BAB 24
Ban Kempes
Tahun 1995
Sub-bab 1: Raka Remaja
Tahun 1995. Raka lima belas tahun, duduk di bangku SMP.
Si Merah kembali diandalkan. Uang saku pas-pasan tak cukup untuk naik angkot setiap hari. Sepeda tua itu dengan cat mulai kusam dan jari-jari berkarat masih setia. Setiap pagi ia mengayuh ke sekolah, setiap sore ia mengayuh pulang.
Tapi sesuatu berubah.
Setiap pagi, Raka mengayuh melewati jalan yang sama. Dulu, banyak pesepeda. Mereka beriringan, saling sapa, saling lambai.
Sekarang, motor di mana-mana.
Suara gas bersahut-sahutan. Orang-orang sibuk, tak sempat saling sapa. Mereka melaju cepat, meninggalkan debu dan asap.
Raka merasa asing di jalannya sendiri.
Sub-bab 2: Ban Kempes
Suatu siang, dalam perjalanan pulang, ban belakang Si Merah kempes.
Raka merasakan sesuatu yang aneh. Sepeda oleng, susah dikendalikan. Ia turun, memeriksa. Ban belakang kempes total udara habis, ban mengempis lemas.
"Ah, sial."
Ia menuntun sepeda. Di pinggir jalan, ia berhenti, berharap ada yang berhenti membantu.
Dulu, kalau ada yang ban bocor, pasti ada yang berhenti. Tukang tambal keliling. Atau bapak-bapak baik hati. Atau sesama pesepeda yang peduli.
Tapi siang itu tak ada.
Motor-motor lalu lalang. Ada yang menyalip terlalu dekat, menyemburkan debu ke arahnya. Ada yang membunyikan klakson keras-keras. Ada yang hanya lewat, tak peduli.
Wajah-wajah di balik helm hanya melirik sekilas, lalu pergi.
Raka menuntun sepeda sendirian. Tiga kilometer. Sepanjang jalan, ia menoleh ke belakang berkali-kali, berharap.
Tak ada.
Sub-bab 3: Ejekan
Di pertigaan dekat pasar, sekelompok anak muda naik motor melintas. Mereka berboncengan tiga, tertawa-tawa. Melihat Raka yang pucat menuntun sepeda, mereka mengerem.
"Hei, naik sepeda! Jaman dulu! Hahaha!"
Raka malu. Ia menunduk, terus berjalan.
"Lo tak punya motor? Miskin! Masa kecil-kecil naik sepeda!"
Tawa mereka pecah.
Raka ingin menangis. Tapi ia tahan. Ia terus berjalan, tak menoleh.
Sub-bab 4: Di Rumah
Sampai di rumah, ia duduk lelah di teras.
Si Merah di sampingnya, ban kempes, karatan. Sepeda itu tampak sekarat. Seperti perasaannya.
Siti keluar, melihat raut muka anaknya.
"Kenapa, Nak?"
"Ban kempes, Bu. Tak ada yang nolong. Sepanjang jalan, tak ada yang berhenti. Malah diejek."
Siti duduk di sampingnya.
"Iya, Nak. Zaman mulai berubah. Orang makin sibuk."
"Berarti yang baik udah hilang, Bu?"
Siti memandang anaknya lama. Di matanya, ia melihat kekecewaan. Tapi juga pertanyaan besar tentang dunia yang mulai berubah.
"Belum hilang, Nak. Masih ada. Cuma lebih susah dicari."
"Di mana?"
"Di posyandu, Pak Mantri masih setia. Di warung Mak Inang, orang masih ngobrol. Di Tanjakan Samak, buruh tambang masih saling bantu. Di hati orang-orang baik, kebaikan tak pernah hilang."
"Tapi di jalan, Bu, sepi."
"Di jalan memang mulai sepi. Tapi di hati, jangan ikut sepi."
Sub-bab 5: Malam yang Sunyi
Malam harinya, Raka tak bisa tidur.
Ia memikirkan ejekan anak-anak itu. "Miskin." Kata itu terngiang-ngiang di telinganya.
Ia bangkit dari dipan, berjalan ke luar. Si Merah masih terparkir di halaman, ban kempesnya belum diperbaiki. Ia duduk di samping sepeda itu, memandanginya. Bulan purnama di atas, menerangi halaman dengan cahaya perak.
"Merah," bisiknya. "Kita miskin, ya?"
Sepeda itu diam.
Tapi dalam diamnya, Raka merasa sepeda itu menjawab.
"Kita tak miskin," katanya lagi. "Kita punya Ibu. Kita punya Bapak. Kita punya Ina. Kita punya Si Merah. Itu sudah cukup."
Ia memegang stang sepeda itu. Karatnya terasa kasar di tangannya. Tapi di balik karat itu, ada kenangan.
"Maaf, Merah. Kamu tua. Tapi aku sayang kamu."
Sub-bab 6: Keesokan Harinya
Keesokan harinya, Siti membawa Si Merah ke tukang tambal.
Ban diganti, rantai dibersihkan, rem disetel. Sepeda itu kembali hidup.
Raka mengayuh ke sekolah.
Di jalan, ia melihat seorang bapak tua dengan sepeda butut yang bannya juga kempes. Bapak itu menuntun sepedanya, lesu, keringat membasahi bajunya.
Raka berhenti.
Tanpa berpikir panjang, ia memarkir Si Merah dan mendekat.
"Pak, ban bocor? Saya punya ban cadangan. Pinjam dulu."
Bapak itu terkejut. Matanya membelalak.
"Wah, Nak, terima kasih. Kamu baik."
Raka membantu mengganti ban. Mereka bekerja sama Raka membuka baut, bapak itu memasang ban baru. Mereka ngobrol sebentar. Bapak itu ternyata pensiunan guru. Mengajar di SD selama tiga puluh tahun.
"Nak, kamu baik. Jangan berubah, ya. Dunia boleh berubah, tapi hati jangan ikut berubah."
Raka mengangguk.
Ia melanjutkan perjalanan. Di belakangnya, bapak tua itu melambai. Raka membalas lambaian.
Di jalan yang mulai sepi itu, untuk sesaat, ada kehangatan yang kembali.
Refleksi Penutup
Raka belajar hari ini bahwa kebaikan tidak selalu datang dari orang yang kita kenal. Kadang, ia datang dari orang yang paling tidak kita duga seorang pensiunan guru yang sepedanya bocor di pinggir jalan.
Ia juga belajar bahwa ejekan "miskin" tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang ia miliki. Ibu yang selalu ada. Bapak yang tak pernah mengeluh. Ina yang masih polos. Si Merah yang setia.
Dan yang paling penting: ia belajar bahwa kebaikan tidak harus menunggu. Ia bisa memulainya. Kapan saja. Di mana saja.
Bahkan saat ia sendiri sedang kesulitan.
Seperti menolong bapak tua yang bannya bocor, meski bannya sendiri baru saja diganti kemarin.
Kebaikan tidak menunggu kaya.
Kebaikan hanya butuh hati.
No comments:
Post a Comment