BAB 18
Ikan Bakar di Tepi Pantai
Tahun 1989
Matahari mulai naik tinggi ketika rombongan guru berkumpul di bawah pohon cemara. Tikar- tikar digelar membentuk lingkaran besar. Bekal makanan dikeluarkan dari tas masing-masing: nasi kuning bungkus daun pisang, sambal terasi dalam toples plastik, lalapan mentah yang baru dipetik dari kebun belakang rumah. Tapi yang paling istimewa pagi itu adalah ikan hasil pancingan kemarin sekareng penuh, masih segar, masih berkilau.
Bu Sri dan Bu Dewi dua guru yang paling ahli urusan dapur segera mengambil alih komando. Bu Sri membentangkan celemek darurat dari kain sarung, sementara Bu Dewi mengatur peralatan seadanya: pisau dapur, baskom plastik, piring daun pisang.
"Ayo, kumpulkan semua ikan yang dapat! Kita bersihkan sekarang! Nanti siang kita bakar!"
Anak-anak berlarian membawa ikan mereka. Raka paling bersemangat. Ikan kerisi sebesar telapak tangan itu ia pegang erat-erat, seperti harta karun yang tak ternilai.
"Bu Sri, ini ikan aku! Aku yang dapat! Jangan sampai tertukar!"
Bu Sri tertawa. Tawanya renyah, seperti suara air mengalir di sungai. "Wah, hebat Raka! Nanti kamu dapat bagian paling besar! Awas jangan sampai hilang!"
Pak Hasan pelaut yang sudah berpengalaman maju membantu. Dengan pisau kecil yang selalu ia bawa di saku celananya, ia mulai membersihkan ikan. Satu per satu. Cepat. Tepat. Sisik-sisik beterbangan, insang dikeluarkan, isi perut dibuang ke lubang yang sudah digali.
"Anak-anak, lihat. Ikan kerisi ini enak kalau dibakar. Dagingnya putih, manis, nggak banyak duri. Ini ikan favorit di kapal saya."
Ina, adik Raka yang masih berusia tiga tahun, mendekat. Ia mengerutkan hidung melihat ikan- ikan yang sudah putus kepalanya.
"Pak Hasan, kasihan ikannya... Dia jadi mati."
Pak Hasan tersenyum. Tangannya yang kasar mengusap kepala Ina dengan lembut. "Iya, Nak. Tapi ini sudah takdirnya. Ikan untuk dimakan. Yang penting kita berterima kasih sama Tuhan, dan nggak boleh mubazir. Semua dimakan, tak ada yang dibuang."
Ina mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.
Sementara itu, di tepi pantai, Pak Trisno sibuk mengumpulkan kayu bakar. Di sepanjang garis pantai, banyak kayu kering yang terdampar ranting, batang pohon, bahkan papan bekas kapal. Ia memungutnya satu per satu, memilih yang paling kering.
"Pak Emilianus, bantu cari kayu! Yang kering, jangan yang basah! Kalau basah, asapnya banyak, apinya susah."
Pak Emilianus guru IPA dari NTT dengan logat Timor yang khas mengangguk. "Saya sudah cari, Pak! Ini kayu bagus! Kering sekali!"
Mereka membuat lubang kecil di pasir, lalu menyusun kayu bakar dengan rapi. Pak Trisno mengeluarkan korek api dari kantongnya, menyalakan api.
"Nah, sekarang kita bakar! Jangan lupa dibalik, biar matang merata!"
Api menyala. Asap mengepul ke atas, bercampur dengan aroma laut dan aroma bakaran yang mulai tercium. Para guru dan anak-anak duduk melingkar, menunggu ikan matang.
Pak Ratno seperti biasa mulai berpantun.
"Api membakar kayu kering, Asap mengepul ke awan tinggi. Ikan kerisi enak dan gurih,
Bakar bersama di tepi pantai ini."
Bu Mala, yang duduk di tikar sambil mengipas-ngipas, berkomentar. "Pak Ratno, pantunnya bagus. Tapi tolong jangan terlalu sering, nanti ikan gosong. Perut lapar, bukan pantun yang dicari."
Pak Ratno tersenyum puas. "Wah, Bu Mala, saya jagain api, kok. Gosong sedikit lebih enak. Orang bilang, ikan bakar yang gosong itu yang paling sedap."
Ikan-ikan mulai dibakar. Pak Hasan jadi koki utama. Ia mengolesi ikan dengan campuran bumbu sederhana: garam, bawang putih, dan sedikit jeruk nipis yang dibawa Bu Dewi. Aromanya langsung menguar, membuat perut keroncongan.
"Ini resep turun-temurun dari kakek saya. Nelayan di kampung saya selalu pakai bumbu begini. Sederhana, tapi rasanya... wah, tak ada tandingan."
Bu Dewi penasaran. "Pak Hasan, bumbunya dicampur apa lagi? Kok wangi?"
"Cuma itu, Bu. Garam, bawang, jeruk. Ikan segar begini nggak perlu bumbu banyak-banyak. Nanti malah ilang rasa aslinya. Ini rahasia: ikan segar, bumbu sederhana, api tepat."
Siti duduk di samping Raka dan Ina. Ia memandangi anak-anaknya yang bersemangat menunggu ikan bakar.
"Ra, Ina, senang?"
