Sunday, April 5, 2026

BAB 3

Sebuah Kisah dari Bapak

Tahun 1985

Malam masih pekat ketika Bapak membuka mata. Di sampingnya, Siti terlelap dengan napas teratur lelah yang terbayar oleh mimpi tentang sepeda. Bapak tersenyum. Ia bangun perlahan, tak ingin membangunkan istrinya.

Di luar, ayam jantan belum berkokok. Tapi Bapak sudah duduk di kursi bambu di teras, memandang ke arah timur ke Tanjakan Kantor Telepon, ke rumah-rumah gedong yang lampunya masih menyala, ke kantor tambang di puncak yang samar-samar mulai tampak.

Ia menghela napas. Malam tadi ia bercerita pada Siti tentang masa lalunya sebagai buruh tambang. Tapi tidak semua cerita ia tuturkan. Ada satu kisah yang selama ini ia pendam, bahkan dari Siti. Kisah tentang seorang gadis, tentang sepasang sepatu, dan tentang tanjakan yang tak pernah bisa ia lupakan.

Mata Bapak menerawang jauh, menembus waktu dua puluh tahun ke belakang.

Tahun 1965

Tanjakan Kantor Telepon Masih sama, tapi berbeda

Bapak waktu itu masih dipanggil Aman, nama kecilnya berjalan tertatih di pinggir Tanjakan Kantor Telepon. Usianya baru lima belas tahun, tapi tubuhnya sudah terbiasa dengan debu dan panas. Kaki kirinya menginjak tanah, kaki kanannya... kaki kanannya hanya terbalut kain lusuh yang diikat tali rafia.

Ia buruh tambang paling muda di lereng ini. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ia sudah berjalan dari rumahnya yang lebih jauh di kaki bukit selatan. Lima belas kilometer ia tempuh setiap hari, naik turun bukit, melewati mata air Mat Yasi, melewati pertigaan tempat rumah Siti kini berdiri saat itu masih kebun kosong lalu mendaki Tanjakan Kantor Telepon menuju tambang.

Sepatu? Barang mewah. Ia hanya punya sepasang sandal jepit yang sudah putus talinya minggu lalu. Kini kaki kanannya dibalut kain bekas karung beras yang dicuci berkali-kali sampai lunak. Setiap melangkah, ia harus berhati-hati. Batu-batu kecil di aspal terasa seperti pecahan kaca.

Di kanan-kirinya, rumah-rumah gedong mulai terlihat. Beberapa sudah ada sejak zaman Belanda, beberapa baru dibangun untuk pegawai tambang. Dari balik pagar besi, ia bisa melihat halaman luas, mobil-mobil terparkir, kadang anak-anak bermain sepeda di halaman.

Aman menunduk. Ia tak ingin melihat. Tapi matanya selalu tertarik ke sana ke kehidupan yang begitu dekat, tapi tak tersentuh.

Suatu sore, sepulang kerja, ia bertemu dengan seorang gadis di pinggir Tanjakan Kantor Telepon. Gadis itu duduk di atas batu besar, memegangi kakinya. Wajahnya menyeringai kesakitan.

"Kamu kenapa?" tanya Aman.

Gadis itu menengadah. Matanya bulat, hitam, seperti dua butir kemiri yang direndam sama seperti Raka sekarang. Rambutnya dikucir dua, bajunya bersih meskipun sederhana.

"Sepatuku lepas," katanya. "Jatuh ke jurang."

Aman menoleh ke tepi jalan. Di sana, jurang sedalam lima meter dengan semak belukar di dasarnya. Jelas tak mungkin turun ke sana.

"Kamu tinggal di mana?"

Gadis itu menunjuk ke atas ke arah rumah-rumah gedong. Tapi bukan rumah gedong yang ia tunjuk, melainkan sebuah gubuk kecil di belakang salah satu rumah gedong itu.

"Di sana. Bapakku penjaga rumah Pak Mandor."

Aman mengangguk. Ia tahu kehidupan seperti itu bekerja untuk orang kaya, tinggal di gubuk di belakang rumah gedung, hidup dari sisa-sisa.

"Jalan saja dulu," kata Aman. "Nanti kulihat nanti."

