Sunday, April 5, 2026

BAB 7

Posyandu

Malam itu, bulan bersembunyi di balik awan. Langit hitam pekat, tanpa bintang. Angin berdesir, membawa aroma tanah basah dari kebun lada di kejauhan. Di jalan kampung yang gelap, hanya suara jangkrik yang menemani.

Siti mengayuh Si Merah melawan gelap. Lampu sepeda lampu kecil berdinamo yang menyala hanya jika roda berputar menerangi jalan beberapa meter di depannya. Cahayanya kuning redup, seperti lilin yang hampir padam, tapi cukup untuk menghindari lubang-lubang yang menganga.

Raka di boncengan. Tubuhnya panas, menggigil. Tangannya memegang erat pinggang ibu, tapi cengkeramannya lemas, tak bertenaga.

"Ra, tahan, ya. Sebentar lagi."

Raka tak menjawab. Hanya napasnya yang berat, tersengal-sengal, seperti orang yang kehabisan udara.

Siti mengayuh lebih kencang. Rodanya berputar cepat, tapi jalanan terasa panjang. Di kiri kanan, hanya semak belukar dan pohon-pohon kelapa yang sesekali berbisik. Kadang, matanya menangkap gerakan di kegelapan mungkin tikus, mungkin biawak, mungkin hanya bayangan.

Ia tak peduli.

Posyandu Melati terletak di kaki bukit, persis di perbatasan antara kampung dan kawasan tambang. Bangunannya sederhana papan, cat hijau pudar yang sudah mengelupas di sana-sini.

Gentingnya bocor di beberapa bagian, tapi untuk saat ini, lubang-lubang itu ditutup dengan terpal plastik. Di halaman, sebuah pohon randu tua berdiri, akarnya menjalar ke mana-mana.

Lampu posyandu masih menyala. Dari kejauhan, Siti sudah bisa melihat cahayanya kuning, sama seperti lampu sepedanya, tapi lebih terang. Cahaya itu seperti suar di tengah lautan gelap, memberi arah pada siapa pun yang tersesat.

Siti mengerem di depan pintu. Napasnya terengah. Keringat membasahi sekujur tubuh. "Pak Mantri!" teriaknya.

Pak Mantri keluar. Wajahnya lelah, tapi matanya sigap. Ia berlari menghampiri, langsung menggendong Raka dari boncengan.

"Masuk, Bu. Cepat."

Di dalam, posyandu itu lebih hangat dari luar. Lampu minyak di sudut ruangan memberi cahaya kuning yang lembut. Di dinding, tergantung poster-poster kesehatan poster tentang gizi, tentang imunisasi, tentang penyakit diare. Semuanya sudah menguning, pinggirnya robek.

Di pojok, ada meja kayu dengan tumpukan kertas dan buku catatan. Di sampingnya, lemari kaca berisi obat-obatan tidak banyak, hanya beberapa botol dan bungkus. Di lantai, tikar pandan digelar, tempat ibu-ibu biasa menunggu dengan anak-anak mereka.

Pak Mantri membaringkan Raka di tikar itu. Tangannya yang cekatan meraba dahi, memeriksa denyut nadi, membuka kelopak mata.

Siti duduk di sampingnya, masih terengah. Tangannya gemetar.

Pak Mantri mengambil stetoskop dari lehernya. Stetoskop itu sudah tua catnya mengelupas, selangnya hitam kusam, dan di beberapa tempat, lakban hitam melilitnya. Lakban itu bukan hiasan; itu bekas sambungan ketika selangnya putus beberapa tahun lalu.

Siti memandangi stetoskop itu. Ia ingin bertanya, tapi tak berani.

Pak Mantri mendekatkan stetoskop ke dada Raka. Matanya terpejam, konsentrasi. Hening.

Sekejap kemudian, ia membuka mata. "Bu, ini demam biasa. Saya kasih obat. Tapi kalau besok belum turun, Ibu harus bawa ke puskesmas."

Siti menghela napas lega. Lega yang begitu besar, sampai hampir membuatnya menangis.

Pak Mantri bangkit, berjalan ke lemari kaca. Ia membuka pintunya, mengeluarkan tiga butir parasetamol, dua bungkus serbuk, dan sebotol sirup merah. Obat-obatan itu ia letakkan di meja, lalu menulis sesuatu di buku catatan dengan pensil yang ujungnya sudah tumpul.

"Ini obatnya, Bu. Yang putih diminum tiga kali sehari. Yang merah kalau demamnya tinggi. Yang serbuk buat vitamin."

Siti mengangguk, mengambil obat-obatan itu. Tangannya masih gemetar. "Berapa, Pak Mantri?"

