Sunday, April 5, 2026

BAB 8

Ruang Guru

Tahun 1985

Pintu kayu itu berderit setiap kali dibuka, seperti orang tua yang mengeluh. Deritnya panjang, melengking, menyambut siapa pun yang masuk ke ruang guru SDN 5 Manggar.

Ruang itu sempit. Sangat sempit. Hanya cukup untuk dua meja kayu panjang yang berjejer di tengah, dikelilingi kursi-kursi bambu yang sudah diganti kakinya berkali-kali. Di atas meja, tumpukan buku dan kertas ujian bertumpuk tak beraturan, beberapa di antaranya sudah menguning. Ada pula cangkir-cangkir bekas kopi dengan sisa ampas yang mengering di dasarnya.

Lantainya semen, retak di sana-sini. Di celah-celah retakan itu, semut-semut kecil lalu lalang, membawa remah-remah yang jatuh dari meja. Mereka berbaris rapi, teratur, seperti murid-murid yang sedang antre.

Di dinding, tergantung papan pengumuman. Papan itu penuh dengan kertas-kertas usang pengumuman rapat, jadwal piket, foto presiden yang sudah menguning, dan edaran tentang kenaikan pangkat yang tak kunjung tiba. Di sampingnya, sebuah kalender dari bank tergantung miring, masih menunjukkan bulan Maret, padahal sudah September.

Langit-langitnya rendah. Dari sana, lampu neon 20 watt bergelantungan, menyala redup sepanjang hari. Lampu itu berkedip-kedip kadang, seperti mata yang mengantuk. Di siang hari, cahaya matahari masuk dari satu jendela kecil di dinding belakang, menerangi partikel-partikel debu yang melayang lambat di udara.

Pukul setengah tujuh pagi. Belum berbunyi. Tapi ruang guru sudah mulai hidup.

Bu Dina masuk pertama. Ia melangkah tergesa-gesa, rambutnya yang dikuncir dua bergoyang- goyang seperti ekor kucing yang sedang bermain. Tas kanvas lusuhnya ia lemparkan ke meja dengan suara gedebuk buku-buku di dalamnya pasti berantakan. Ia menghela napas panjang, meregangkan tangan ke atas, lalu duduk dengan lemas di kursi bambu yang berderit.

"Capek," gumamnya, padahal bel masuk masih setengah jam lagi.

Bu Sri menyusul. Jalannya lambat, tenang, seperti orang yang sudah lelah sebelum memulai hari. Di tangannya, ia membawa koran bekas yang dilipat rapi. Wajahnya sayu, matanya sembab mungkin semalam begadang mengurus anak-anaknya yang masih kecil. Ia duduk tanpa suara, langsung membuka buku absen dan mulai menulis.

Bu Dewi datang dengan senyum. Senyum yang sama setiap pagi lembut, tulus, seperti air mengalir di sungai. Ia meletakkan tasnya di meja, lalu meraih Al-Qur'an dari laci. Sejenak ia membaca beberapa ayat, bibirnya berkomat-kamit, jarinya menelusuri baris demi baris.

Bu Sinta masuk dengan langkah tergesa. Di tangannya, ia membawa seikat bunga kertas buatan murid-muridnya kemarin. Bunga-bunga itu warna-warni, merah, kuning, biru, meskipun dari kertas bekas. "Lihat, ini bagus ya!" serunya, memamerkan bunganya pada Bu Dina.

Bu Mala, guru senior yang paling ditakuti murid-murid, duduk dengan tegak di kursinya. Wajahnya cemberut, seperti biasa. Tapi semua orang tahu, di balik topeng galak itu, ada hati yang lembut. Ia hanya tidak bisa mengekspresikannya dengan cara lain.

Pak Zainal masuk dengan koran di tangan. Koran itu harian nasional sudah lusuh, dilipat bolak- balik. Tapi ia membacanya dengan teliti, seperti seorang detektif membaca petunjuk. Ia duduk di pojok, membuka koran, dan mulai membaca. Kadang ia bergumam sendiri, kadang ia menggeleng-geleng.

Pak Ratno, guru bahasa Indonesia, tidak bisa lepas dari buku kecilnya. Buku itu sudah usang, sampulnya robek, halaman-halamannya menguning. Tapi di dalamnya, ratusan pantun tertulis

rapi pantun lama, pantun baru, pantun untuk segala kesempatan. Pagi itu, ia terlihat sibuk menulis sesuatu. Mungkin pantun baru.

Pak Silaban masuk dengan suara yang sudah dikenal semua orang. "Horas!" sapanya, logat Bataknya kental sekali. Rambutnya sudah putih, tapi semangatnya seperti anak muda. Ia berjalan ke meja sambil bersiul-siul kecil.

Pak Emilianus, guru IPA dari NTT, menyeduh kopi di sudut ruangan. Ia menuang air panas dari termos ke cangkir, lalu mengaduknya pelan. Aroma kopi segera menyebar, bercampur dengan bau kertas tua dan debu. Logat Timor-nya yang kental kadang membuat orang tersenyum, tapi ia tak pernah marah. "Kopi susah, hidup susah, tapi harus tetap diminum," katanya suatu kali.

