BAB 27
Toko Babah Acun Sepi
Tahun 1995
Sub-bab 1: Di Depan Toko Tua
Toko Sepeda Acun Motor di ujung Pasar Manggar tak lagi ramai seperti dulu.
Siti berdiri di depannya, memandangi etalase kaca yang berdebu. Debu itu tebal, menempel di kaca seperti kabut tipis, membuat barang-barang di dalamnya tampak samar. Kaca itu sendiri retak di pojok kanan bawah bekas sesuatu yang pernah membenturnya, mungkin sepeda, mungkin anak kecil yang tak sengaja menabrak.
Di dalam, hanya terlihat beberapa sepeda yang tersisa itupun sudah usang. Catnya kusam, pudar dimakan usia. Bannya kempes, tergantung lemas seperti ban yang sudah tak bernyawa. Sim King, Phoenix, Raleigh semua berdebu, menunggu pembeli yang tak kunjung datang. Di sudut, sebuah sepeda ontel tanpa sadel bersandar miring, seolah menyerah pada waktu.
Pintu toko itu terbuka setengah. Siti mendorongnya perlahan.
Pintu itu berderit suaranya panjang dan sedih, seperti erangan orang tua yang lelah. Derit itu menggema di dalam, membangunkan keheningan.
Sub-bab 2: Di Dalam Toko
Di dalam, gelap.
Hanya satu lampu minyak yang menyala di sudut, menciptakan bayang-bayang yang menari-nari di dinding papan. Lampu itu kecil, sumbunya pendek, nyalanya redup. Cahaya kuningnya hanya cukup untuk menerangi beberapa meter di sekitarnya.
Bau debu, bau karat, bau barang tak terurus memenuhi ruangan. Udara terasa berat, pengap, seperti ruangan yang sudah lama tak disentuh. Debu beterbangan setiap kali Siti melangkah, menari-nari di bawah cahaya lampu minyak.
Babah Acun duduk di kursi rotannya yang lama. Kursi itu sudah sangat tua rotannya lepas di sana-sini, sandarannya miring. Tapi ia tetap duduk di sana, seperti biasa.
Ia sudah sangat tua. Rambutnya putih semua, nyaris tak tersisa hitam. Punggungnya membungkuk, seperti pohon tua yang siap rebah. Kacamata bulatnya bertengger di ujung hidung, dan di pangkuannya, sebuah dinamo tua. Tangannya yang keriput memegangnya erat, jari-jarinya menelusuri permukaannya yang berkarat.
Ia tak menyadari kehadiran Siti.
Matanya menerawang, menatap dinamo itu. Mungkin ia sedang mengingat masa lalu masa ketika toko ini ramai, ketika sepeda-sepeda baru datang dari Jakarta, ketika pembeli antre untuk mencoba Sim King terbaru.
"Babah," panggil Siti pelan.
Babah Acun tersentak. Ia menoleh, lalu tersenyum. Senyum yang sama seperti sepuluh tahun lalu hangat, ramah, tulus. Senyum yang tak pernah pudar meski usia menggerogoti tubuhnya.
"Bu Siti... sudah jarang ke sini."
Sub-bab 3: Cerita Dinamo Tua
Siti mendekat, duduk di kursi di samping Babah Acun. Kursi itu berderit, tapi masih kokoh.
"Iya, Babah. Si Merah sudah jarang dipakai."
Babah Acun mengangguk. "Begitulah, Bu. Zaman berubah."
Ia memandangi dinamo di tangannya. Matanya kembali menerawang.
"Ini onderdil Sim King. Dari Cina. Saya impor sendiri dulu, naik kapal dari Jakarta. Tiga hari dua malam di laut. Mual, mabuk, tapi saya lupa semua begitu lihat ribuan onderdil di Glodok."
Matanya berbinar.
"Dulu, waktu masih muda, saya naik kereta api dari Pelabuhan ke Jakarta. Gerbongnya penuh. Bau keringet, bau asap rokok, bau ikan asin yang dibawa pedagang. Tiga hari dua malam duduk di kursi kayu, tak bisa tidur. Tapi setiap kali sampai di Glodok, saya lupa semua lelah. Di sana, ribuan onderdil menunggu. Saya pilih yang terbaik. Saya bawa pulang. Untuk rakyat Manggar."
Siti diam, mendengarkan. Ia tak pernah mendengar cerita ini sebelumnya.
"Sim King itu sepeda rakyat, Bu. Semua orang bisa beli. Guru, petani, buruh tambang semua sama. Tak ada yang dibeda-bedakan. Saya bangga jualan Sim King."
Babah Acun berhenti, batuk kecil. Suaranya serak, seperti pintu berkarat yang digesek.
Sub-bab 4: Sepeda yang Hilang
"Sekarang? Orang lebih suka motor. Sepeda seperti Sim King mulai ditinggal. Pabriknya di Jakarta juga sudah tutup. Saya tinggal stok onderdil lama."
