BAB 4
Babah Acun
Toko Sepeda Acun Motor terletak di ujung Pasar Manggar, persis di pertigaan menuju kawasan tambang. Bangunannya tua, tapi bukan tua yang rapuh tua yang kokoh, seperti pohon beringin yang akarnya sudah menjalar ke mana-mana. Dindingnya papan cat hijau pudar, warnanya sudah hampir tak terbedakan lagi antara hijau dan abu-abu, seperti langit senja yang kehilangan namanya.
Etalase kacanya berdebu, tapi di balik debu itu, tergantung sebuah papan kayu dengan tulisan tangan yang sudah hampir tak terbaca: "ACUN MOTOR - SEPEDA BARU & BEKAS - CICILAN MURAH." Huruf-hurufnya miring, seperti orang yang berjalan sambil lalu.
Siti berdiri di depan toko itu, menunduk sebentar untuk membetulkan kerudung. Tangannya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena harapan. Di dalam dompetnya, hanya ada uang lima puluh ribu rupiah uang muka yang ia sisihkan dari gaji bulan lalu. Tapi Babah Acun bilang bisa cicil. Babah Acun bilang percaya sama guru.
Ia mendorong pintu. Pintu itu berderit, suaranya seperti erangan panjang yang keluar dari dada orang tua. Bau oli, bau besi, bau karet terbakar, dan bau debu debu yang sudah bertahun-tahun tak terusik menyergap hidungnya. Siti mengernyit, tapi segera terbiasa.
Di dalam, gelap. Cahaya matahari hanya masuk dari dua jendela kecil di dinding belakang, tapi sinarnya tertahan oleh tumpukan ban bekas yang menjulang seperti gunung. Lampu minyak di sudut ruangan menyala redup, membuat bayang-bayang menari di dinding papan.
Dan di antara bayang-bayang itu, Siti melihat sesuatu yang membuatnya tertegun.
Sepeda-sepeda. Puluhan sepeda. Mereka tergantung di langit-langit, bersandar di dinding, berjejer di lantai. Ada yang baru, catnya mengilap seperti baru keluar dari pabrik. Ada yang tua, karatnya sudah merambat di seluruh badan. Ada yang utuh, ada yang tinggal rangka. Mereka seperti pasukan diam yang menunggu komando.
Di sudut, seorang pegawai tambang dengan pakaian rapi sedang memilih sepeda. Jarinya menelusuri stang Phoenix buatan Inggris, matanya berbinar. Di sebelahnya, seorang buruh tambang dengan telapak tangan kapalan memegang stang Sim King, ragu-ragu. Bibirnya berkomat-kamit, mungkin menghitung uang di sakunya. Di pojok lain, seorang guru tua memeriksa ban cadangan, memutar-mutarnya di tangan, mencium baunya, seperti orang memeriksa buah sebelum membeli.
Dan di tengah semua itu, Babah Acun.
Ia duduk di kursi rotan di belakang meja kayu yang penuh dengan onderdil. Wajahnya sudah tua rambut putih tipis di kepala, kumis tebal yang juga memutih, kacamata bulat dengan tali yang melingkar di leher. Tapi matanya masih tajam. Matanya seperti elang yang mengamati mangsanya, tapi tanpa keganasan.
Babah Acun tersenyum. "Selamat datang, Bu Guru."
Suaranya pelan, seperti bisikan, tapi Siti mendengarnya jelas. Mungkin karena di toko itu sunyi. Mungkin karena semua orang tahu bahwa di sini, suara tak perlu keras untuk didengar.
Siti mendekat. Langkahnya pelan, menghindari onderdil-onderdil yang berserakan di lantai. Di sebelah kanannya, tumpukan jeruji roda berkarat. Di sebelah kirinya, ban-ban bekas digantung di paku-paku besar yang menancap di dinding. Di atas kepalanya, sebuah rangka sepeda tanpa roda bergantung, seperti kerangka dinosaurus di museum.
"Babah tahu saya akan datang?" tanya Siti. Suaranya berbisik, tanpa sebab.
Babah Acun tertawa. Tawanya renyah, seperti kerupuk digoreng. "Bu Guru, semua guru di Manggar akhirnya datang ke sini. Setelah lelah jalan kaki berbulan-bulan, mereka sadar: butuh sepeda. Ibu yang ke-12."
Ia berhenti sebentar, menatap Siti dengan mata yang sayu tapi tajam. "Dan Ibu datang di saat yang tepat. Saya baru saja dapat kiriman Sim King dari Jakarta."
Siti menghela napas. Lega.
Babah Acun bangkit dari kursinya. Jalannya pelan, sedikit pincang. Ia menunjuk ke jajaran sepeda di tokonya dengan tongkat yang selama ini tak Siti lihat.
