Tuesday, April 7, 2026

BAB 23

Pak Thamrin

Guru Honorer di Ujung Kampung

Tahun 1995

Sub-bab 1: Musim Kemarau

Tahun 1995. Musim kemarau tahun itu panjang.

Debu beterbangan di mana-mana, menempel di daun-daun lada yang mulai mengering. Sawah-sawah di pinggiran Manggar mulai merekah, tanahnya retak-retak seperti kulit buaya. Para petani cemas, para buruh tambang tetap bekerja, dan para guru tetap mengajar.

Siti sedang dalam perjalanan pulang ketika ia melihat seorang ibu duduk di bawah pohon randu.

Ibu itu menangis. Tangisnya pelan, hampir tak terdengar, tapi bahunya yang berguncang berkali-kali tak bisa disembunyikan.

Siti mengerem Si Merah. Ia turun, berjalan mendekat.

"Bu, kenapa? Ada apa?"

Ibu itu menengadah. Wajahnya basah, matanya sembab. Rambutnya yang diikat asal-asalan sudah berantakan terkena angin.

"Bu Siti... suami saya sakit. Sudah seminggu tak bisa bangun."

Siti tertegun. Ia mengenali ibu itu istri Pak Thamrin, guru agama di Madrasah Ibtidayah Negeri Manggar. Pria yang setiap pagi mengayuh sepeda butut ke madrasah, dengan senyum yang tak pernah pudar meski hidupnya sederhana.

"Ayo, antar ke rumah."

Sub-bab 2: Gubuk di Pinggir Sawah

Rumah Pak Thamrin terletak di ujung kampung, persis di pinggir sawah.

Untuk sampai ke sana, mereka harus berjalan menyusuri pematang yang sempit, dengan lumpur kering di kanan-kiri. Di kejauhan, gunung-gunung kecil tampak samar, tertutup kabut tipis.

Rumah itu muncul di ujung. Gubuk sederhana berdinding anyaman bambu, dengan atap rumbia yang sudah lapuk. Di sana-sini, dindingnya bolong, membiarkan angin masuk sesuka hati. Di halaman, beberapa ekor ayam berkotek, mengais-ngais tanah yang kering.

Siti melangkah masuk. Di dalam, gelap. Cahaya hanya masuk dari celah-celah dinding. Udara pengap, bau obat tradisional dan daun-daunan menyengat hidung.

Di sudut, di atas dipan bambu yang kakinya sudah tidak rata, terbaring Pak Thamrin.

Tubuhnya yang dulu tegap kini menyusut, tinggal kulit membungkus tulang. Wajahnya pucat pasi, hampir setransparan kain yang menutupi tubuhnya. Matanya terpejam, tapi napasnya yang berat dan tersengal-sengal menandakan ia masih berusaha bertahan.

Siti berjongkok di sampingnya. Ia meraih tangan Pak Thamrin dingin, kering, dan ringan seperti daun kering.

"Pak Thamrin... Pak Thamrin."

Pak Thamrin membuka mata. Samar-samar, ia melihat Siti. Bibirnya yang kering berusaha tersenyum.

"Bu Siti... maaf, rumah kami kacau."

"Tak apa, Pak. Bagaimana sakitnya? Cerita."

Pak Thamrin tak bisa menjawab. Istrinya yang bercerita.

"Sudah sebulan beliau batuk-batuk. Lalu demam. Lalu lemas. Kami pikir cuma capek. Tapi sekarang... sudah seminggu tak bisa bangun. Hanya terbaring."

Siti memegang tangan Pak Thamrin. Tangannya panas.

"Saya akan panggil Pak Mantri."

Sub-bab 3: Stetoskop Usang

Pak Mantri datang dengan sepeda bututnya.

Ia turun, mengambil tas kecil dari boncengan, lalu masuk ke rumah. Wajahnya serius, penuh konsentrasi.

Ia memeriksa Pak Thamrin dengan stetoskop usang stetoskop yang sudah dua puluh tahun menemaninya ditempelkan di dada Pak Thamrin. Pak Mantri mendengarkan, matanya terpejam, keningnya berkerut.

Lama. Sangat lama.

Akhirnya ia membuka mata. Wajahnya tak berubah, tetap serius.

"Pak Thamrin, ini tak biasa. Bapak harus periksa ke Tanjung Pandan. Ke rumah sakit. Saya curiga ini penyakit dalam."

"Pak Mantri, saya tak punya biaya. Tabungan habis buat anak sekolah."

"Saya pinjamkan uang, Pak. Buat ongkos. Jangan khawatir."

Pak Thamrin memandang Pak Mantri. Matanya berkaca-kaca.

"Pak Mantri... terima kasih."

"Jangan bilang terima kasih dulu, Pak. Nanti saja kalau sudah sembuh."

Sub-bab 4: Perjalanan ke Tanjung Pandan

Keesokan harinya, Pak Thamrin dan istrinya berangkat ke Tanjung Pandan.

Mereka naik bis dari terminal Manggar. Perjalanan dua jam yang terasa seperti dua hari.

Di rumah sakit, mereka antre. Antrean panjang, berdesakan, panas. Berjam-jam menunggu.

Akhirnya, nama Pak Thamrin dipanggil.

Dokter memeriksa. Wajahnya serius, sama seperti Pak Mantri. Setelah serangkaian tes, ia memanggil istri Pak Thamrin ke ruang konsultasi.