Pak Mantri tersenyum. "Nggak usah, Bu. Nanti aja kalau ada rezeki."

Siti ingin membantah, tapi Pak Mantri sudah berbalik. Ia duduk di kursinya, memandang ke luar jendela.

Di luar, lampu kompleks tambang terang benderang. Rumah sakit tambang, dengan bangunan putihnya yang megah, menyala 24 jam. Lampu-lampu halaman, lampu-lampu koridor, lampu- lampu ruang operasi semua menyala, tak pernah padam.

Pak Mantri memandangi itu lama. Matanya menerawang, seperti sedang melihat sesuatu yang tak terlihat.

"Lihat itu, Bu," katanya pelan. "Rumah sakit tambang. Dokter lengkap, peralatan canggih, obat- obatan mahal. Saya dua puluh tahun di sini, cuma punya stetoskop ini."

Ia memegang stetoskopnya. Jari-jarinya menelusuri lakban yang melilit. "Kadang saya iri," lanjutnya. "Iri sekali. Tapi mau bagaimana?"

Siti duduk di sampingnya, masih menggendong Raka yang mulai tenang. "Tapi Pak Mantri, tanpa Bapak, kami sudah mati. Sudah lama mati."

Pak Mantri tersenyum. Senyum lelah yang sudah dua puluh tahun ia pertahankan. "Terima kasih, Bu. Saya akan tetap di sini. Sampai pensiun. Sampai mati mungkin."

"Kenapa Bapak bertahan?"

Pak Mantri diam sebentar. Ia menatap Raka yang mulai pulas dalam gendongan Siti.

"Bu, saya lihat ibu-ibu seperti Ibu datang ke sini setiap malam. Anaknya demam, batuk, pilek. Mereka tak punya uang ke rumah sakit tambang. Mereka tak punya mobil. Mereka cuma punya saya. Kalau saya pergi, mereka ke mana? Ke mana mereka mengadu?"

Siti tak bisa menjawab.

"Di rumah sakit tambang, pasien cuma angka. Nomor antrean, nomor kamar, nomor rekam medis. Di sini, pasien punya nama, punya cerita, punya mimpi."

Pak Mantri menunjuk ke arah Raka. "Anak Ibu ini, Bu. Namanya Raka, kan? Saya ingat. Dulu waktu bayi, Ibu sering bawa ke sini. Berat badannya kurang, saya kasih vitamin. Sekarang sudah besar. Saya tahu ceritanya."

Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum. "Itu yang tak bisa dibeli dengan uang."

Di luar, mobil jemputan tambang melintas. Lampunya menyilaukan, menerangi ruangan posyandu sekejap, lalu pergi. Suara mesinnya meraung, mengusir keheningan malam.

Pak Mantri menatap mobil itu hingga lenyap di kegelapan. "Mereka punya mobil jemputan. Kita punya sepeda. Mereka punya rumah sakit. Kita punya posyandu. Tapi satu hal yang mereka tak punya: kita punya tegur sapa."

Siti memandang Pak Mantri. Di wajahnya, ia melihat ketuaan, kelelahan, tapi juga keteguhan. Keyakinan bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.

"Setiap hari, orang datang ke sini. Ibu-ibu dengan anak demam. Bapak-bapak dengan luka di kaki. Kakek-kakek dengan tekanan darah tinggi. Mereka datang, saya sapa. 'Pak Mantri, sehat ya.' 'Pak Mantri, makasih ya.' Mereka pulang, mereka sapa saya. Itu hangat. Itu tak bisa dibeli dengan uang."

Siti mengangguk. Matanya berkaca-kaca. "Pak Mantri, terima kasih."

Pak Mantri tersenyum. "Sama-sama, Bu. Sekarang bawa Raka pulang. Besok kontrol lagi."

Siti mengayuh Si Merah pulang. Raka di boncengan, tidur pulas. Napasnya teratur, tidak lagi sesak.

Di belakangnya, lampu posyandu masih menyala. Pak Mantri masih di sana, mungkin sedang merapikan obat, atau membaca buku catatannya, atau sekadar duduk memandang kompleks tambang.

Siti tak tahu. Tapi ia tahu satu hal: selama Pak Mantri masih ada, ia tak akan takut jika anaknya sakit. Selama Pak Mantri masih ada, masih ada tempat untuk mengadu. Selama Pak Mantri masih ada, masih ada tegur sapa di tengah dinginnya malam.

Di kejauhan, lampu kompleks tambang masih terang. Tapi bagi Siti, lampu yang paling terang malam ini adalah lampu posyandu Pak Mantri.

Lampu yang selalu menyala. Lampu yang tak pernah padam.

No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...