BAB 6
Dua Tanjakan
Manggar memiliki dua tanjakan. Dua tanjakan yang kelak akan terukir dalam memori Raka, dalam setiap tetes keringat, dalam setiap napas terengah yang memburu waktu. Dua tanjakan yang menjadi saksi bisu perjuangan para pesepeda, para pejalan kaki, para guru dan buruh yang setiap hari harus melewatinya.
Tanjakan Samak: Lima Puluh Meter, Lima Belas Derajat.
Tanjakan Samak pendek tapi curam. Pendek, tapi cukup untuk membuat lutut gemetar dan napas memburu. Dari bawah, ia tampak seperti dinding yang menjulang aspal hitamnya terkelupas di sana-sini, meninggalkan lubang-lubang yang menganga seperti mulut-mulut yang terus berteriak. Di tepi jalan, rumput liar tumbuh subur, merambat ke aspal, seolah ingin merebut kembali tanah yang pernah menjadi miliknya.
Di sini, semua pesepeda harus turun dan menuntun. Tak ada yang bisa mengayuh sampai puncak. Namanya, kata orang-orang tua, berasal dari "sama-sama". Karena di tanjakan ini, semua orang sama tak peduli guru, buruh, mandor, atau petani. Semua harus turun, semua harus menuntun, semua sama-sama terengah.
Pagi itu, matahari baru saja naik setinggi pohon kelapa. Udara masih sejuk, tapi keringat sudah membasahi kerudung Siti. Ia menuntun Si Merah, satu tangan memegang stang, satu tangan di sadel. Sepatunya berderit di aspal yang terkelupas.
Napasnya terengah. Keringat membasahi kerudungnya, menetes ke dagu, jatuh ke tanah merah. Di sampingnya, seorang buruh tambang empat puluh tahun, dengan sepeda butut yang lebih
banyak karatnya dari catnya melakukan hal yang sama. Mereka berjalan beriringan, kaki sama- sama berat, napas sama-sama memburu.
Buruh itu menoleh. Wajahnya hitam legam, tapi senyumnya putih bersih. "Bu Guru, baru pertama kali lewat sini?"
Siti mengangguk, masih terengah. "Iya, Pak. Baru naik sepeda."
Buruh itu tertawa. Tawanya parau, seperti suara mesin tua yang kehabisan oli. "Ini tanjakan Samak, Bu. Setiap orang yang lewat sini harus turun. Saya sepuluh tahun lewat sini, tetap turun. Mandor tambang juga turun kalau lewat sini. Guru juga turun. Semua sama. Di sini, tak ada titel."
Siti melihat ke depan. Seorang mandor tambang dengan sepeda lebih bagus, Phoenix, mungkin juga menuntun sepedanya. Wajahnya merah, napasnya tersengal. Bajunya rapi, tapi kini basah oleh keringat. Ia tersenyum pada Siti. Siti tersenyum balik.
"Lihat, Bu. Mandor itu." Buruh itu menunjuk dengan dagunya. "Dia mungkin punya gaji besar, rumah bagus, anak sekolah di sekolah tambang. Tapi di sini, dia sama dengan kita: capek, keringatan, nuntun sepeda. Di sini, dia sama-sama manusia."
"Tapi setelah tanjakan ini, dia naik mobil jemputan?" tanya Siti.
Buruh itu menghela napas. Napas panjang yang membawa seluruh beban hidup. "Iya, Bu. Setelah tanjakan, dia ke dunia dia. Kita ke dunia kita. Tapi di tanjakan ini, kita setara. Untuk lima puluh meter ini, kita sama. Dan untuk lima puluh meter itu, saya bersyukur."
Mereka terus berjalan. Langkah demi langkah. Di belakang mereka, suara motor mulai ramai. Di depan mereka, puncak tanjakan masih jauh.
Di puncak tanjakan, mereka berhenti. Siti menengok ke bawah. Kampung-kampung terlihat kecil, seperti mainan. Rumah-rumah papan dengan atap seng, kebun-kebun lada yang membentang, pohon-pohon kelapa yang menjulang. Di kejauhan, cerobong tambang mengepul, mengeluarkan asap putih yang membubung ke langit.
Buruh itu juga berhenti. Ia membuka topi lusuhnya, mengusap keringat di dahi. "Lihat itu, Bu. Tambang. Saya kerja di sana tiap hari, sepuluh tahun. Tapi saya tak pernah masuk rumah sakit mereka. Kalau sakit, ke posyandu, ketemu Pak Mantri."
Siti mengangguk. "Saya juga, Pak. Semoga kita selalu sehat."
Buruh itu tersenyum. Senyum lelah, tapi tulus senyum yang hanya bisa lahir dari hati yang ikhlas menerima takdir. "Amin. Tapi Bu Guru, satu hal: di tanjakan ini, saya merasa manusia. Sama- sama capek, sama-sama nuntun, sama-sama butuh istirahat. Di tanjakan ini, saya lupa kalau saya buruh, lupa kalau beliau mandor. Yang saya ingat: kita sama-sama punya kaki yang capek."
Ia menunjuk ke arah mandor tambang yang sudah jauh di depan. "Lihat, dia juga capek. Dia juga manusia. Besok, dia mungkin akan menyuruh anak buahnya kerja keras. Tapi hari ini, di tanjakan ini, dia hanya Pak Kecil yang capek."
Siti tak menjawab. Ia hanya memandang ke bawah, ke jalan yang sudah ia lalui, ke orang-orang yang masih di bawah.
Tanjakan Kantor Telepon: Tujuh Puluh Meter, Sepuluh Derajat.
