BAB 17
Nelayan dan Laut yang Memberi
Tahun 1989
Mentari pagi belum tinggi, tapi Pantai Burung Mandi sudah ramai oleh aktivitas. Para nelayan Desa Burung Mandi kampung di seberang pantai mulai menurunkan perahu kater mereka ke laut. Ombak pagi yang tenang menjadi sahabat setia.
Raka terbangun ketika cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding penginapan sederhana tempat mereka menginap. Tubuhnya masih pegal setelah seharian bersepeda kemarin, tapi semangatnya tak berkurang.
"Yah, ke pantai lagi!" teriaknya pada Raka yang masih setengah terlelap. Raka menggeliat. "Sebentar, Ra. Masih pagi."
"Tapi ikan! Kita harus mancing lagi!"
Di tepi pantai, Pak Hasan sudah berdiri memandangi perahu-perahu itu. Matanya yang sudah terbiasa dengan lautan luas menyipit, membaca arah angin dan gelombang. Rambutnya yang putih diterpa angin laut, membuatnya tampak seperti pelaut tua dalam cerita-cerita legenda.
Raka berlari menghampiri. "Pak Hasan, nelayan itu melaut tiap hari?"
"Hampir tiap hari, Nak. Kecuali kalau ombak besar atau angin kencang." Pak Hasan menunjuk ke arah langit. "Lihat burung-burung itu. Mereka terbang rendah. Itu tanda ikan banyak di permukaan. Kalau mereka terbang tinggi dan menjauh ke darat, itu tanda badai akan datang."
Raka memandang ke langit. Beberapa burung camar terbang melintas, rendah di atas ombak. "Alam bicara, Nak. Kita harus mendengar."
Seekor perahu kater merapat ke pantai. Bang Lahat melompat turun, dengan jaring basah di tangannya. Kulitnya hitam legam terbakar matahari, keriput oleh usia, tapi matanya masih tajam seperti elang.
"Hasan! Kau masih di sini?" sapa Bang Lahat. "Masih, Bang. Ikut rombongan guru."
Bang Lahat menoleh ke arah Raka. "Wah, ini anak kemarin yang dapat ikan kerisi?" Raka mengangguk bangga. "Iya, Bang! Aku mau mancing lagi!"
Bang Lahat tertawa. Tawanya parau, seperti suara ombak. "Ikut, yuk. Sekalian belajar."
Mereka berlayar ke tengah. Perahu kecil itu membelah ombak, meninggalkan buih-buih putih di belakang. Raka duduk di tengah perahu, memegang erat pinggiran. Inginnya ia berdiri, tapi takut jatuh.
Bang Lahat memegang kemudi dengan santai. Di sampingnya, jaring hijau tergulung rapi. "Bang, kok tahu kalau di sini ada ikan?" tanya Raka.
Bang Lahat tersenyum. "Ini rahasia nelayan, Nak. Tapi lihat ke sana."
Ia menunjuk ke arah sekelompok burung yang berputar-putar di atas permukaan laut.
"Burung-burung itu tahu di mana ikan kecil berada. Ikan kecil dimangsa ikan besar. Jadi kalau burung ramai, pasti ada ikan di bawah. Itu ilmu yang tak diajarkan di sekolah."
Pak Hasan menyiapkan jaring. "Raka, nelayan di sini punya aturan. Mereka tidak boleh pakai jaring yang merusak, jaring yang mata jaringnya terlalu kecil. Hanya pakai waring jaring tanam."
"Kenapa?"
"Biar ikan kecil bisa lepas. Kalau kita ambil semua ikan, termasuk yang kecil-kecil, nanti laut kosong."
Bang Lahat mengangguk. "Ini amanah, Nak. Laut bukan milik kita sendiri. Kita hanya pemakai. Anak cucu kita juga butuh laut."
Mereka menurunkan jaring. Perlahan, jaring itu tenggelam ke dalam air biru, menghilang ke kedalaman. Raka membantu sebisanya, menarik tali jaring sesuai instruksi.
"Berat, Bang!"
Bang Lahat tertawa. "Nanti lebih berat lagi kalau jaring sudah penuh ikan! Sabar."
Mereka menunggu sekitar setengah jam. Di sekitar perahu, burung-burung semakin ramai. Ada yang menyelam ke air, lalu muncul dengan ikan kecil di paruh.
"Sekarang saatnya. Tarik!"
Raka ikut menarik jaring. Perlahan, jaring itu naik. Begitu sampai di permukaan, mata Raka terbelalak.
Jaring itu penuh ikan! Ikan-ikan kecil keperakan bergelimpangan, menggelepar. Ikan kerisi merah berkilau seperti permata. Beberapa cumi-cumi masih menggeliat, tentakelnya bergerak. Ada juga ikan kembung dan ikan tembang yang menggelepar.
"Wah! Banyak sekali! Luar biasa!"