Raka mengangguk cepat. "Senang, Bu! Aku mau makan ikan aku sendiri! Sampai habis!" Ina mengangguk. "Aku juga mau! Mau yang banyak!"
Siti tertawa. "Ikan Ina belum dapat. Tapi nanti Ina boleh makan punya kakak. Berbagi, ya. Ingat pesan Ibu?"
Ina mengangguk. "Iya, Bu. Berbagi."
Pak Karman, yang sedari tadi duduk di bawah pohon cemara sambil minum kopi, berjalan mendekat. Langkahnya pelan, sesekali berhenti untuk mengatur napas. Tapi matanya berbinar.
"Wah, aromanya sudah sampai ke sini. Enak sekali. Perut langsung keroncongan."
Pak Hasan tersenyum. "Sebentar lagi matang, Pak. Duduk dulu. Jangan kemana-mana."
Pak Karman duduk di samping Siti. "Bu Siti, lihat anak-anak. Mereka senang sekali. Saya jadi ingat masa muda dulu, waktu piknik ke pantai naik sepeda. Dulu juga ramai, juga seru."
"Dulu juga sering, Pak?"
"Sering. Tapi dulu sepedanya lebih banyak. Jalanannya masih sepi. Belum banyak motor. Setiap akhir pekan, rombongan sepeda ke pantai, ke danau, ke mana-mana. Sekarang? Motor di mana- mana. Orang sibuk sendiri."
Siti menghela napas. "Tapi hari ini, kita buat seperti dulu lagi, Pak."
Pak Karman tersenyum. "Iya, Bu. Seperti dulu lagi. Makasih sudah mengajak. Ini kenangan yang tak terlupakan."
Ikan-ikan mulai matang. Warna kulitnya berubah menjadi cokelat keemasan, mengkilap oleh minyak dan bumbu. Aroma bakar semakin kuat, bercampur dengan aroma laut dan asap kayu.
Pak Hasan mengumumkan, "Sudah! Ikan siap disantap! Ayo ambil piring masing-masing!"
Anak-anak bersorak. Mereka mengambil piring daun pisang masing-masing. Raka paling depan, tak sabar.
"Bu Sri, ini ikan aku! Aku mau yang besar! Yang paling besar!" Bu Sri tertawa. "Iya, iya. Ini, Raka. Ikan kamu. Jaga baik-baik."
Raka menerima ikan bakar itu dengan hati-hati, seperti menerima benda berharga. Ia meniup- niupnya karena masih panas. Matanya berbinar-binar, mulutnya tersenyum lebar.
Siti memotong ikan itu menjadi dua. Separuh untuk Raka, separuh untuk Ina. Raka protes. "Bu, itu ikan aku! Kenapa dibagi?"
Siti tersenyum. "Iya, Nak. Tadi kan Ina minta makan ikan kakak. Berbagi, ingat? Nanti kalau Ina punya ikan, dia juga akan bagi sama kakak."
Raka diam sebentar. Lalu mengangguk. "Iya, Bu. Ina, ini buat kamu."
Ina menerima potongan ikan itu dengan senyum lebar. "Makasih, Kaka! Kamu baik!"
Mereka makan bersama. Nasi kuning, ikan bakar, sambal terasi, lalapan mentah. Sederhana, tapi terasa begitu istimewa.
Pak Ratno, sambil mengunyah dengan lahap, berpantun lagi.
"Ikan bakar di pinggir laut, Sambal terasi pedas sekali.
Makan bersama teman dan sahabat, Hati senang tiada terperi."
Bu Mala yang biasanya galak kali ini ikut tertawa. "Pak Ratno, kalau kenyang begini, pantunnya jadi lebih bagus. Tadi masih standar, sekarang naik kelas."
Pak Ratno tersenyum puas. "Iya, Bu. Perut kenyang, hati senang, pantun lancar. Itu rumusnya."
Pak Silaban, dengan logat Batak khasnya, berkomentar. "Di Toba, kalau makan ikan bakar begini, kami bilang 'Tabo do i!' enak sekali! Ini ikan enak, Bu. Lain kali kita bawa pulang."
Bu Sri mengangguk. "Iya, Pak. Nanti kita beli banyak. Buat oleh-oleh." Raka, yang sudah menghabiskan ikannya, bertanya pada Pak Hasan. "Pak Hasan, nanti kita mancing lagi? Aku mau dapat ikan lebih besar."
Pak Hasan tertawa. "Nanti lagi, Nak. Kalian sudah capek. Besok kita mancing lagi kalau ke sini. Tapi harus sabar, ikan tak selalu datang."
"Besok kita ke sini lagi?"
Pak Hasan tertawa lebih keras. "Mungkin nggak besok. Tapi lain kali. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu bisa ke sini sendiri. Naik sepeda sendiri."
Matahari semakin tinggi. Langit biru cerah, tanpa awan. Ombak berdebur pelan, seperti musik pengiring.
Siti memandang anak-anaknya yang masih asyik bermain di air. Raka dan Ina berlarian, tertawa, tercebur, bangun lagi. Mereka tak kenal lelah.
Di kejauhan, Bang Lahat melambai. Perahunya sudah siap untuk melaut lagi. Siti membalas lambaian.
Hari ini sempurna.
Bersambung ke BAB 16: Pasar Ikan
No comments:
Post a Comment