BAB 2
Rumah
Tahun 1985
Rumah itu berdiri di ujung pertigaan, tepat di mana jalanan mulai menanjak menuju bukit. Tapi bukan sekadar di kaki bukit rumah itu berada di titik pertemuan tiga tanjakan, tiga jalur kehidupan yang menjadi saksi bisu warga Manggar.
Dari teras depan, menghadap ke utara, tampak jelas Tanjakan Samak. Di pagi hari, Siti bisa melihat para pesepeda menuntun kendaraan mereka, terengah-engah menaklukkan kemiringan lima belas derajat sepanjang lima puluh meter itu. Kadang ia melihat buruh tambang dengan sepeda bututnya, kadang guru-guru yang kelelahan. Tanjakan Samak selalu ramai, seperti pasar kehidupan.
Di sebelah kanan rumah, ke arah timur, terbentang Tanjakan Kantor Telepon. Lebih panjang dari Samak tujuh puluh meter dengan kemiringan sepuluh derajat tanjakan ini landai tapi menguras tenaga. Di sepanjang lerengnya, berjejer rumah-rumah bagus yang oleh warga disebut rumah gedong. Dindingnya tembok, bukan papan. Catnya terawat, tidak mengelupas.
Halamannya luas, berpagar besi, kadang terlihat mobil atau motor terparkir di sana. Rumah- rumah itu milik para pegawai yang memegang jabatan di industri tambang mandor, pengawas, kepala bagian. Mereka yang setiap pagi naik ke puncak bukit, ke kantor PT Tambang yang megah dengan bendera merah putih berkibar di depannya.
Di puncak Tanjakan Kantor Telepon, sebelum sampai ke kantor tambang, samar-samar terlihat atap warung Mak Inang satu-satunya warung di kawasan itu yang milik orang biasa, tempat para guru nanti akan sering berkumpul. Dari warung itulah batas itu terasa: di atasnya, kawasan tambang dengan rumah-rumah gedong dan fasilitas lengkap; di bawahnya, kampung biasa dengan rumah papan dan tanah berdebu. Siti sering membayangkan dirinya duduk di warung
Mak Inang suatu hari, minum kopi, memandang ke bawah ke arah rumahnya yang kecil, dan mungkin juga memandang ke atas ke arah rumah-rumah gedong yang tak akan pernah ia tempati.
Di selatan, tersembunyi di kaki bukit, mata air Mat Yasi tak pernah kering sepanjang tahun. Airnya jernih, dingin, dan tak pernah berhenti mengalir, berapa pun yang mengambil. Warga menyebutnya "air berkah". Setiap pagi, puluhan ibu-ibu antre dengan ember dan jeriken. Mereka mengobrol, tertawa, berbagi kabar, sambil menunggu giliran mengisi. Mata air Mat Yasi tak pernah mengeluh, tak pernah kekurangan. Ia memberi tanpa pamrih, seperti kehidupan itu sendiri.
Rumah Siti memang terletak di lokasi istimewa kaki bukit yang dikelilingi tanjakan. Di selatan, bukit menjulang dengan mata air Mat Yasi yang tak pernah kering. Di utara, Tanjakan Samak menanti para pesepeda dengan tantangannya. Di timur, Tanjakan Kantor Telepon membentang panjang, dengan rumah-rumah gedong di lerengnya dan kantor tambang di puncaknya. Ketiga jalur itu seperti urat nadi yang menghidupi kampung, sekaligus pengingat akan jarak antara mereka yang tinggal di rumah papan dan mereka yang mendiami rumah gedong.
Dinding rumahnya papan, cat hijau di luarnya sudah mengelupas di sana-sini mengelupas seperti kulit ular yang berganti, atau seperti kertas dinding yang sengaja disobek. Di beberapa tempat, papan-papan itu sudah mulai lapuk, meninggalkan lubang-lubang kecil tempat angin malam masuk. Tapi dari lubang-lubang itu, Siti bisa mendengar suara air mengalir dari kejauhan, suara alam yang menenangkan.
Atapnya seng, yang di musim kemarau memantulkan panas begitu rupa sehingga siapa pun yang masuk akan merasa seperti masuk ke dalam oven. Di musim hujan, atap itu menjadi genderang, setiap tetes air adalah pukulan yang tak beraturan, menciptakan musik yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tak punya pilihan.