Gadis itu ragu. Tapi Aman sudah membalikkan badan, berjalan menuruni tebing dengan hati- hati. Kain di kaki kanannya basah oleh keringat, tapi ia tak peduli.

Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan sepatu di tangan. Sepatu itu sepatu coklat dengan sol yang masih tebal bersih dari tanah setelah ia lap dengan ujung kain di kakinya.

"Ini," katanya, mengulurkan sepatu.

Gadis itu memandanginya. Matanya berbinar. Tapi kemudian matanya jatuh ke kaki Aman ke kain lusuh yang membalut kaki kanannya.

"Kamu... nggak pakai sepatu?" Aman tersenyum. "Nggak punya."

Gadis itu terdiam lama. Lalu tiba-tiba ia melepas sepatu kirinya. "Pakai ini."

Aman terkejut. "Apa?"

"Pakai ini. Aku punya sepatu cadangan di rumah. Ini... ini buat kamu."

Aman menolak. Tapi gadis itu memaksa. Ia meletakkan sepatu itu di pangkuan Aman, lalu berlari kecil menaiki tanjakan satu kaki telanjang, satu kaki memakai sepatu.

"Nama aku Siti!" teriaknya dari kejauhan. "Terima kasih!"

Aman memandangi sepatu di pangkuannya. Hangat. Masih terasa hangat dari kaki gadis itu. Ia tertawa kecil tawa yang lahir dari keheranan, dari kebaikan yang tak terduga.

Ia tak tahu bahwa sepatu itu akan ia simpan selama dua puluh tahun. Dan ia tak tahu bahwa gadis itu kelak akan menjadi istri yang setiap malam merendam kaki di baskom, dengan sepatu bolong yang sama yang kini ada di pojok ruangan.

Tahun 1985

Kembali ke Malam Ini

Bapak tersentak dari lamunan. Di belakangnya, Siti muncul dengan selendang di bahu. "Pak, belum tidur?"

Bapak menoleh. Di matanya, Siti masih sama seperti dulu gadis kecil dengan sepatu di tangan, yang berlari menaiki tanjakan dengan satu kaki telanjang, sambil tersenyum lebar.

"Belum, Bu. Lamunan."

Siti duduk di sampingnya. "Lamunan apa?"

Bapak tersenyum. Ia ragu sejenak. Tapi kemudian ia bangkit, masuk ke dalam rumah. Dari balik lemari yang miring itu, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil kotak yang selama ini tak pernah Siti buka.

"Ini," kata Bapak, membuka kotak itu.

Di dalamnya terbungkus kain usang. Siti membukanya perlahan. Matanya membulat.

Sepatu. Sepatu coklat. Dengan sol yang masih tebal karena tak pernah dipakai.

"Ini..."

"Sepatu itu, Bu. Sepatu yang kau berikan padaku dua puluh tahun lalu, di Tanjakan Kantor Telepon."

Siti memandang suaminya. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Lalu perlahan, senyum mengembang di wajahnya senyum yang melebar, yang membuat matanya berkerut, yang lahir dari keharuan yang terlalu dalam untuk ditangisi.

"Kau... kau simpan selama ini?" Suaranya bergetar, tapi senyumnya tetap lebar.

Bapak mengangguk, ikut tersenyum. "Aku tak pernah punya uang untuk beli sepatu sendiri. Tapi sepatu ini... sepatu ini terlalu berharga untuk dipakai. Ini bukan sekadar sepatu, Bu. Ini... ini awal segalanya."

Siti tertawa kecil tawa yang hangat, tawa yang membahagiakan. Ia memegang sepatu itu, membolak-baliknya, seperti memegang barang antik yang tak ternilai.

"Pak, aku tak tahu... Dua puluh tahun?"

"Dua puluh tahun, tiga bulan, dan... seminggu," jawab Bapak, ikut tertawa. "Aku hitung, lho."

Siti tertawa lebih keras. Tawanya menggetarkan dinding papan, membangunkan ayam di halaman yang ikut berkokok meski masih malam.

"Bapak ini... memang gila."

"Gila karena cinta, Bu. Kata orang, itu penyakit yang paling enak."

Siti memukul lengan suaminya pelan. Lalu ia memandangi kedua sepatu itu yang bolong di pojok ruangan, dan yang mulus di tangannya.