Pak Trisno, guru olahraga, sudah berganti pakaian. Celana training, kaos oblong, sepatu kets. Ia melakukan peregangan di pojok, gerakan-gerakan aneh yang membuat kursi-kursi di sekitarnya harus dipindah. Kadang ia mengeluarkan suara "hup" yang membuat semua orang menoleh.

Dan Pak Karman, sesepuh yang paling dituakan, duduk tenang di ujung meja. Ia yang paling tua, paling lama mengajar. Tiga puluh tahun di sekolah ini, ia sudah melihat segalanya murid nakal jadi polisi, murid pintar jadi dokter, murid miskin jadi pengusaha. Ia tak banyak bicara, tapi ketika ia bicara, semua orang mendengar.

Di luar, halaman sekolah mulai ramai. Anak-anak berlarian, tertawa, berkejaran. Debu beterbangan ditiup angin pagi. Seorang anak kecil jatuh, menangis sebentar, lalu bangkit dan berlari lagi. Belum berbunyi, tapi kehidupan sudah dimulai.

Pak Ratno memecah keheningan. Ia berdiri, membuka buku kecilnya, dan membacakan pantun dengan suara lantang.

"Pucuk pauh delima batu, Anak sembilang di tepi pantai. Berkumpul kita di ruang guru, Membahas nasib anak pandai."

Bu Dina tertawa. "Pak Ratno, pagi-pagi sudah berpantun."

"Pagi-pagi harus semangat, Din. Biar otak encer."

Pak Silaban menimpali. "Di Batak, kalau anak pintar, kami bilang 'Anakkon hi do hamoraon di au' anakku adalah kekayaanku. Itu untuk orang tua. Untuk guru? Murid pintar juga kekayaan. Kekayaan yang tak ternilai."

Pak Emilianus mengangguk. "Di Flores, kalau guru senang lihat murid pintar, kami bilang 'Itu berkat Tuhan'. Dan kami percaya, Tuhan memberkati guru yang sabar."

Pak Zainal mengangkat kepala dari korannya. "Eh, lihat ini. Di Jakarta, harga minyak tanah naik. Sebentar lagi sampai sini."

Pak Trisno tertawa. "Pak Zainal, jangan baca koran melulu. Nanti stress. Mending olahraga."

Bu Dewi tersenyum. "Pak Trisno, olahraga itu bagus. Tapi ingat, niatkan sehat, niatkan silaturahmi."

Suasana hangat. Mereka seperti keluarga. Lebih dari sekadar rekan kerja mereka adalah saudara yang memilih untuk berbagi suka dan duka.

Pak Karman akhirnya angkat bicara. "Baiklah, teman-teman. Sebentar lagi bel masuk. Ada yang mau dibahas sebelum mulai?"

Bu Mala mengangkat tangan. "Pak, saya mau usul. Anak-anak kelas enam perlu tambahan les. Ujian tinggal tiga bulan lagi."

Pak Karman mengangguk. "Setuju. Siapa yang bisa ngajar?" Bu Dina mengacungkan tangan. "Saya bisa, Pak. Matematika." Bu Sri juga. "Saya Bahasa Indonesia."

Pak Silaban. "Saya Agama."

Pak Karman tersenyum. "Bagus. Nanti kita atur jadwalnya."

Di sudut ruangan, Pak Zainal melipat korannya. "Yang penting kita kerja. Yang penting gaji cair. Yang penting beras di rumah ada."

Pak Trisno menepuk pundaknya. "Pak Zainal, realistis sekali." "Realistis? Iya. Idealisme boleh, tapi perut juga harus diisi."

Semua tertawa. Tawa yang hangat, tawa yang hanya bisa lahir dari kebersamaan.

Bel berbunyi. Nyaring, memekak. Suaranya menggema di seluruh sekolah, masuk ke ruang guru lewat jendela yang terbuka.

Para guru bangkit, mengambil buku dan kapur. Satu per satu mereka keluar, meninggalkan ruang guru yang sunyi.

Siti berjalan ke kelasnya. Di koridor, ia berpapasan dengan Pak Karman. "Bu Siti," kata Pak Karman pelan.

"Ya, Pak?"

"Ibu tahu, jadi guru itu berat. Tapi lihat mereka." Ia menunjuk ke arah murid-murid yang berlarian di halaman. "Itu alasan kita ada di sini."

Siti mengangguk. "Saya tahu, Pak."

Mereka berpisah. Masing-masing menuju kelasnya.

Di ruang guru yang kosong, secangkir kopi masih mengepul di meja Pak Emilianus. Asapnya berputar-putar, naik ke langit-langit yang rendah, lalu menghilang.

Seperti doa-doa yang tak terucap.

Seperti harapan-harapan yang terus menyala.


No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...