"Ibu, suami Ibu sakit parah. Ada indikasi penyakit dalam yang serius. Beliau harus dirawat."

Istri Pak Thamrin pucat. "Berapa biayanya, Dok?"

Dokter menyebut angka.

Angka yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.

"Kami... kami tak punya uang sebanyak itu, Dok."

Dokter menghela napas. "Saya kasih obat dulu, Bu. Tapi ini hanya penahan. Beliau harus dirawat. Cari biaya, Bu. Cepat."

Mereka pulang dengan tangan hampa.

Di dalam hati, mereka berdoa agar ada jalan keluar.

Sub-bab 5: Pak Mantri Menjenguk

Pak Thamrin semakin lemah.

Pak Mantri rutin menjenguk, membawa obat seadanya. Setiap kali datang, ia selalu membawa sesuatu: kadang beras, kadang gula, kadang susu untuk anak-anak.

"Pak Mantri, saya tak bisa bayar."

"Tak usah bayar, Pak. Saya ikhlas. Tugas saya."

Tapi penyakitnya terlalu berat. Pak Mantri hanya mantri, bukan dokter. Tak ada dokter di kecamatan. Hanya mantri. Ia tak bisa berbuat banyak.

Suatu sore, saat Pak Mantri datang, Pak Thamrin memegang tangannya.

"Pak Mantri... saya titip anak-anak saya. Jaga mereka."

Pak Mantri terkejut. "Pak Thamrin, jangan bicara gitu. Bapak akan sembuh."

Pak Thamrin tersenyum lemah. "Saya tahu, Pak. Tapi... siapa tahu."

Malam itu, Pak Mantri pulang dengan hati berat. Ia tahu, waktunya mungkin tak lama lagi.

Sub-bab 6: Kepergian

Pak Thamrin menghembuskan napas terakhir tiga hari kemudian.

Istrinya duduk di sampingnya, memegang tangannya yang mulai dingin. Anak-anaknya menangis di sudut ruangan. Tangis mereka pecah, menyayat hati.

Pak Mantri tiba setengah jam kemudian. Ia sudah terlambat.

Ia berlutut di samping jenazah, memegang tangan Pak Thamrin yang sudah tak bernyawa.

"Pak Thamrin... maafkan saya. Saya tak bisa menyelamatkan Bapak. Saya cuma mantri. Tak ada dokter di sini. Maafkan saya..."

Air matanya jatuh.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Pak Mantri menangis.

Sub-bab 7: Pemakaman

Pemakaman dihadiri ratusan orang.

Murid-muridnya, guru-guru, tetangga, nelayan, petani semua datang. Madrasah libur. Sekolah-sekolah lain mengirimkan perwakilan.

Pak Karman memberi sambutan. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha tegar.

"Pak Thamrin adalah guru yang mulia. Ia mengabdi tanpa pamrih. Lima belas tahun jadi guru honorer. Gaji tak pernah cukup. Tapi ia tak pernah ngeluh. Ia sakit tanpa bisa berobat. Pergi tanpa pensiun. Ini pelajaran bagi kita semua. Bahwa di negeri ini, masih banyak pahlawan yang tak diakui."

Bu Dina menangis di bahu Bu Sri. Pak Zainal melepas kacamatanya, mengusap mata. Bahkan Bu Mala yang galak, matanya basah.

Siti berdiri di antara mereka. Air matanya jatuh.

"Pak Thamrin... tenanglah di sisi Allah. Ajarannya akan terus hidup pada murid-muridmu."

Sub-bab 8: Sendiri di Posyandu

Malam harinya, Pak Mantri duduk di posyandu sendirian.

Stetoskop usang di tangannya. Lampu minyak di sampingnya berkedip-kedip, hampir padam.

"Berapa banyak lagi Pak Thamrin di kampung ini? Yang sakit tanpa bisa ke dokter? Yang hanya bisa diobati mantri seadanya?"

Ia memandangi stetoskop itu. Stetoskop yang sudah tiga puluh tahun menemaninya. Stetoskop yang sudah melihat begitu banyak pasien datang dan pergi. Datang dan pergi.

"Kapan ya, kampung ini punya dokter? Kapan ya, rakyat kecil bisa berobat dengan layak?"

Tak ada yang menjawab.

Hanya jangkrik yang bernyanyi di luar.

Refleksi Penutup

Pak Thamrin pergi tanpa meninggalkan harta. Tanpa pensiun. Tanpa penghargaan.

Tapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih berharga dari semua itu: ilmu, kebaikan, dan murid-murid yang akan terus mengenangnya.

Ia mengajarkan bahwa menjadi guru bukanlah tentang uang. Bukan tentang status. Bukan tentang pengakuan.

Tentang panggilan.

Tentang keikhlasan.

Tentang mengabdi sampai napas terakhir.

Dan di gubuknya yang sederhana, di pinggir sawah yang kering, di tengah kampung yang dilanda kemarau panjang, Pak Thamrin menghembuskan napas terakhir dengan senyum di bibirnya.

Karena ia tahu, meski tubuhnya pergi, ajarannya akan tetap hidup.

Pada murid-murid yang ia cintai.

Pada anak-anak yang ia didik.

Pada generasi yang akan meneruskan.

No comments:

Post a Comment

BAB 35 Ina dan Si Merah Tahun 2001 Sub-bab 1: Sepeda yang Kesepian Setelah Raka pergi ke Jakarta, Si Merah lebih sering terparkir di sud...