Siti melihat rak onderdil di sudut toko. Dinamo, lampu, pentil ban, rantai semua berdebu. Debu menebal, seperti tak tersentuh bertahun-tahun. Beberapa onderdil bahkan sudah berkarat parah, tak mungkin lagi dipakai.
"Babah tak jualan lagi?"
"Masih, tapi sepeda biasa. Sepeda lipat, sepeda gunung. Sim King ini mungkin jadi kenangan. Tapi saya simpan onderdilnya. Siapa tahu ada yang cari. Siapa tahu ada yang masih peduli."
Babah Acun memandang Siti. Matanya sayu, tapi masih ada cahaya di sana.
"Bu, kenapa orang sekarang berubah ya? Dulu kalau naik sepeda, banyak tegur sapa. Sekarang..."
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Hanya menggeleng pelan.
Sub-bab 5: Sepeda Itu Pelan
Babah Acun termenung lama. Ia memandang ke luar toko, ke jalan yang ramai dengan motor. Debu-debu beterbangan ditiup angin, menutupi pandangan ke seberang jalan. Sesekali motor melintas dengan kencang, meninggalkan suara gas yang memekak.
"Karena sepeda itu pelan, Bu. Pelan membuat kita bisa lihat orang lain, bisa berhenti, bisa menyapa. Motor? Ngebut. Buru-buru. Semua jadi asing. Saya jualan sepeda tiga puluh tahun, Bu. Saya lihat sendiri perubahannya. Yang hilang bukan cuma sepeda. Yang hilang adalah kehangatan."
Ia mengambil dinamo itu lagi. Tangannya gemetar.
"Ini onderdil Sim King. Dari Cina. Saya impor sendiri dulu, naik kapal dari Jakarta. Sekarang, onderdil ini tak ada harganya. Tapi Bu, suatu hari mungkin ada yang cari. Mungkin anak Bu Guru, atau cucunya. Mereka akan cari onderdil ini untuk merakit kenangan."
Siti terharu. Ia memegang tangan Babah Acun. Tangan itu dingin, kurus, tapi masih kuat.
"Babah, terima kasih sudah jualan Sim King dulu. Tanpa Babah, saya mungkin masih jalan kaki."
Babah Acun tersenyum. "Saya cuma jualan, Bu. Yang penting, Ibu yang mengayuh."
Sub-bab 6: Pesan Terakhir
Mereka diam.
Di luar, suara motor meraung-raung. Di dalam, hanya suara napas mereka yang terdengar. Siti bisa mendengar napas Babah Acun yang berat, sesekali diselingi batuk.
Siti bangkit, pamit. Babah Acun melambai lemah. Tangannya yang keriput terangkat, lalu turun lagi.
"Bu, titip pesan saya, ya."
"Iya, Babah."
"Naik sepeda itu bukan cuma transportasi. Ibu akan lihat senyum sepanjang jalan. Simpan senyum itu. Karena suatu hari, mungkin senyum itu akan hilang."
Siti mengangguk. Ia sudah pernah mendengar pesan itu, sepuluh tahun lalu. Kini ia lebih mengerti. Lebih merasakan.
Sub-bab 7: Sepeda Butut di Jalan
Siti mengayuh Si Merah pulang.
Di boncengan, Si Merah setia. Sepeda itu sudah tua, tapi masih kuat. Seperti Babah Acun.
Di belakangnya, toko sepeda itu semakin mengecil, semakin mengecil, hingga akhirnya hilang ditelan tikungan. Tapi bayangannya masih ada di benak Siti seorang tua dengan dinamo di pangkuan, menunggu waktu, menunggu kenangan.
Siti berdoa dalam hati. Semoga Babah Acun masih panjang umur. Semoga suatu hari nanti, cucu Raka akan datang ke toko itu dan menemukan onderdil untuk merakit kenangan.
Refleksi Penutup
Sore itu, langit Manggar berwarna jingga. Indah, tapi sendu.
Siti mengayuh pelan, menikmati angin sore yang mulai dingin. Di kejauhan, cerobong tambang masih mengepul. Di dekatnya, anak-anak berlarian pulang sekolah.
Ia memikirkan Babah Acun. Tentang dinamo tua yang ia pegang erat. Tentang toko yang dulu ramai, kini sepi. Tentang sepeda-sepeda yang dulu berjejer rapi, kini berdebu dan berkarat.
Zaman berubah, pikirnya. Yang dulu ramai, kini sepi. Yang dulu hangat, kini dingin. Yang dulu saling sapa, kini saling cuek.
Tapi ia tak mau menyerah pada perubahan.
Ia akan tetap mengayuh. Tetap menyapa. Tetap menjaga kehangatan, meski hanya di sekeliling kecilnya. Karena itu yang bisa ia lakukan. Itu yang diajarkan Babah Acun tanpa pernah mengucapkannya secara langsung.
"Naik sepeda itu bukan cuma transportasi."
Iya, Babah. Saya tahu.
Saya akan simpan senyum itu.
No comments:
Post a Comment