Sore harinya, Siti melewati Tanjakan Kantor Telepon. Tanjakan panjang landai, tak terlalu curam tapi menguras tenaga karena panjangnya. Tujuh puluh meter terasa seperti satu kilometer. Aspalnya mulus di beberapa bagian, tapi di bagian lain retak dan berlubang, seperti wajah tua yang penuh keriput.
Nama tanjakan ini berasal dari kantor telepon tua di puncaknya. Bangunan kolonial dengan dinding tebal dan jendela tinggi, catnya putih pudar, atapnya genteng merah yang sudah ditumbuhi lumut. Di depan kantor itu, ada tiang telepon tinggi dengan kabel-kabel yang menjuntai, membawa suara dari satu tempat ke tempat lain.
Di puncak tanjakan, ada warung kopi sederhana milik Mak Inang.
Warungnya hanya papan lapuk beratap seng, dengan tiga meja kayu dan kursi-kursi bambu. Mejanya sudah penyok di sana-sini, bekas gelas panas yang diletakkan berulang kali. Kursinya sudah diganti kakinya berkali-kali kaki baru, kursi lama. Di dinding, tergantung foto-foto usang: foto para guru, foto para buruh, foto anak-anak yang mungkin sudah besar sekarang.
Tapi kopinya, kata orang, tak ada tandingan. Mak Inang memanggang biji kopinya sendiri, di wajan tanah liat, dengan api kecil. Bau kopi yang dipanggang selalu menyebar ke seluruh puncak tanjakan, memanggil siapa pun yang lewat untuk singgah.
Setiap sore, para guru berkumpul di sini. Mereka minum kopi, makan pisang goreng, mengobrol tentang murid dan kurikulum. Kadang buruh tambang ikut duduk. Kadang petani. Kadang pedagang. Kadang mandor tambang yang kebetulan lewat dan singgah.
Hari itu, ketika Siti tiba di puncak, Pak Karman sudah duduk di meja favoritnya meja pojok yang menghadap ke arah tanjakan. Di depannya, secangkir kopi hitam mengepul. Asapnya berputar- putar, naik ke langit-langit, lalu menghilang.
"Bu Siti! Sini istirahat dulu!" sapa Pak Karman. Suaranya serak, seperti orang yang sudah tua, tapi tetap hangat.
Siti memarkir Si Merah di samping sepeda-sepeda lain. Ada Phoenix, ada Sim King, ada Raleigh, ada sepeda butut tak bermerek. Semua berdampingan, sadel bersentuhan, seolah mereka juga berteman.
"Capek, Bu?" tanya Pak Karman.
Siti duduk di kursi bambu. Kursi itu berderit, tapi masih kokoh. "Capek, Pak. Tapi senang." "Senang kenapa?"
Siti memesan kopi pada Mak Inang yang mengangguk dari balik meja. "Senang karena dari sini saya bisa lihat dua dunia. Di kiri, kompleks tambang dengan rumah sakit megah. Di kanan, kampung kita dengan posyandu sederhana. Dan di sini, di warung ini, semua duduk sama.
Minum kopi yang sama, dengan harga yang sama."
Pak Karman tersenyum. Ia menunjuk ke arah kompleks tambang dengan dagunya. "Lihat itu, Bu. Rumah sakit tambang. Saya tiga puluh tahun jadi guru, belum pernah masuk ke sana."
Siti memandang ke arah yang ditunjuk. Di kejauhan, di balik bukit, terlihat bangunan putih besar dengan pagar tinggi. Lampu-lampu mulai menyala, meskipun matahari belum benar-benar tenggelam.
"Murid-murid saya yang orang tuanya kerja di tambang, mereka pernah ke sana. Mereka cerita, rumah sakit itu bagus. AC dingin, tempat tidur bersih, dokter ramah. Obatnya lengkap. Semua gratis."
"Tapi kita?" tanya Siti.
"Kita ke posyandu. Pak Mantri beliau sudah dua puluh tahun di sana cuma punya stetoskop usang dan obat seadanya." Pak Karman tertawa getir. "Stetoskop itu, katanya, sudah dua puluh tahun. Selangnya pernah putus, disambung pake lakban. Tapi beliau tak pernah ngeluh."
Siti menghela napas. Dalamnya, panjang, seperti ingin mengeluarkan seluruh beban. "Ini tak adil, Pak."
Pak Karman tertawa lagi. Tawanya sedih, getir, seperti kopi tanpa gula. "Adil? Bu Guru, adil itu barang langka di negeri ini. Tapi lihat, di sini, di warung Mak Inang, kita bisa duduk sama buruh, sama petani, sama mandor yang kebetulan lewat. Di sini, kopi harganya sama untuk semua.
Pisang goreng harganya sama. Itu keadilan versi Mak Inang."
Mak Inang yang sedang menggoreng pisang di dapur belakang tertawa mendengar namanya disebut. "Enak karena pahitnya sama untuk semua. Tak ada yang manis sendiri!" teriaknya dari belakang.
Semua tertawa. Siti ikut tertawa. Untuk beberapa saat, beban itu hilang. Yang ada hanya kopi, tawa, dan tegur sapa.
Di luar, matahari mulai tenggelam. Langit berubah warna jingga, ungu, merah jambu. Burung- burung mulai kembali ke sarangnya.
Siti memandang langit itu. Di kejauhan, cerobong tambang masih mengepul. Di dekatnya, warung Mak Inang masih ramai. Di antaranya, dua dunia yang tak pernah bertemu, tapi sore ini, untuk sesaat, mereka bersatu dalam secangkir kopi.
No comments:
Post a Comment