BAB 25
Pak Karman
Tahun 1995
Sub-bab 1: Sore di Warung Mak Inang
Warung Mak Inang di puncak Tanjakan Kantor Telepon sore itu sepi. Hanya dua orang pelanggan seorang bapak tua yang duduk di meja pojok, dan Raka yang baru saja memarkir Si Merah di samping warung.
Sore itu, matahari mulai turun, menciptakan semburat jingga di ufuk barat. Angin bertiup sejuk, membawa aroma daun kering dan tanah dari perkebunan lada di bawah. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, terbang rendah di atas ilalang yang menguning.
Raka haus. Seharian main bola bersama teman-teman, tenggorokannya kering seperti tanah di musim kemarau. Ia memesan es teh pada Mak Inang, lalu duduk di bangku kayu. Baru beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa bapak tua di meja pojok itu adalah Pak Karman.
Pak Karman sudah sangat tua. Rambutnya putih semua, nyaris tak tersisa hitam. Kulitnya keriput, seperti daun kering yang siap gugur. Tapi matanya matanya masih tajam. Masih bisa melihat dunia dengan jernih.
Dan di samping kursinya, bersandar sepeda tua yang tak kalah tuanya. Sepeda itu Raleigh pernah megah, kini usang. Catnya kusam, bannya botak, rantainya berkarat. Tapi sepeda itu masih berdiri, masih setia. Pak Karman merawatnya sebaik mungkin, seperti merawat kenangan.
Di meja di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepul. Asapnya berputar-putar, naik ke langit-langit rendah warung, lalu menghilang. Pak Karman menyeruputnya pelan, matanya menerawang ke arah tanjakan di bawah.
"Pak Karman," sapa Raka.
Pak Karman menoleh. Matanya yang sayu berkedip, lalu tersenyum.
"Raka, sini duduk!"
Raka mendekat, duduk di kursi seberang. Mak Inang membawakan es teh manis untuk Raka, dan secangkir kopi hitam untuk Pak Karman kopi kedua, mungkin.
Sub-bab 2: Kenapa Masih Naik Sepeda?
"Pak Karman, kok Bapak masih naik sepeda?" tanya Raka.
Begitu kata-kata itu keluar, ia menyesal. Terlalu lancang.
Tapi Pak Karman tak marah. Ia malah tertawa. Tawanya renyah, seperti suara daun kering yang tertiup angin.
"Kenapa? Nggak boleh orang tua naik sepeda?"
"Boleh, Pak. Tapi kan banyak motor. Berbahaya."
Pak Karman menghela napas. Ia menatap jalan di bawah sana jalan yang dulu ramai dengan pesepeda, kini padat dengan motor. Suara gas bersahut-sahutan, klakson bersahutan, debu beterbangan. Debu itu mengepul setiap kali motor lewat, membuat udara sore terasa lebih berat.
"Raka, kamu tahu kenapa saya masih naik sepeda?"
"Tak tahu, Pak."
"Karena di sepeda, saya masih bisa lihat orang. Saya masih bisa sapa mereka. Di motor? Cepat, nggak sempat apa-apa. Lewat, tak lihat kanan-kiri. Yang ada hanya jalan di depan."
Raka diam, mendengarkan.
Sub-bab 3: Rindu Tegur Sapa
Pak Karman menyeruput kopinya. Matanya kembali menerawang, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat oleh Raka.
"Dulu, setiap pagi saya ke sekolah, selalu ada yang menyapa. 'Pak Karman, selamat pagi!' 'Pak Karman, sehat ya!' Dari petani, dari pedagang, dari murid-murid. Saya balas lambaian. Saya balas senyum. Hangat sekali."
Matanya berkaca-kaca.
"Hangat sekali," ulangnya.
"Sekarang, Pak?"
Pak Karman menggeleng.
"Sekarang? Di jalan cuma suara gas. Orang di kiri kanan, saya tak kenal. Mereka tak kenal saya. Kadang saya lewat, mereka cuek. Kadang saya sapa, mereka diam. Mungkin mereka tak dengar. Mungkin mereka tak peduli."
Ia berhenti, batuk kecil.
"Saya rindu."
"Rindu apa, Pak?"
"Rindu tegur sapa. Rindu kalau ban bocor, ada yang bantu. Sekarang? Ban bocor, tinggal telepon bengkel. Bengkel datang, service, bayar, pulang. Nggak ada obrolan. Nggak ada kehangatan."
Sub-bab 4: Tembok yang Makin Tinggi
Pak Karman menunjuk ke arah Tanjakan Samak yang samar-samar terlihat dari warung. Di bawah sinar sore, tanjakan itu tampak sepi. Sesekali motor melaju, menanjak dengan suara meraung, lalu menghilang di balik bukit.
"Dulu di tanjakan itu, semua orang sama. Guru, buruh, mandor sama-sama nuntun. Sekarang? Mandor naik mobil, lewat jalan lain. Buruh tetap nuntun sepeda butut. Mereka makin sendiri. Sendiri di jalan, sendiri di hidup."
