BAB 5
Pulang
Siti mengayuh Sim King meninggalkan pasar. Roda depannya berputar lambat, membelah debu yang sejak tadi menanti untuk diusik. Di belakang, toko Babah Acun semakin mengecil, semakin mengecil, hingga akhirnya hilang ditelan tikungan jalan.
Angin pagi menyapa wajahnya bukan angin yang biasa ia rasakan saat berjalan kaki. Ini angin yang berbeda. Ini angin yang lahir dari gerakan, dari kecepatan, dari kebebasan. Ia menerpa rambut yang keluar dari kerudung, membuatnya berkibar seperti bendera kecil.
Siti tersenyum. Lalu tertawa. Tertawa seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
Raka di boncengan ikut tertawa, meskipun ia tak tahu apa yang lucu. Tangannya memegang erat pinggang ibu. Di pelukan Siti, Ina tertidur pulas, tak terganggu oleh guncangan.
Sim King melaju. Jalannya pelan, tapi lebih cepat dari kaki. Jauh lebih cepat. Tanjakan kecil yang biasanya membuat napasnya terengah, kini ia lewati dengan mudah. Turunan yang biasanya ia lalui dengan hati-hati, kini ia biarkan roda berputar lebih cepat.
Sepanjang jalan, orang-orang menoleh.
Seorang petani di kebun lada menghentikan cangkulnya, menatap dengan mulut setengah terbuka. Lantas ia tersenyum, mengangkat tangan, melambai. "Wah, Bu Guru beli sepeda baru? Selamat ya!"
Siti membalas lambaian. "Terima kasih, Pak!"
Suaranya terbawa angin, mungkin tak sampai. Tapi Pak Tani itu tetap tersenyum, tetap melambai, hingga Siti lenyap di ujung jalan.
Seorang ibu di depan rumahnya, yang sedang menjemur kerupuk, berteriak. "Bu Guru, cantik sekali sepedanya! Merek apa?"
Siti mengerem pelan. Sepeda itu berhenti di depan rumah ibu itu. Roda depannya masih berputar sedikit, lalu berhenti.
"Sim King, Bu. Beli di Babah Acun."
Ibu itu mendekat, memegang stang, mengamati cat merah yang mengilap. "Bagus itu. Dulu suami saya juga punya. Tapi sudah dijual waktu dia pensiun. Sekarang jalannya pakai tongkat."
Matanya sendu. Tapi segera ia tersenyum lagi. "Selamat ya, Bu. Semoga berkah." Siti mengucap terima kasih, lalu mengayuh lagi.
Di pinggir jalan, rombongan buruh tambang berjalan kaki. Mereka baru pulang shift malam pakaian lusuh, wajah hitam legam terkena debu timah yang tak pernah benar-benar hilang. Beberapa menuntun sepeda butut, sepeda tua dengan cat kusam yang tak lagi terlihat warnanya. Jari-jari rodanya berkarat, bannya botak hingga seratnya keluar. Ada yang sadelnya diganti karung plastik, ada yang stangnya bengkok.
Mereka menoleh. Mereka tersenyum. Mereka melambai.
Seorang buruh tua mungkin lima puluh tahun, dengan topi lusuh yang entah sudah berapa lama tak diganti berseru. "Selamat, Bu Guru! Sepeda baru! Saya dulu juga punya Sim King. Kuat itu! Sepuluh tahun saya pakai ke tambang, tak pernah mogok!"
Siti membalas lambaian. Tapi hatinya terenyuh.
Ia melihat sepeda-sepeda butut itu. Ia melihat wajah-wajah lelah para buruh. Ia melihat tangan- tangan kapalan yang memegang stang. Dan ia bertanya dalam hati: akankah Sim King-nya juga jadi seperti itu suatu hari nanti? Akankah cat merah ini luntur, jari-jari ini berkarat, sadel ini robek?
Mungkin. Tapi itu tak penting. Yang penting, hari ini ia mengayuh. Di boncengan, Raka bertanya.
"Bu, kenapa sepeda mereka jelek-jelek?"
Siti menghela napas. Pertanyaan anak kecil yang paling sulit dijawab.
"Bukan jelek, Nak. Tua. Tapi mereka tetap setia. Sepeda itu yang anter mereka cari rezeki tiap hari. Lewat hujan, lewat panas, lewat tanjakan. Mereka tak pernah mengeluh. Mereka hanya terus berputar."
