BAB 1
Pagi yang Sibuk
Matahari belum juga muncul ketika Siti sudah terbangun. Di luar, ayam-ayam mulai berkokok, suaranya bersahutan dari satu kandang ke kandang lain, menyebar seperti api di ilalang kering. Tapi Siti tak punya waktu untuk mendengar. Tangan-tangannya sudah sibuk sejak kaki menyentuh lantai.
Di dapur, sumbu kompor minyak tanah mendesis pelan. Api biru menari-nari di bawah wajan besi yang sudah hitam oleh usia hitamnya bukan karena cat, tapi karena puluhan tahun digosok dan dipanaskan, seperti kulit para buruh tambang yang tak pernah kembali putih. Bau bawang goreng bercampur aroma kopi memenuhi ruang sempit itu, merayap ke celah-celah dinding papan, membangunkan siapa pun yang masih tidur.
Siti membalik telur dadar di wajan. Tepinya mulai kecoklatan, melepuh, mengeluarkan aroma yang membuat perut keroncongan. Tapi ia tak sempat menikmati. Tangan kirinya sudah meraih piring, tangan kanannya masih memegang spatula. Matanya bolak-balik ke jendela, mengintip langit yang mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi biru kelabu.
Di sudut dapur, seekor kucing tua menggeliat. Matanya menyipit, lalu kembali terpejam. Kucing itu sudah tahu pagi begini, tak ada yang akan memberinya makan. Semua sibuk.
"Bu, aku ikut!"
Suara itu datang dari balik pintu. Siti menoleh. Raka anak sulungnya, lima tahun berdiri di ambang pintu dengan sarung yang melorot hingga hampir lepas. Rambutnya acak-acakan, seperti habis diserbu angin puyuh. Matanya masih setengah terpejam, tapi mulutnya sudah bersiap protes.
"Nanti, Nak. Ibu antar ke sekolah nenek dulu." Siti membalik telur sekali lagi, lalu menggesernya ke pinggir wajan.
"Aku mau ikut Ibu ke sekolah." Raka menggeleng, membuat rambutnya semakin berantakan.
Siti menghela napas. Napas panjang yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Setiap pagi selalu begitu. Setiap pagi anaknya ingin ikut, dan setiap pagi ia harus menjelaskan lagi bahwa rumah nenek adalah tempat yang aman selama ia mengajar. Tapi menjelaskan pada anak lima tahun tidak semudah membalik telur.
Rumah yang mereka tempati adalah rumah pemberian PGRI organisasi guru tempat Siti bernaung. Dindingnya papan, cat hijau di luarnya sudah mengelupas seperti ular berganti kulit. Lantainya semen, retak di sana-sini, dan kalau hujan, air akan merembes dari celah-celah itu, membentuk genangan-genangan kecil yang harus segera dilap. Atap sengnya, kalau diguyur hujan, berbunyi seperti genderang perang suara yang menakutkan bagi Raka, tapi bagi Siti, itu hanya musik pengantar tidur.
Tapi rumah ini gratis. Itu sudah lebih dari cukup.
Masalahnya, rumah ini jauh dari tempatnya mengajar. Satu setengah kilometer. Jarak yang mungkin tak seberapa bagi orang yang punya sepeda atau motor. Tapi bagi Siti yang harus berjalan kaki setiap pagi, jarak itu adalah medan perang harian. Satu setengah kilometer debu dan panas, satu setengah kilometer deru motor dan klakson, satu setengah kilometer dari rumah ke sekolah, dan satu setengah kilometer lagi dari sekolah ke rumah pulang pergi tiga kilometer sehari, lima belas kilometer seminggu, enam puluh kilometer sebulan. Jarak yang cukup untuk mengelilingi Manggar dua kali.
"Bu, kenapa kita tak punya sepeda?" tanya Raka. Ia sudah duduk di kursi bambu, kedua kakinya menjuntai tak menyentuh lantai.
Siti tak menjawab. Ia menuang air panas ke dalam cangkir, mencelupkan kantong teh. Daun teh itu mengambang sebentar, lalu perlahan tenggelam, meninggalkan semburat coklat di air putih. Siti memandanginya, berpikir bahwa hidupnya mirip dengan daun teh itu dulu muda dan segar,
lalu dikeringkan, lalu dicelupkan ke dalam air panas, lalu perlahan tenggelam. Tapi setidaknya, ia memberikan rasa pada air itu.
Di luar, langit mulai terang. Siti melihat ke luar jendela ke jalan tanah yang membelah kampung, ke pohon-pohon lada yang berjejer di kejauhan, ke langit yang mulai jingga di ufuk timur.
Matahari sebentar lagi naik, dan ia harus segera berangkat. "Raka, ayo mandi!"
