Sunday, April 5, 2026

BAB 15

Sembahyang Rebut

Tahun 1988

Bulan ketujuh penanggalan Imlek tahun itu jatuh pada pertengahan Agustus. Langit Manggar cerah, tidak mendung seperti biasanya. Matahari bersinar terik, tapi angin bertiup sejuk dari arah laut.

Di halaman sekolah, sejak pagi sudah terdengar suara aneh suara tabuhan beduk, suara seruling bambu, suara orang-orang berbicara dengan bahasa yang asing di telinga Raka. Dari balik pagar kawat, ia melihat keramaian di Kelenteng Darma Suci, tepat di sebelah sekolah.

Kelenteng itu tua. Atapnya melengkung khas Tionghoa, dengan ukiran naga di sudut-sudutnya yang menyala-nyala terkena sinar matahari. Warna merah tua mendominasi, pudar di sana-sini dimakan usia, tapi masih terlihat megah. Lilin-lilin merah menyala di altar, puluhan, mungkin ratusan, menciptakan cahaya yang hangat meski di siang bolong. Asap dupa mengepul, membumbung tinggi ke langit biru.

Bau dupa semerbak sampai ke halaman sekolah bau yang asing, tapi entah mengapa menenangkan. Campuran cendana, kemenyan, dan sesuatu yang manis.

Bu Siti masuk ke kelas dengan membawa buku catatan. Ia meletakkannya di meja, lalu menatap murid-muridnya. Wajahnya tenang, suaranya lembut.

"Anak-anak, hari ini kita tidak belajar penuh. Nanti jam sepuluh, kita akan keluar ke halaman. Lihat prosesi Sembahyang Rebut. Tapi ingat: jangan keluar pagar. Jangan mendekat. Hanya lihat dari jauh. Hormati yang punya acara."

Murid-murid bersorak. Raka paling bersemangat.

"Bu, Sembahyang Rebut itu apa?"

Bu Siti tersenyum. "Tradisi warga Tionghoa di sini, Nak. Setahun sekali, mereka menyembahyangi arwah leluhur. Juga arwah-arwah yang tidak punya keluarga. Mereka membuat patung besar Hantu Gede yang nanti dibakar. Biar kampung selamat, jauh dari mara bahaya."

"Tapi Bu, kita kan Islam?" tanya Budi.

"Iya, Nak. Tapi ini budaya. Budaya dan agama bisa jalan beriringan. Kita lihat saja, hargai. Tak usah ikut-ikutan kalau tak percaya. Tapi hormati yang percaya. Mereka juga saudara kita."

Jam sepuluh tiba. Seluruh murid SD berbaris di halaman, di belakang pagar kawat. Pagar itu tinggi, berkarat di sana-sini, tapi cukup untuk memisahkan mereka dari keramaian di luar.

Raka berusaha melihat sejelas mungkin. Ia menjinjit, memanjangkan leher, tapi tetap tak puas. Akhirnya ia memanjat pagar sedikit, hanya untuk melihat lebih jelas.

Dan ia melihat sesuatu yang membuatnya terkesima.

Di halaman kelenteng, berdiri sebuah patung raksasa. Tingginya mungkin dua belas meter lebih tinggi dari pohon kelapa. Patung itu duduk di kursi tahta, wajahnya seram: mata melotot, gigi bertaring, alis tebal seperti ombak. Di tangan kanannya, ia memegang pena besar, sebesar lengan orang dewasa. Di tangan kiri, sebuah buku tebal, seperti kitab kuno.

Di sekelilingnya, ada patung-patung lebih kecil: pesawat dari kertas, kapal layar, kuda semuanya warna-warni, semarak, seperti mainan raksasa. Pesawat itu dari kertas minyak, berwarna merah dan kuning. Kapalnya dari karton, dengan layar dari kain bekas.

"Itu Thai Se Ja," bisik seorang bapak di dekat pagar. Ia sedang menjelaskan pada anaknya yang duduk di pundaknya. "Raja akhirat. Dia yang mengurus arwah-arwah yang gentayangan. Dia yang mencatat perbuatan manusia di buku itu."

Raka terpesona. Belum pernah ia melihat patung sebesar itu. Di Manggar, patung paling besar yang pernah ia lihat adalah patung pahlawan di alun-alun, yang tingginya tak sampai tiga meter.

Warga Tionghoa berdatangan. Pakaian mereka bagus-bagus warna merah, kuning, emas, dengan sulaman-sulaman indah. Ada yang membawa sesaji: buah-buahan segar, umbi-umbian, kue-kue tradisional warna-warni. Ada yang membawa dupa, menancapkannya di altar. Ada yang duduk bersimpuh, berdoa dengan khusyuk, bibir mereka komat-kamit, mata terpejam.

Anak-anak kecil berlarian di sekitar kelenteng, tak takut sama sekali, tertawa-tawa. Mereka bermain kejar-kejaran di antara orang dewasa, sesekali berhenti untuk mencuri kue dari meja sesaji.

Pak Mantri yang kebetulan lewat berhenti di samping pagar, dekat Bu Siti. Ia membawa tas kecilnya, mungkin baru dari rumah pasien.

"Bu Guru, Sembahyang Rebut lagi."

"Iya, Pak. Anak-anak pada penasaran. Lihat matanya."

Pak Mantri tersenyum. "Saya dulu juga penasaran, waktu kecil. Waktu itu masih di bawah pohon beringin. Tapi sekarang saya lihat, ini bukan soal arwah. Ini soal warga berkumpul. Soal mereka merasa aman. Soal tradisi yang diwariskan turun-temurun."