Raka diam. Matanya menatap sepeda-sepeda butut itu yang semakin menjauh. "Aku tak mau sepeda tua. Aku mau sepeda baru kayak Ibu."
Siti tertawa. Tawanya ringan, seperti gemerincing lonceng. "Nanti kalau kamu besar, Ibu belikan. Tapi ingat: sepeda baru atau tua, yang penting dia antar kita sampai tujuan. Yang penting, di atas sepeda, kita lihat orang-orang, kita sapa mereka, kita tahu bahwa kita tak sendiri di jalan."
Raka tak menjawab. Tapi tangannya memegang pinggang ibu lebih erat.
Matahari semakin tinggi. Sim King melaju melewati kebun lada yang membentang hijau. Di kiri kanan, tanaman merambat dengan buah-buah kecil yang masih mentah. Petani-petani sibuk di kebun, memetik, memupuk, merawat. Di kejauhan, cerobong tambang mengepul, mengeluarkan asap putih yang membubung ke langit.
Dua dunia. Berdampingan. Tak pernah bertemu.
Tapi hari ini, di atas Sim King, Siti merasa menjadi jembatan di antara keduanya. Ia bukan petani, bukan buruh. Ia guru. Dan guru adalah milik semua orang.
Sampai di rumah, Siti memarkir Sim King di teras. Ia mematikan sepeda itu seolah sepeda itu punya mesin lalu mengelap keringat di dahinya.
Raka turun dari boncengan. "Bu, sepedanya bagus!" "Iya, Nak."
Bapak keluar dari rumah. Matanya membelalak melihat Sim King. Ia mendekat, memegang stang, memeriksa catnya. "Wah, Bu, bagus sekali. Merah mengilap."
Siti tersenyum. "Iya, Pak. Ini Si Merah." "Si Merah?"
"Iya. Nama panggilannya."
Bapak mendekat, memegang stang, memeriksa jeruji. "Bu, saya ingat dulu, waktu pertama kali lihat mobil jemputan tambang. Saya mikir, 'Kapan ya saya bisa punya kendaraan?' Sekarang, Ibu punya sepeda. Ini langkah besar."
Siti tersenyum. "Berkat Bapak juga." "Bukan berkat saya. Berkat kerja keras Ibu."
Malam harinya, setelah makan, Siti duduk di teras. Di depannya, Si Merah terparkir. Cahaya lampu minyak menyorotinya, membuat cat merahnya berkilau seperti bara api.
Siti mengambil kain lap. Ia membersihkan stang, membersihkan sadel, membersihkan jeruji- jeruji roda. Satu per satu. Perlahan. Dengan penuh cinta.
Bapak duduk di sampingnya, minum kopi. "Senang, Bu?"
Siti mengangguk. "Bukan karena dipuji, Pak. Tapi karena mereka menyapa. Mereka peduli. Dulu waktu jalan kaki, jarang yang tegur. Sekarang naik sepeda, semua kenal. Semua punya waktu untuk melambai."
"Tapi lihat mereka yang naik sepeda butut, Bu. Mereka juga menyapa. Padahal sepedanya sudah reyot. Padahal hidup mereka berat."
"Itulah indahnya sepeda, Pak. Di jalan, semua sama. Yang kaya, yang miskin sama-sama berkeringat, sama-sama capek, sama-sama butuh istirahat di warung kopi. Di atas sepeda, tak ada pager pemisah."
Bapak tersenyum. Ia memandang Si Merah yang mengilap di bawah lampu.
"Bu, sepeda ini akan melihat anak-anak kita tumbuh. Dia akan melihat Raka besar, Ina lahir, mereka sekolah, mereka dewasa. Dia akan ada di sana."
Siti memandang suaminya. Di matanya, ada keyakinan bahwa sepeda ini akan menjadi lebih dari sekadar kendaraan.
Malam semakin larut. Jangkrik bernyanyi. Bintang-bintang bertaburan di langit.
Siti mengelap jeruji roda yang terakhir. Lalu ia berbisik, pelan, hanya untuk sepeda itu.
"Si Merah, kau akan menemani kami. Kau akan menjadi saksi. Saksi perjuangan, saksi air mata, saksi tawa. Jangan pernah lelah, ya."
Sepeda itu diam. Tapi dalam diamnya, ada jawaban.
No comments:
Post a Comment