Sunday, April 5, 2026

BAB 19

Pasar Ikan

Tahun 1989

Mentari baru saja naik setinggi dua tombak ketika rombongan guru tiba di Pasar Ikan Tanjung Pandan. Perjalanan dari Pantai Burung Mandi memakan waktu hampir satu jam dengan sepeda, melewati jalan-jalan beraspal yang mulai rusak di sana-sini. Debu beterbangan setiap kali ada mobil atau truk melintas, membuat mereka harus berulang kali menyeka wajah.

Pasar itu terletak tak jauh dari pelabuhan, di sebuah bangunan panjang dengan atap seng yang sudah berkarat di sana-sini. Dari kejauhan, sudah terdengar hiruk-pikuk suara tawar-menawar, teriakan pedagang, gemerincing uang logam, dan suara ikan-ikan yang masih menggelepar di dalam ember. Bau amis menyengat hidung, bercampur dengan aroma es batu yang mencair dan bau daun pisang pembungkus.

Raka yang duduk di boncengan Si Merah membelalakkan mata. Belum pernah ia melihat pasar sebesar ini. Di Manggar, pasar hanya sederhana beberapa lapak di pinggir jalan, beberapa kios permanen, sisanya pedagang kaki lima. Tapi di sini, di Tanjung Pandan, pasar itu membentang luas, memenuhi seluruh area.

"Bu, besar sekali!" seru Raka.

Siti tersenyum. "Ini pasar terbesar di Belitung, Nak. Semua hasil laut dari seluruh pulau dijual di sini."

Mereka memarkir sepeda di tempat penitipan sebuah bangunan kecil dengan penjaga tua yang tertidur di kursinya. Bayar seratus rupiah per sepeda. Pak Karman membayar untuk semua, mengeluarkan uang receh dari kantong celananya yang longgar.

"Masuk yuk," ajaknya.

Begitu melangkah masuk, Raka disambut oleh dunia yang sama sekali berbeda.

Aroma amis ikan segar menusuk hidung, begitu kuat sampai membuatnya hampir tersedak. Tapi setelah beberapa saat, ia mulai terbiasa. Bau itu bercampur dengan bau es batu yang mencair, bau daun pisang pembungkus, dan bau pedagang yang berkeringat. Di lantai, air bercampur es menggenang di sana-sini, membuat setiap langkah harus hati-hati agar tak terpeleset. Genangan- genangan itu berwarna keabu-abuan, bercampur sisik ikan dan darah yang mengalir dari meja- meja.

Di kiri kanan, meja-meja panjang berjejer tanpa jarak. Di atas meja-meja itu, berbagai jenis ikan dipajang dengan rapi: tongkol, cakalang, tuna, teri, kakap, kembung, makarel, baronang, tenggiri, balanak semua berjejer, masih segar, masih berkilau. Mata mereka bening, insang mereka merah, sisik mereka mengilap seperti baru saja diambil dari laut.

Beberapa pedagang sedang menyiram ikan dengan air es agar tetap segar. Air itu mengalir dari meja ke lantai, lalu ke saluran kecil di pinggir pasar. Yang lain sedang menimbang, membungkus, menerima uang. Tangan-tangan mereka cekatan, terbiasa dengan rutinitas.

Suara tawar-menawar terdengar di mana-mana. "Bang, ini ikan kembung sekilo berapa?" "Lima belas ribu, Bu."

"Mahal amat! Kemarin dua belas."

"Itu kemarin, Bu. Sekarang musim ombak, susah cari ikan." "Nggak bisa kurang?"

"Bisa, Bu. Tiga belas, deal."

"Deal!"

Raka memperhatikan proses itu dengan takjub. Ia tak pernah melihat orang bertransaksi seperti itu. Di Manggar, harga sudah pasti, tak bisa ditawar. Tapi di sini, tawar-menawar adalah bagian dari ritual, seperti tarian yang sudah dilakukan ribuan kali.