Halaman tanahnya luas, tapi tak terawat. Singkong tumbuh di sana-sini, liar dan tak beraturan. Beberapa pohon pisang menjulang di pojok, daunnya yang lebar kadang digunakan Raka sebagai payung darurat. Di antara singkong dan pisang itu, seekor ayam betina berkotek, memanggil anak-anaknya yang entah ke mana.
Dari halaman ini, jika Raka berlari ke ujung, ia bisa melihat antrean panjang di mata air. Ibu-ibu dengan ember di kepala, bapak-bapak dengan jeriken di pundak, anak-anak kecil membantu orang tua mereka. Antrean itu bukan beban, tapi justru menjadi ajang silaturahmi. Di sanalah kabar kampung beredar, di sanalah tawa dan canda bersahutan.
Di tengah hiruk-pikuk tanjakan dan gemericik air itulah Siti pulang setiap sore. Kini, ia melangkah masuk.
Kaki kirinya menginjak tanah, kaki kanannya menginjak papan yang berderit. Derit itu sudah begitu akrab, seperti sapaan selamat datang yang tak pernah berubah.
Di dalam, ruangan itu gelap. Cahaya masuk hanya dari dua jendela kecil yang kacanya sudah buram. Tapi meski gelap, rumah ini hangat. Hangat oleh cinta yang tak terukur.
Di sudut, dipan bambu tempat mereka tidur beralaskan tikar yang sudah usang. Di sebelahnya, lemari kayu dengan satu pintu yang miring peninggalan dari seseorang yang entah siapa.
Raka duduk di lantai, di antara mobil-mobilan kayu buatan Bapak. Mobil itu sederhana hanya papan bekas yang dipotong membentuk badan mobil, dengan empat tutup botol sebagai roda. Tapi bagi Raka, itu adalah kendaraan tercepat di dunia.
"Ibu capek," kata Siti sambil melepas sepatu. Sepatu itu sepatu coklat dengan sol bolong di ujung dilemparnya ke pojok, seperti biasa. Besok pagi, ia akan memakainya lagi. Besok pagi, sol bolong itu akan kembali menganga, membiarkan debu jalanan masuk.
Raka mengangkat wajah. Matanya bulat, hitam, seperti dua butir kemiri yang direndam. "Bu, kenapa Ibu tak beli sepeda?"
Siti menatap anaknya. Di matanya, ia melihat kelelahan yang sama yang ia rasakan. Tapi di matanya juga ada harapan, keyakinan bahwa suatu hari nanti, ibunya akan mengayuh sepeda, dan ia akan duduk di boncengan.
"Sepeda? Mahal, Nak."
"Tapi Ibu capek jalan."
Siti tertawa kecil. Ia mengusap kepala Raka. Rambut anak itu lembut, seperti kapas. Di sela-sela jarinya, ia bisa merasakan hangatnya kepala anaknya. Hangat yang sama yang selalu menemaninya di malam-malam dingin.
"Iya, Nak. Ibu capek. Tapi besok Ibu mau beli sepeda. Tak jalan kaki lagi." Mata Raka berbinar. "Sepeda apa, Bu?"
"Sim King. Kata orang, merek bagus. Harganya cuma dua puluh persen dari harga motor." "Kenapa tak beli motor aja, Bu?"
Siti tertawa lebih keras. Tawanya menggetarkan dinding papan. Raka ikut tertawa, meskipun tak tahu apa yang lucu.
"Motor? Buat beli beras aja kadang kurang, Nak. Yang penting kita bisa jalan, bisa gerak. Sepeda itu cukup."
Malam itu, Siti duduk di kursi bambu di teras. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat tiga tanjakan sekaligus. Di utara, Tanjakan Samak mulai gelap, lampu-lampu kendaraan sesekali melintas. Di timur, Tanjakan Kantor Telepon membentang panjang di lerengnya, lampu-lampu rumah gedong mulai menyala satu per satu, berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Di puncaknya, kantor PT Tambang tampak sebagai siluet besar, dengan beberapa titik terang di sana-sini. Di selatan, dari arah mata air, hanya terdengar samar-samar suara air mengalir sumber kehidupan yang tak pernah tidur, milik semua orang tanpa kecuali.