Dari dalam kelenteng, terdengar suara doa. Bahasa Tionghoa kuno, susah dimengerti. Kadang terdengar seperti nyanyian, kadang seperti mantra. Sesekali lonceng berbunyi, nyaring memekakkan telinga. Bau dupa semakin kuat, sampai ke halaman sekolah, bercampur dengan aroma kemenyan.

Setelah doa selesai, acara paling ditunggu: rebutan sesaji.

Panitia mengambil makanan dari altar buah, kue, makanan ringan lalu melemparkannya ke arah kerumunan. Warga berebut. Yang dapat bersorak. Yang tak dapat tertawa. Anak-anak berlarian, mengejar kue yang melayang, menjerit-jerit kegirangan.

"Kata orang, makanan ini sudah didoakan. Sudah dimakan arwah duluan. Jadi kalau kita makan, dapat berkah," jelas seorang ibu pada anaknya.

Satu bungkus kue melayang ke arah pagar sekolah. Seorang bapak berebut, jatuh tersungkur, tapi langsung tertawa. Yang lain membantu berdiri, menepuk-nepuk pundaknya, tertawa bersama.

"Lihat, Pak," kata Bu Siti. "Mereka rebutan, tapi tetap tolong-menolong. Tak ada yang marah."

Telur rebus yang juga jadi sesaji mulai dilempar. Telur-telur itu melayang di udara, mendarat di tangan-tangan yang terulur. Raka memperhatikan dengan saksama, matanya mengikuti setiap gerakan. Satu telur melayang ke arahnya, persis di depan pagar. Telur itu berputar-putar di udara, lalu jatuh tepat di depannya.

"Bu, boleh aku ambil?"

Bu Siti berpikir sebentar. Lalu mengangguk. "Ambil, Nak. Tapi lewat pagar. Jangan keluar. Jangan masuk ke kerumunan."

Raka menjulurkan tangan lewat kawat pagar. Jari-jarinya yang kecil meraih telur itu masih hangat. Di cangkangnya, ada coretan kapur putih, mungkin doa atau mantra. Telur itu terasa ringan, tapi penuh makna.

"Dapat, Bu! Aku dapat telur Sembahyang Rebut!"

Teman-temannya mendekat, iri. Mata mereka tertuju pada telur di tangan Raka. Raka melihat mereka, lalu melihat telur di tangannya. Ia berpikir sejenak, mengingat pesan ibu tentang berbagi.

Lalu ia memecahkan telur itu.

Cangkangnya pecah, memperlihatkan putih telur yang masih hangat. Ia membaginya kecil-kecil dengan teman-teman. Masing-masing dapat seujung, sebesar kuku, setelunjuk. Mereka memakannya dengan lahap, meski hanya sedikit.

"Raka, bagi-bagi?" tanya Budi.

"Iya, biar semua dapat berkah. Biar semua ikut senang."

Pak Mantri, yang masih di dekat pagar, tertawa melihatnya. Tawanya tulus, hangat.

"Nah, itu dia berkahnya. Bukan telurnya, tapi berbaginya. Telur cuma seratus rupiah, tapi berbagi itu tak ternilai."

Malam harinya, saat acara puncak, patung Hantu Gede dan semua perlengkapan dibakar. Api berkobar tinggi, menjilat langit malam. Asap mengepul hitam, membubung ke angkasa. Suara petasan memekakkan telinga, merah-hijau mewarnai gelap. Warna-warni itu menari-nari di langit, seperti lukisan raksasa.

"Itu kendaraan buat arwah pulang," kata seorang bapak pada anaknya. "Pesawat, kapal, kuda semua buat mereka. Biar mereka kembali ke alamnya dengan selamat."

Raka, yang melihat dari kejauhan dari halaman sekolah, bertanya pada ibunya. Tangannya memegang erat pagar, matanya tak lepas dari kobaran api.

"Bu, mereka percaya arwah naik pesawat?"

Bu Siti tertawa. Tawanya lembut, seperti belaian. "Bukan begitu, Nak. Itu simbol. Yang penting niatnya: mendoakan yang sudah pergi, dan berharap kampung selamat, jauh dari mara bahaya. Itu doa, Nak. Doa dalam bahasa mereka."

"Jadi mereka juga berdoa?"

"Iya. Setiap orang berdoa dengan caranya sendiri. Yang penting tujuannya sama: kebaikan."

Keesokan harinya, Raka bertanya pada ibunya saat di boncengan Si Merah. Angin pagi membelai wajahnya, membuat rambutnya berkibar.

"Bu, tadi dapat telur."

"Ibu lihat. Kamu bagi-bagi, ya?"

"Iya, Bu. Enak, telurnya. Tapi kecil. Cuma sedikit."

Bu Siti tertawa. Tawanya menggema di jalan sepi, bersahutan dengan kicau burung. "Raka, kamu tahu kenapa orang buat Sembahyang Rebut?"

"Tak tahu, Bu."

"Karena manusia ingin ingat leluhur, Nak. Mereka yang sudah pergi, tetap dikenang. Mereka tak mau dilupakan. Dan yang hidup, berkumpul. Saling berbagi. Seperti tadi, rebutan telur tapi tolong-menolong. Seperti kamu, dapat telur tapi bagi-bagi."

"Jadi Sembahyang Rebut itu kayak pesta, Bu?"

"Iya, Nak. Pesta. Pesta semua orang, apapun sukunya. Apapun agamanya. Biar mereka ingat: kita ini bersaudara. Satu kampung. Satu tanah. Satu air."

Raka mengangguk, meski tak sepenuhnya mengerti.

Tapi satu hal ia mengerti: berbagi itu menyenangkan. Dan berkah itu bukan soal apa yang kita dapat, tapi apa yang kita beri.

No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...