"Ini Phoenix, buatan Inggris. Bagus, kuat. Rangka baja, tak akan patah tujuh turunan." Jarinya menelusuri sepeda itu. "Tapi mahal biasanya untuk pegawai tambang, mandor, orang kaya."
Ia berjalan sedikit, menunjuk sepeda lain. "Ini Raleigh, juga bagus. Ini Fuji, dari Jepang ringan, cepat. Tapi juga mahal."
Kemudian ia berhenti. Di depannya, bersandar di dinding, ada sepeda merah. Merah tua, seperti warna batu bata yang basah. Catnya mengilap, stikernya masih utuh. Di stangnya, tertulis "SIM KING" dengan huruf tebal huruf-huruf yang dicat dengan tangan, bukan cetakan pabrik.
"Dan ini Sim King."
Babah Acun memegang stang sepeda itu. Tangannya yang keriput membelainya, seperti membelai anak sendiri. "Sinar Indonesia King. Buatan dalam negeri, onderdil dari Cina. Saya ambil sendiri dari distributor Cina di Glodok, Jakarta. Naik kereta api, tiga hari dua malam."
Matanya menerawang. "Dulu, waktu masih muda, saya naik kereta api ke Jakarta. Gerbongnya penuh. Bau keringet, bau asap rokok, bau ikan asin yang dibawa pedagang. Tiga hari dua malam duduk di kursi kayu, tak bisa tidur. Tapi setiap kali sampai di Glodok, saya lupa semua lelah. Di sana, ribuan onderdil menunggu. Saya pilih yang terbaik. Saya bawa pulang. Untuk rakyat Manggar."
Siti diam. Ia tak tahu bahwa di balik setiap sepeda di toko ini, ada perjalanan tiga hari dua malam.
"Onderdil dari Cina?" tanya Siti akhirnya.
"Iya, Bu." Babah Acun menatapnya. "Dulu, leluhur saya dari Cina. Mereka datang ke sini bawa onderdil, bawa dagangan, bawa mimpi. Saya terima warisan itu. Onderdil Cina itu bagus, murah, dan cocok untuk rakyat. Tak perlu gengsi, yang penting sampai tujuan."
Siti mengulurkan tangan, memegang stang Sim King. Dingin. Kokoh. Di tangannya, ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Seperti janji. Seperti harapan.
Ia membayangkan dirinya mengayuh sepeda ini melewati tanjakan Samak. Angin menerpa rambut. Raka di boncengan, tertawa. Kaki tak lagi lelah. Waktu tak lagi mendesak.
"Harganya?" tanya Siti.
Babah Acun menyebut angka. Angka yang membuat Siti menelan ludah. Tapi ia sudah siap. "Saya ambil satu, Babah. Tapi boleh dicicil?"
Babah Acun mengedip. Matanya yang sayu tiba-tiba berbinar. "Untuk Bu Guru, khusus. Cicil tiga bulan, tanpa bunga."
Siti tersenyum lebar. Senyum yang sudah lama tak muncul senyum yang lahir dari harapan.
Ia mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya. Uang itu lecek, tapi ia merapikannya dulu sebelum diberikan. Babah Acun menerimanya dengan hormat, seperti menerima sesuatu yang suci.
"Ini uang muka, Babah."
Babah Acun mengangguk. "Sim King ini Ibu bawa pulang sekarang. Nanti bayar cicilannya tiap bulan."
Siti terkejut. "Langsung dibawa?"
Babah Acun tertawa. "Bu Guru, saya percaya sama guru. Guru tak akan lari." Siti memegang stang Sim King lagi. Kali ini lebih erat.
Sebelum pergi, Babah Acun memanggilnya. Tangannya yang keriput meraih lengan Siti. "Bu Guru, satu pesan saya."
Siti menoleh.
"Naik sepeda itu bukan cuma transportasi. Ibu akan lihat senyum sepanjang jalan. Dari buruh tambang, dari petani, dari siapa saja. Simpan senyum itu. Karena suatu hari, mungkin senyum itu akan hilang."
Siti tak sepenuhnya mengerti. Tapi ia mengangguk.
Di luar, matahari semakin tinggi. Siti mendorong Sim King keluar dari toko. Roda depannya berderit, lalu berputar. Debu beterbangan.
Di ambang pintu, ia menoleh sekali lagi. Babah Acun masih duduk di kursi rotannya. Di belakangnya, ribuan onderdil menunggu. Di belakangnya, puluhan sepeda tergantung. Di belakangnya, tiga puluh tahun sejarah.
Siti tersenyum. Lalu ia menaiki sepeda itu dan mulai mengayuh.
Angin pagi menyapa wajahnya. Rambutnya berkibar. Dan untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia merasa seperti terbang.
No comments:
Post a Comment