Sebuah baskom plastik biru berisi air hangat di depannya. Kedua kakinya direndam, membiarkan hangatnya meresap ke otot-otot yang pegal. Air itu mulai keruh kotoran dari jalanan, debu, keringat, semuanya bercampur.
Bapak duduk di sampingnya, membaca koran bekas. Koran itu sudah kusut, sampulnya sobek di sana-sini. Tapi Bapak membacanya dengan teliti, seolah semua berita di dalamnya adalah yang terbaru.
"Bu, tadi lihat istri mandor tambang?" tanya Bapak tanpa mengangkat wajah. "Iya, Pak. Lihat dia belanja naik mobil jemputan. Mewah sekali."
Bapak meletakkan koran. Matanya menatap istri. Di matanya, ada kelelahan yang sama. Tapi juga ada ketabahan, keyakinan bahwa suatu hari nanti, semuanya akan membaik.
"Itulah, Bu. Ini warisan kolonial. Dulu Belanda bikin aturan: pegawai Eropa dapat fasilitas lengkap, pribumi hanya pekerja. Sekarang merdeka udah empat puluh tahun, tapi aturannya masih kerasa. Lihat itu rumah-rumah gedong di lereng milik mereka yang duduk di kursi tambang. Dan lihat kita di sini, di rumah papan, bersyukur masih punya atap."
Siti menghela napas. Ia tahu suaminya benar. Matanya sempat tertumbuk pada kerlap-kerlip lampu di kejauhan, di lereng Tanjakan Kantor Telepon. Rumah-rumah gedong itu, dengan halaman luas dan pagar besi, dengan mobil dan motor yang terparkir rapi. Lalu ia memandangi sepatu bolong di pojok ruangan.
"Iya, Pak. Memang tidak adil." Ia menarik napas, lalu kembali menatap suaminya. "Tapi setidaknya dengan sepeda ini nanti... sepeda ini milik semua orang. Pegawai tambang di rumah gedong itu pun mungkin punya sepeda buat anaknya. Di jalan, mereka sama: sama-sama mengayuh, sama-sama berkeringat, sama-sama capek kalau menanjak. Naik ke arah kantor mereka, atau turun ke pasar kami di tanjakan itu, kami setara. Seperti mata air Mat Yasi yang tak pernah pilih-pilih semua orang boleh mengambil, tanpa tanya kau tinggal di rumah apa."
Bapak tersenyum. Senyum yang lahir dari kekaguman pada istrinya yang selalu bisa melihat sisi terang.
"Iya, Bu. Sepeda memang pemersatu. Di tanjakan, derajat luntur oleh keringat. Seperti air Mat Yasi, yang memberi tanpa pernah meminta balas."
Di dalam, Raka sudah tidur. Di sampingnya, Ina adiknya yang baru berusia satu tahun terlelap di ayunan bambu buatan Bapak. Ayunan itu sederhana hanya bambu yang dilubangi, diikat tali, digantung di atap. Tapi Ina tampak nyaman di sana, mimpinya mungkin tentang ibu yang tak pernah lelah.
Siti memandangi anak-anaknya. Raka dengan mobil-mobilan kayunya, Ina dengan ayunan bambunya. Mereka mungkin tak punya banyak hal. Tapi mereka punya cinta. Cinta yang tak bisa dibeli dengan uang. Cinta yang tak bisa dikendarai dengan mobil jemputan. Cinta yang tak bisa dipagari besi seperti rumah gedong di lereng bukit.
"Pak," kata Siti tiba-tiba. "Ya, Bu?"
"Saya mau beli sepeda."
Bapak terdiam lama. Matanya menerawang ke luar, ke arah bukit di kejauhan, tempat tambang- tambang itu berada, tempat rumah-rumah gedong berjejer, tempat hidup begitu berbeda hanya karena jabatan dan nasib.
"Bu," katanya akhirnya, "saya tahu rasanya capek. Saya tahu rasanya kaki pegal, punggung sakit, tapi harus tetap jalan."
Siti menoleh. "Pak?"
Bapak tersenyum. "Dulu, sebelum jadi guru, saya buruh tambang. Setiap hari jalan kaki lima belas kilometer. Naik turun bukit, panas, hujan, debu semua saya lalui. Saya lewat depan rumah- rumah gedong itu setiap hari. Saya lihat mereka duduk di teras, minum teh, baca koran, sementara saya berjalan kaki dengan pakaian penuh debu. Saya nggak punya sepeda. Saya nggak punya apa-apa."