"Bu, kenapa mereka tawar-menawar?" bisik Raka.

Siti membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Raka. "Itu budaya, Nak. Bukan pelit, tapi saling menghargai. Penjual kasih harga, pembeli kasih harga lain, akhirnya ketemu di tengah. Semua senang. Itu namanya negosiasi."

Raka mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.

Di sudut pasar, mereka bertemu dengan seorang pedagang yang ternyata kenalan Pak Hasan.

"Hasan! Kau di sini!" teriak pedagang itu, seorang wanita paruh baya dengan celemek penuh darah ikan. Wajahnya bulat, rambutnya diikat ke belakang, dan senyumnya lebar sekali.

"Ini Mak Siti, teman lama," jawab Pak Hasan. "Dulu tetangga di kampung nelayan."

Mak Siti tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang tak lengkap. "Wah, Hasan bawa tamu? Sini, ambil ikan! Gratis!"

Pak Hasan menggeleng. "Nggak usah, Mak. Saya mau beli."

Mak Siti tertawa. Tawanya keras, bergema di antara meja-meja ikan. "Orang laut seperti kita, Hasan, harus saling bantu. Kamu bawa tamu, kasih ikan segar. Biar mereka ingat Belitung. Biar mereka cerita ke anak cucu."

Pak Hasan akhirnya mengalah. Mak Siti mengambil beberapa ikan terbaik tenggiri besar, kakap merah, cumi-cumi segar dan membungkusnya dengan daun pisang. Tangannya bergerak cepat, melipat daun pisang hingga rapi, lalu mengikatnya dengan tali rafia.

"Ini buat kalian. Selamat menikmati."

Para guru berterima kasih, Raka ikut berterima kasih. Mak Siti mengusap kepalanya. Tangannya kasar, tapi lembut.

"Nak, rajin-rajin sekolah, ya. Biar jadi orang pintar."

Di tengah pasar, Bu Dina tertinggal. Ia sedang asyik tawar-menawar dengan pedagang ikan. Dari kejauhan, Bu Sri melihat dan langsung curiga.

"Lihat, Bu Dina mulai," bisik Bu Sri pada Bu Dewi.

Bu Dina memegang ikan kembung. Matanya menyipit, mulutnya mengerucut, seperti seorang jenderal yang sedang menyusun strategi perang. "Bang, ini ikan kembung sekilo seratus ribu? Kemarin tujuh puluh."

Pedagang itu seorang bapak dengan topi anyaman yang sudah lusuh menghela napas. Napas panjang yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. "Bu, harga naik. Musim ombak. Nelayan susah cari ikan."

"Tujuh puluh lima, deal?"

Pedagang itu menggeleng. "Sembilan puluh, Bu. Itu sudah turun." "Delapan puluh, plus bonus satu?"

Pedagang itu hampir menyerah. Keringat mulai membasahi dahinya. "Bu, ini bukan pasar kaget. Ini pasar resmi."

Bu Dina tak bergeming. "Delapan puluh lima, plus dua?"

Pedagang itu tertawa. Tawanya keras, membuat beberapa orang menoleh. "Bu, ambil aja gratis. Capek saya."

Bu Dina tersenyum puas. "Nggak usah gratis, Bang. Delapan puluh lima aja, tapi tambah satu."

Mereka akhirnya sepakat. Bu Dina pulang dengan senyum lebar, membawa ikan lebih banyak dari yang direncanakan.

"Bu Dina, dasarnya!" Bu Sri tertawa.

"Ah, ini baru belanja," jawab Bu Dina dengan bangga.

Raka terus berkeliling, takjub melihat berbagai jenis ikan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ada ikan dengan warna-warni cerah, ada yang bentuknya aneh seperti batu, ada yang durinya panjang-panjang seperti pedang. Di satu meja, ia melihat ikan pari kecil yang masih bergerak- gerak. Di meja lain, ada cumi-cumi yang tintanya masih hitam pekat.