"Kenapa bisa berubah, Pak?"
Pak Karman menghela napas panjang. Napas orang tua yang sudah lelah dengan perubahan zaman.
"Karena yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Dan di antaranya, tembok makin tinggi. Dulu tegur sapa bisa nembus tembok itu. Sekarang? Temboknya terlalu tinggi."
Raka memandang Pak Karman. Di matanya, ia melihat kerinduan yang dalam. Kerinduan pada masa lalu yang tak akan kembali. Ia juga melihat kelelahan kelelahan melihat dunia berubah ke arah yang tak ia sukai.
Sub-bab 5: Janji Raka
"Pak, kalau saya naik sepeda, saya sapa orang. Nggak papa, kan?"
Pak Karman tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum itu sampai ke matanya. Matanya yang sayu tiba-tiba berbinar, seperti lampu yang dinyalakan kembali.
"Tak papa, Nak. Malah bagus. Kamu mulai. Sedikit demi sedikit. Mungkin nanti yang lain ikut."
"Bener, Pak?"
"Bener. Dulu kebaikan juga mulai dari satu orang. Satu orang yang berhenti menolong orang lain. Satu orang yang menyapa tetangga. Satu orang yang tersenyum pada orang asing. Dari satu orang itu, kebaikan menyebar. Seperti riak air di danau."
Raka tersenyum. Ia merasa mendapat tugas penting. Tugas untuk menjaga kehangatan yang mulai hilang.
Sub-bab 6: Pisang Goreng yang Tak Berubah
Di luar warung, matahari semakin rendah. Langit berubah warna jingga kemerahan, seperti lukisan raksasa yang membentang dari ufuk barat hingga ufuk timur. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, terbang rendah di atas ilalang.
Mak Inang keluar dari dapur, membawa piring berisi pisang goreng panas. Aroma manisnya menguar, bercampur dengan aroma kopi dan asap kayu bakar.
"Ini, Pak. Buat Raka juga." Ia meletakkan piring di tengah meja.
Pak Karman mengambil satu, meniupnya perlahan.
"Mak Inang, pisang gorengnya masih sama enaknya."
Mak Inang tersenyum. "Resep turun-temurun, Pak. Nggak berubah."
Pak Karman memandang Mak Inang. "Nggak berubah. Itu yang bagus. Di tengah semua yang berubah, masih ada yang tetap."
Sub-bab 7: Menuntun Sepeda Tua
Sore itu, sebelum pulang, Raka membantu Pak Karman menuntun sepedanya ke jalan utama.
Sepeda Raleigh tua itu berat, tapi Raka tak keberatan. Roda-roda yang sudah aus berderit pelan, rantai yang berkarat mengeluarkan suara gesekan.
"Pak Karman, nanti kalau saya besar, saya akan jaga Manggar. Saya akan jaga tegur sapa."
Pak Karman tertawa. Tawanya lembut, seperti angin sore.
"Jangan terlalu muluk, Nak. Cukup jaga dirimu sendiri. Cukup sapa orang yang kau temui. Itu sudah lebih dari cukup."
Raka mengangguk. Ia melambai pada Pak Karman, lalu mengayuh Si Merah pulang.
Di belakangnya, Pak Karman masih berdiri, melambai. Sosoknya kecil di kejauhan, tapi kata-katanya besar di hati Raka. Angin sore membelai rambut putihnya, dan untuk sesaat, ia tampak seperti patung patung penjaga masa lalu yang setia.
Sub-bab 8: Menulis Janji
Malam harinya, Raka menulis di buku catatannya.
Pensilnya bergerak lambat, menorehkan kata-kata di atas kertas buram.
"Hari ini aku ngobrol sama Pak Karman. Beliau bilang, dulu orang saling sapa. Sekarang sudah jarang. Aku janji sama beliau, aku akan mulai. Aku akan sapa orang-orang di jalan. Bukan karena aku pahlawan. Tapi karena aku ingin Manggar kembali hangat seperti dulu."
Ia memandangi tulisannya, lalu menambahkan satu kalimat di akhir.
"Semoga aku bisa."
Refleksi Penutup
Di luar, jangkrik bernyanyi. Angin malam berhembus, membawa janji tentang hari esok.
Raka tersenyum, membayangkan masa depan di mana tegur sapa tak lagi hilang.
Ia tidak tahu apakah ia bisa mengubah dunia. Tidak tahu apakah ia bisa mengembalikan masa lalu yang dirindukan Pak Karman.
Tapi ia tahu satu hal: ia bisa memulai. Dari dirinya sendiri. Dari hari ini. Dari sapaan pertama besok pagi.
Kepada petani di kebun lada. Kepada pedagang di pasar. Kepada siapa pun yang ditemuinya di jalan.
Seperti riak air di danau.
Satu sapaan, lalu menyebar.
Pelan-pelan. Tapi pasti.
No comments:
Post a Comment