"Jadi... ini sebabnya Bapak tak pernah protes setiap kali aku beli sepatu baru?"

Bapak mengangkat bahu. "Sepatu barumu cuma satu tiap lima tahun. Dan itu pun bolong lagi dalam setahun. Mana bisa protes?"

Mereka tertawa bersama. Di luar, dari arah mata air, suara air mengalir terdengar sayup-sayup. Seperti dua puluh tahun lalu tak pernah berubah, tak pernah berhenti memberi.

Siti memegang tangan Bapak. "Terima kasih, Pak. Bukan karena sepatunya. Tapi karena... karena kau menyimpan cerita ini. Karena kau menyimpan aku, selama ini."

Bapak menggeleng. "Justru aku yang berterima kasih, Bu. Karena dulu, kau memberiku lebih dari sepatu. Kau memberiku harapan. Bahwa di dunia yang penuh rumah gedong dan pagar besi ini, masih ada orang yang peduli pada orang lain. Bahkan pada buruh kecil bertelanjang kaki."

Siti tersenyum. Senyum yang sama seperti dua puluh tahun lalu saat ia berlari menaiki tanjakan dengan satu kaki telanjang.

"Besok, Pak. Sepeda itu. Kita beli bersama." "Bersama," ulang Bapak.

Mereka berdua memandang ke arah timur. Tanjakan Kantor Telepon mulai tampak samar-samar. Lampu-lampu rumah gedong mulai redup. Tapi di kaki langit, semburat jingga mulai merekah.

Di dalam, Raka terbangun sebentar. Ia melihat orang tuanya duduk di teras, berpegangan tangan, tersenyum. Ia ikut tersenyum, lalu kembali tidur. Dalam mimpinya, sepeda merah itu masih mengilap, siap dikayuh ke mana pun.

Keesokan harinya, Siti bangun sebelum subuh. Ia membuka lemari dan mengeluarkan sepatu bolong itu. Ia meletakkannya di samping sepatu pemberian Bapak sepatu yang dua puluh tahun lalu ia berikan, yang selama ini tersimpan rapi.

Dua sepatu. Dua cerita. Satu perjalanan.

Ia memandanginya lama, lalu tersenyum lebar. "Kalian berdua," bisiknya, "sama-sama bolong. Yang satu bolong solnya, yang satu bolong... karena tak pernah dipakai."

Ia tertawa sendiri.

Lalu ia melangkah ke luar, menuju mata air Mat Yasi. Di sana, antrean ibu-ibu sudah mulai ramai. Mereka menyapanya, bertanya tentang rencana beli sepeda.

"Sudah dapat uangnya, Siti?" tanya Mak Inang.

"Belum, Mak. Tapi nanti." Siti tersenyum lebar. "Bapak bilang, mimpi itu harus dicicil, sama seperti sepeda."

Semua tertawa.

Seorang tetangga bertanya, "Siti, sepatumu kok dua? Yang satu bagus, yang satu bolong?"

Siti memandangi kedua sepatu di kakinya. Ia sengaja memakai keduanya yang bolong di kiri, yang pemberian Bapak di kanan.

"Ini, Mak," jawabnya sambil tertawa. "Yang bolong ini untuk mengingatkan aku dari mana aku memulai. Yang bagus ini untuk mengingatkan siapa yang selalu menemani. Dan dua-duanya..." Ia tertawa lagi. "Dua-duanya bolong isi dompet!"

Pecah tawa di antrean mata air. Mereka tertawa, bukan karena kasihan, tapi karena bahagia karena melihat Siti, yang sepuluh tahun lalu datang ke kampung ini sebagai pengantin baru, kini berdiri tegak dengan dua sepatu berbeda di kaki, dengan senyum yang tak pernah pudar.

Mata air terus mengalir. Tak pernah pilih-pilih. Tak pernah berhenti memberi.

Dan di Tanjakan Kantor Telepon, seorang gadis kecil yang dulu berlari dengan satu sepatu kini berjalan tegak, dengan dua sepatu berbeda di kaki, ditemani oleh cinta yang tak pernah pudar.

Sambil tersenyum. Selalu tersenyum.

No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...