Bang Lahat tertawa puas. "Alhamdulillah. Laut sedang baik hati hari ini. Ini rezeki."
Mereka mulai memilah ikan. Yang terlalu kecil dilepas kembali ke laut. Yang besar dimasukkan ke keranjang.
"Raka, ingat ini. Ikan kecil jangan diambil. Biar besar dulu. Nanti mereka punya anak, punya cucu. Kalau kita ambil semua, laut akan kosong. Nelayan akan kelaparan."
"Aturan tidak tertulis, Nak. Tapi semua nelayan di sini tahu. Laut memberi kita rezeki, kita harus menjaga laut. Itu perjanjian antara manusia dan alam."
Tak sampai satu jam, perahu sudah penuh ikan. Bang Lahat memutuskan untuk pulang.
"Cukup. Jangan serakah. Kita sudah dapat banyak. Biar nelayan lain juga dapat. Laut untuk semua."
Dalam perjalanan pulang, Raka bertanya.
"Bang, dulu ada upacara khusus sebelum melaut, ya? Cerita Pak Hasan."
Bang Lahat tersenyum. "Ooh, kamu tahu?" Matanya berbinar. "Iya, Nak. Namanya Buang Jong. Tradisi suku Sawang, suku pelaut di sini. Sudah ratusan tahun."
"Buang Jong itu upacara untuk minta perlindungan sama penguasa laut. Biasanya dilakukan sebelum musim angin barat, sekitar Agustus sampai November. Waktu itu ombak ganas, angin kencang. Nelayan takut melaut. Mereka minta selamat."
"Upacaranya gimana, Bang?"
"Mereka buat perahu kecil disebut Jong diisi sesajian. Ada beras, ayam panggang, telur, kemenyan. Perahu itu dilarung ke tengah laut. Sebagai persembahan, sebagai permohonan."
"Terus?"
"Ada juga Tarian Ancak. Penari akan menggoyang-goyangkan replika rumah ke empat arah mata angin. Untuk undang roh halus. Kadang sampai penarinya kesurupan."
Raka membelalak. "Serem, Bang."
Bang Lahat tertawa. "Serem? Iya. Tapi itu kepercayaan mereka. Sekarang memang sudah jarang. Tapi di Desa Keciput, tradisi itu masih jalan sampai sekarang. Setiap tahun, ramai."
Perahu merapat di pantai. Para guru yang sedang bersantai di bawah pohon cemara langsung berkerumun melihat hasil tangkapan.
Bu Dina: "Wah, banyak sekali! Raka, kamu ikut melaut?"
Raka bangga. "Iya, Bu! Aku bantu tarik jaring! Dapat ikan banyak!"
Pak Hasan mengangkat keranjang penuh ikan. "Ikan-ikan ini fresh dari laut. Baru sejam lalu masih berenang, sekarang sudah siap dimasak."
Bu Sri: "Ayo, kita beli! Buat tambah lauk makan siang! Ikan segar begini enak dibakar." Para guru antusias. Mereka segera mengeluarkan uang. Bang Lahat melambaikan tangan.
"Tak usah bayar, Bu. Ini rezeki buat tamu. Ambil saja. Kalian jauh-jauh datang, masa pulang tak bawa ikan."
Pak Karman: "Wah, Bang Lahat, nggak enak. Kami bayar saja. Ini rezeki Bapak."
Bang Lahat tersenyum. "Kalau bayar, nanti rezeki saya kurang. Percaya sama saya. Laut ini luas. Besok saya bisa dapat lagi. Ikan tak akan habis kalau kita tak serakah."
Akhirnya para guru setuju. Mereka membayar seikhlasnya, dan Bang Lahat menerima dengan senyum lebar.
Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam, Bang Lahat duduk di samping Raka di tepi pantai. "Raka," katanya pelan.
"Ya, Bang?"
"Nak, ingat pesan Bang. Laut ini kaya, tapi tidak abadi. Jaga laut, nanti ikan akan terus ada. Kalau tidak, anak cucu kita tidak akan tahu rasanya ikan segar. Mereka hanya akan lihat di buku."
Raka mengangguk. "Iya, Bang. Aku ingat."
Bang Lahat memandang laut yang mulai gelap. Di kejauhan, perahu-perahu nelayan mulai kembali ke pantai, satu per satu.
"Dulu, waktu saya seumur kamu, laut ini lebih kaya. Ikan lebih banyak. Airnya lebih jernih. Sekarang sudah berkurang. Tapi masih cukup, kalau kita jaga."
Raka memandang Bang Lahat. Di wajahnya, ia melihat kesedihan yang dalam. "Bang, nanti kalau aku besar, aku akan jaga laut."
Bang Lahat tersenyum. "Bagus, Nak. Bagus."
Bersambung ke BAB 15: Ikan Bakar di Tepi Pantai
No comments:
Post a Comment