Di salah satu pojok, ia melihat sekelompok orang mengerumuni sesuatu. Ia mendekat, menyelip di antara kerumunan. Di sana, seorang nelayan tua sedang menjual ikan pari raksasa. Ikan itu begitu besar, hampir sebesar tikar pandan. Tubuhnya lebar, pipih, dengan ekor panjang yang melengkung. Duri di ujung ekornya terlihat tajam, berbahaya.

"Ini baru ikan!" seru Pak Trisno yang ikut mendekat. "Ini bisa buat sepuluh keluarga!"

Nelayan itu tersenyum bangga. "Ini hasil semalam, Pak. Dapat di laut dalam. Jaring saya hampir robek ditariknya."

Raka memandangi ikan itu lama. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika ikan sebesar itu ditangkap oleh Bang Lahat. Pasti Bang Lahat akan sangat bangga, akan bercerita tentang ikan itu selama berbulan-bulan.

Sebelum pulang, mereka bertemu lagi dengan Bang Lahat di pasar. Nelayan tua itu datang dengan sepeda bututnya, sepeda tua dengan cat kusam dan jari-jari berkarat. Di keranjang di boncengan, beberapa ikan terbungkus daun pisang.

"Bang Lahat!" sapa Raka.

Bang Lahat menoleh, tersenyum. "Wah, Raka! Masih di sini?" "Iya, Bang. Mau beli oleh-oleh."

Bang Lahat tertawa. Tawanya parau, seperti suara ombak. Ia mengeluarkan ikan kerisi besar dari keranjangnya lebih besar dari yang kemarin Raka dapat. Ikan itu masih segar, matanya bening, sisiknya berkilau.

"Ini buat Raka. Ikan kerisi jumbo. Buat oleh-oleh di Manggar. Biar ibu kamu masakin." Raka terkejut. Matanya membelalak. "Wah, Bang! Terima kasih! Ini besar sekali!"

Bang Lahat mengusap kepala Raka. Tangannya kasar, penuh kapalan, tapi lembut. "Nak, ingat pesan Bang. Laut ini kaya, tapi tidak abadi. Jaga laut, nanti ikan akan terus ada. Kalau tidak, anak cucu kita tidak akan tahu rasanya ikan segar. Mereka hanya akan lihat di buku."

Raka mengangguk. Ia tak sepenuhnya mengerti, tapi ia menyimpan pesan itu dalam hati. Ia akan mengingatnya, seperti ia mengingat semua pesan dari orang-orang baik yang ditemuinya.

Bang Lahat berpamitan, naik sepeda bututnya perlahan meninggalkan pasar. Sepeda itu berderit setiap kali dikayuh, tapi terus melaju, membawa Bang Lahat kembali ke laut yang dicintainya.

Sore harinya, dalam perjalanan pulang, Raka termenung. Di dalam ranselnya, ikan kerisi jumbo pemberian Bang Lahat terbungkus rapi. Di kepalanya, pesan Bang Lahat terus terngiang.

"Bu," katanya pelan di boncengan. "Iya, Nak?"

"Aku mau jadi nelayan kalau besar."

Siti tersenyum. "Boleh. Tapi sekolah dulu yang bener. Nelayan juga perlu ilmu."

"Nelayan perlu ilmu apa, Bu?"

"Banyak. Ilmu membaca cuaca, ilmu membaca arus laut, ilmu menjaga alam, ilmu membaca bintang. Semua itu bisa dipelajari di sekolah."

Raka mengangguk. "Aku mau belajar semua itu."

Di belakang mereka, matahari mulai tenggelam. Langit berubah jingga, lalu ungu, lalu merah jambu. Di kejauhan, laut terlihat samar-samar, memantulkan cahaya senja.

Hari itu, Raka belajar banyak hal. Tentang laut, tentang ikan, tentang kebaikan, dan tentang pesan yang harus dijaga.

Ia tak akan melupakannya.

Bersambung ke BAB 17: Pulang

No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...