Sunday, April 5, 2026

PENGANTAR

Ada sepeda tua di pojok halaman. Jeruji-jeruji rodanya berkarat, dimakan waktu dan lupa. Tapi karat itu bukan sekadar karat. Ia adalah jejak jejak dari tangan yang pernah memegang stang, jejak kaki yang pernah mengayuh, jejak senyum ramah dari hati di sepanjang jalan.

Sepeda itu bernama Sim King. Sinar Indonesia King. Buatan dalam negeri, onderdil dari Negeri Cina, dijual oleh Babah Acun, pedagang keturunan Tionghoa yang tokonya menjadi satu-satunya tempat di Manggar di mana semua orang guru, buruh, mandor, petani duduk setara memilih kendaraan masing-masing.

Sepeda itu adalah saksi. Ia melihat seorang ibu muda mengayuh setiap pagi melewati tanjakan Samak, dengan anak kecil di boncengan. Ia mendengar napas terengah dan keringat yang jatuh. Ia merasakan tangan kecil di pinggang, pegangan erat yang tak pernah lepas.

Ia juga melihat perubahan. Motor menggantikan sepeda. Suara gas menggantikan sapaan. Wajah- wajah asing melintas tanpa senyum. Dan ia sendiri, perlahan, dimakan karat, digantung di pohon jambu, dilupakan.

Tapi sepeda itu setia. Ia menunggu. Menunggu tangan yang sama yang dulu memegang stangnya, menunggu kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Dan suatu hari, tangan itu datang lagi. Tua, tapi masih sama. Dan sepeda itu dihidupkan kembali bukan dengan mesin, tapi dengan cinta.

Ini bukan cerita tentang sepeda. Ini cerita tentang jeruji-jeruji yang membentuk roda kehidupan. Tentang ibu, tentang bapak, tentang kampung, tentang guru-guru yang mengajar dalam sunyi, tentang tegur sapa yang mulai hilang, dan tentang satu hal yang tak pernah berubah: kenangan.

Jika suatu hari kau melewati Tanjakan Samak atau Tanjakan Kantor Telepon di Manggar, Belitung, berhentilah sejenak. Lihat ke bawah. Lihat ke atas. Dan sapa orang di sampingmu.

Mungkin kau akan melihat bayangan seorang guru muda mengayuh sepeda merah, dengan anak kecil di boncengan. Mungkin kau akan mendengar suara "kring-kring" bel sepeda, bercampur tawa dan sapaan hangat.

Itulah Siti. Itulah Si Merah. Itulah Manggar yang dulu.

Tapi juga, itulah yang masih bisa kita hidupkan lagi.

Sapa satu orang hari ini. Sapa dua orang besok.

Senyum untuk satu orang, senyum untuk dua orang.

Seperti jeruji yang terus berputar, pelan tapi pasti.

No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...