia menunjuk ke arah kompleks tambang dengan dagunya. "Di sana, pohon beringin juga tumbuh. Tapi akarnya tak sampai ke sini. Daunnya tak meneduhi kita. Yang mereka naungi hanya pegawai tambang. Yang mereka lindungi hanya kepentingan perusahaan."
Siti menghela napas. "Pak, jangan bicara begitu. Nanti ada yang dengar."
Pak Karman tertawa. Tawanya getir, seperti kopi tanpa gula. "Iya, Bu. Saya tahu. Makanya saya bicara hanya di sini. Di warung Mak Inang. Di tempat yang aman."
Mak Inang, yang sedang menggoreng pisang, menyela dari balik meja. "Pak Karman, jangan bikin runyam. Saya tak mau warung saya digerebek."
Pak Karman tertawa lebih keras. "Mak Inang, tenang. Ini cuma obrolan tua."
Siti ikut tersenyum, meskipun hatinya tak tenang. Ia memandangi kompleks tambang di kejauhan, lalu memandangi kampungnya. Dua dunia yang tak pernah bertemu. Dan di antaranya, pohon beringin yang konon menaungi semua orang, tapi nyatanya hanya memilih.
Malam itu, di rumah, Siti dan Bapak mengobrol di teras. Lampu minyak di samping mereka berkedip-kedip, menciptakan bayang-bayang yang menari di dinding papan. Di kejauhan, suara jangkrik terdengar nyaring.
"Pak, hari ini di sekolah ramai. Ngomongin politik."
Bapak menghela napas. "Politik. Di mana-mana memang begitu." "Kita harus pilih Golkar, ya?"
Bapak memandang istrinya. Di wajahnya, terlihat kelelahan, tapi juga ketabahan. "Aturannya begitu. PNS harus pilih Golkar."
"Tapi di bilik suara, kan rahasia."
Bapak tersenyum. Senyum yang getir, seperti Pak Karman tadi. "Rahasia, iya. Tapi kalau ketahuan, bisa repot. Bisa dipindah ke sekolah di pulau seberang. Jauh dari kalian."
Siti diam. Ia memandang Si Merah yang terparkir di samping rumah. Sepeda itu tak tahu apa-apa tentang politik. Ia hanya setia menunggu, setia mengantar.
"Bu," kata Bapak lagi. "Yang penting kita kerja. Yang penting anak-anak sekolah. Yang penting makan. Politik biar di atas. Kita di bawah, mengayuh sepeda."
Siti mengangguk. Di dalam hatinya, ia berjanji: apapun yang terjadi, ia akan tetap mengajar. Apapun yang terjadi, ia akan tetap menyapa. Apapun yang terjadi, ia akan tetap menjadi guru.
Karena itu yang ia tahu. Itu yang ia bisa. Itu yang akan ia lakukan. Sampai kapan pun.
Di kejauhan, suara burung hantu terdengar. Malam semakin larut. Di langit, bintang-bintang mulai bermunculan, satu per satu, seolah ikut menyaksikan perjalanan hidup yang terus berputar.
Seperti roda sepeda. Seperti politik.
Seperti kenangan.
No comments:
Post a Comment