Satu jam kemudian, Siti sudah meninggalkan rumah nenek. Raka melambai dari teras, mulutnya masih mengunyah sesuatu. Siti membalas lambaian, lalu berbalik dan mulai berjalan.
Jalan menuju SDN 5 Manggar selalu sama setiap hari. Di kiri kanan, deretan rumah papan dengan cat luntur. Di antara rumah-rumah itu, sesekali terlihat pohon pisang dengan buahnya yang menggantung, atau pohon kelapa yang menjulang tinggi. Di kejauhan, kebun lada membentang hijau, tanaman merambat dengan buah-buah kecil yang masih mentah.
Debu beterbangan setiap kali ada motor lewat. Siti sudah hafal ia akan menutup mulut dengan kerudung saat mendengar suara motor dari belakang. Ia sudah hafal lubang-lubang di jalan, batu- batu yang mengintip, genangan air yang menganga setelah hujan. Ia sudah hafal bahwa di tikungan dekat pasar, jalanannya rusak parah, dan setiap pejalan kaki harus meminggirkan diri.
Jejak-jejak kakinya tercetak di tanah lunak, bergabung dengan jejak-jejak lain jejak petani yang lebih dulu ke kebun, jejak buruh yang berangkat ke tambang, jejak anak-anak sekolah yang berlarian dengan tas anyaman. Semua jejak itu saling tindih, saling hapus, seperti cerita-cerita yang silih berganti.
Di depannya, Pasar Manggar mulai hidup. Dari kejauhan, ia sudah bisa mendengar suara tawar- menawar, suara pedagang memanggil pembeli, suara ayam potong yang berteriak dari dalam kandang. Bau amis ikan asin bercampur aroma rempah-rempah menyengat hidung, membuat Siti mengernyit. Tapi ia tak punya waktu untuk mampir.
Langkahnya dipercepat. Ia harus segera sampai. Belum berbunyi, tapi murid-murid mungkin sudah mulai berdatangan.
Di depannya, sebuah mobil jemputan tambang melintas. Bodinya besar, biru tua, kacanya gelap memantulkan cahaya matahari. Di dalamnya, para pegawai tambang duduk rapi, berseragam biru, wajah-wajah mereka masih segar, belum tersentuh debu dan keringat. Mereka membaca koran, mengobrol, tertawa. Sopir mobil itu, dengan seragamnya yang rapi, memegang kemudi dengan santai.
Mobil itu berhenti di depan pasar. Seorang wanita istri mandor, mungkin turun dari pintu belakang. Tas belanjaannya dari plastik tebal, dengan pegangan emas yang berkilat. Pakaiannya rapi, bersih, seolah baru keluar dari butik. Sepatu haknya berdetak di aspal, suara yang berbeda dengan debum debum sandal jepit atau telanjang kaki.
Sopir mobil menunggu dengan mesin menyala. Ia tak akan pergi sampai majikannya selesai belanja.
Siti menatap sebentar. Lalu melanjutkan langkah.
Di sisi lain pasar, puluhan sepeda butut diparkir sembarangan. Ada yang bersandar di pohon, ada yang rebah di tanah, ada yang kehilangan sadel dan diganti dengan karung plastik. Pemiliknya buruh tambang dengan pakaian lusuh penuh debu timah, petani dengan topi anyaman yang sudah pudar sedang memilih sayur, menawar ikan, atau duduk minum kopi di warung Mak Inang.
Salah satu dari mereka, buruh dengan topi lusuh, menoleh dan tersenyum pada Siti. Siti tersenyum balik, meskipun ia tak kenal orang itu. Di pasar ini, semua orang bisa tersenyum pada siapa saja. Itu salah satu kehangatan yang masih tersisa.
Siti mempercepat langkah. Ia sudah setengah jalan. Dari kejauhan, atap SDN 5 Manggar mulai terlihat. Genting-genting merahnya, yang di beberapa tempat sudah bolong, kini basah oleh embun. Pagar sekolah yang catnya kusam berdiri tegak, dijaga oleh dua pohon asam yang entah sudah berapa puluh tahun di sana.
Siti mengatur napas. Tangannya meraba kerudung, memastikan semuanya rapi. Lalu ia melangkah masuk ke halaman sekolah.
Murid-murid sudah mulai berdatangan. Mereka berlarian, tertawa, berkejaran. Ada yang membawa bekal dalam bungkusan daun pisang, ada yang masih mengunyah sarapan sambil berlari. Debu beterbangan di halaman, menempel di sepatu-sepatu lusuh mereka.
Siti berhenti sejenak, memandang mereka. Lalu ia tersenyum.
Di sinilah tempatnya. Di sinilah semua lelah pagi ini akan terbayar.
"Satu setengah kilometer debu dan panas. Tapi di ujungnya, ada tawa anak-anak. Dan untuk tawa itu, berapa pun jaraknya, akan selalu ia tempuh."
No comments:
Post a Comment