Siti terkejut. "Bapak nggak pernah cerita."
"Iya. Malu. Tapi malam ini saya mau cerita. Karena saya lihat Ibu capek. Saya lihat Ibu berjuang. Saya lihat Ibu seperti saya dulu."
Ia meraih tangan Siti.
"Bu, sepeda itu bukan cuma kendaraan. Itu simbol. Simbol bahwa kita bisa lebih baik. Saya dulu nggak punya, sekarang Ibu punya. Itu sudah kemajuan. Besok, Raka dan Ina akan punya lebih dari kita. Mungkin suatu hari mereka bisa tinggal di rumah gedong itu, atau bahkan lebih bagus dari itu. Itu yang saya harapkan."
Siti menunduk. Air matanya jatuh. "Pak..."
"Beli, Bu. Nanti kita cicil. Bareng-bareng. Saya akan bantu. Mungkin saya bisa ngasih les tambahan, dapat uang ekstra."
Siti memeluk suaminya. Di tengah dinginnya malam, ada kehangatan yang tak terukur.
Di luar, dari arah mata air, suara air mengalir terdengar sayup-sayup. Sumber itu terus memberi, tak pernah berhenti. Seperti harapan, seperti cinta, seperti kehidupan itu sendiri. Dan di lereng bukit, lampu-lampu rumah gedong masih berkelip, menyaksikan dari kejauhan sebuah keluarga kecil yang bermimpi tentang sepeda.
Di dalam, Raka bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat ayahnya masih muda, dengan pakaian lusuh penuh debu, berjalan di bawah terik matahari melewati rumah-rumah gedong. Lalu ayahnya berubah, memakai kemeja rapi, menjadi guru. Dan di sampingnya, ada sepeda merah yang mengilap. Dalam mimpi itu, Raka mengayuh sepeda melewati Tanjakan Kantor Telepon, melewati rumah-rumah gedong, dan semua orang tersenyum kepadanya.
Mimpi itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Raka tersenyum dalam tidurnya.
Di keesokan harinya, Siti bangun sebelum subuh. Ia mengambil sepatu bolong itu dari pojok, memandanginya lama. Lalu ia tertawa kecil bukan tawa getir, tapi tawa yang lahir dari keyakinan baru.
"Sepeda ini nanti," bisiknya pada sepatu itu, "kau boleh istirahat. Tapi kau tetap akan ku simpan. Untuk mengingatkan dari mana kita memulai."
Ia melangkah ke luar. Di ujung timur, langit mulai terang. Tanjakan Kantor Telepon perlahan- lahan tampak jelas rumah-rumah gedong di lerengnya, kantor tambang di puncaknya. Dan di kakinya, mata air Mat Yasi mengalir seperti biasa, tak pernah pilih-pilih, tak pernah berhenti memberi.
Siti berjalan menuju mata air, bergabung dengan antrean ibu-ibu yang sudah mulai ramai. Seorang tetangga menyapa, "Siti, pagi-pagi sudah ke sini?"
Ia tersenyum. "Iya, Mak. Mau ambil air. Biar segar." "Katanya mau beli sepeda?"
Siti mengangguk, matanya berbinar. "Insya Allah, Mak. Bulan depan."
Seluruh antrean tersenyum. Di sanalah, di antara ember dan jeriken, di antara tawa dan kabar kampung, mimpi tentang sepeda itu terasa begitu nyata. Sepeda yang akan mengantarnya melewati tanjakan-tanjakan itu, melewati rumah-rumah gedong, melewati batas-batas yang selama ini terasa begitu tegas.
Karena di ujung tanjakan, siapa pun yang mengayuh entah buruh, guru, atau ibu rumah tangga semua sampai pada tujuan masing-masing. Dan di setiap tetes keringat yang jatuh di aspal, ada cerita yang sama: cerita tentang orang-orang yang tak pernah berhenti berusaha.
Mata air Mat Yasi terus mengalir.
Dan Siti, dengan sepatu bolongnya, pulang membawa air untuk keluarga yang menanti.
No comments:
Post a Comment