BAB 28
Krisis Moneter
Tahun 1994-1997
Bagian 1: Malam Tahun Baru 1994
Malam tahun baru 1994 datang tanpa pesta, tanpa kembang api, tanpa kemeriahan seperti di kota-kota besar.
Di Manggar, pergantian tahun dirayakan dengan cara sederhana: berkumpul bersama keluarga, bersyukur atas apa yang ada, dan berharap untuk tahun yang akan datang.
Di rumah Siti, keluarga kecil itu duduk di teras. Lampu minyak di samping mereka berkedip-kedip, menciptakan bayang-bayang yang menari di dinding papan. Di langit, bintang-bintang bertaburan, lebih banyak dari biasanya seolah ikut merayakan.
Raka, yang saat itu berusia empat belas tahun, duduk di kursi bambu dengan kaki menjuntai. Ina, sembilan tahun, duduk di pangkuan ibu. Bapak di samping, dengan secangkir kopi di tangan.
Di kampung, malam tahun baru dirayakan dengan cara sederhana. Beberapa keluarga menyalakan petasan suaranya memekak, membuat anjing-anjing menggonggong. Anak-anak berlarian dengan lilin-lilin kecil dari bambu, menyanyikan lagu-lagu lama yang diwariskan turun-temurun. Ibu-ibu membuat lemang, membakarnya di batang bambu hingga aromanya semerbak ke seluruh kampung.
"Pak, besok tahun baru," kata Ina, matanya berbinar.
"Iya, Nak. Tahun baru."
"Kita buat resolusi, yuk!" seru Raka tiba-tiba.
Siti tersenyum. "Resolusi apa, Ra?"
"Aku mau jadi orang sukses. Biar bisa beliin Ibu motor."
Semua tertawa. Bapak mengusap kepala Raka.
"Kamu baik, Nak. Tapi Ibu nggak perlu motor. Ibu cukup sama sepeda."
"Tapi kan capek, Pak."
"Ya, capek. Tapi di atas sepeda, Ibu bisa lihat pemandangan. Ibu bisa sapa orang-orang. Itu yang Ibu suka."
Ina ikut bicara. "Aku mau jadi dokter. Biar bisa obati orang-orang."
Bapak memandang Ina dengan bangga. "Kamu bisa, Nak. Bapak doakan."
Sekarang giliran Bapak. Mereka semua memandang.
"Pak, resolusi Bapak apa?" tanya Raka.
Bapak berpikir sebentar. Matanya menerawang ke luar, ke arah kegelapan yang sesekali diterangi lampu minyak dari rumah tetangga.
"Resolusi Bapak: lihat kalian tumbuh. Lihat kalian sekolah. Lihat kalian sukses. Itu sudah cukup."
Siti memegang tangan Bapak. "Pak, kita akan lihat itu bersama."
Mereka diam. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma tanah kering dan dedaunan. Di kejauhan, terdengar suara tawa dari rumah tetangga mungkin mereka juga berkumpul, juga merayakan.
"Tahun depan akan lebih baik," kata Siti pelan.
"Amin," jawab Bapak.
Raka meregangkan badan. "Aku mau tidur. Besok mau main bola."
Ina menguap. "Aku juga mau tidur."
Siti menggendong Ina, masuk ke rumah. Bapak dan Raka menyusul. Lampu minyak dimatikan, menyisakan gelap yang diterangi bintang-bintang.
Malam tahun baru di Manggar tidak pernah mewah. Tapi selalu hangat.
Bagian 2: Krisis Moneter 1997
Tiga tahun kemudian, tahun 1997 datang seperti tamu tak diundang yang membawa kabar buruk.
Delapan tahun telah berlalu sejak tamasya ke Pantai Burung Mandi. Raka yang dulu sembilan tahun, kini telah berusia tujuh belas tahun remaja tanggung yang duduk di bangku kelas dua SMA. Suaranya mulai pecah, jakunnya mulai menonjol, dan di dagunya tumbuh beberapa helai kumis tipis. Ia tak lagi bermain mobil-mobilan kayu; kini ia lebih sering membaca buku atau membantu Bapak di kebun.
Ina, dua belas tahun, sudah duduk di bangku SMP. Rambutnya dikuncir dua, dan ia mulai suka bercermin lama-lama.
Si Merah semakin tua. Catnya pudar di sana-sini, jeruji rodanya berkarat, bannya sudah dua kali diganti. Tapi masih setia. Setiap pagi Raka mengayuhnya ke sekolah, tiga kilometer pergi, tiga kilometer pulang.
Di Jakarta, sesuatu terjadi. Nilai tukar rupiah jatuh. Dari dua ribu empat ratus per dolar, menjadi tiga ribu, lalu empat ribu, lalu melompat tak terkendali. Orang-orang menyebutnya krisis moneter. Para ekonom di televisi bicara dengan wajah tegang, menggunakan kata-kata yang tak dipahami rakyat biasa: inflasi, depresiasi, gejolak ekonomi.
Di Manggar, dampaknya terasa lebih sederhana. Harga-harga naik. Sembako langka. Orang-orang mengantre di mana-mana antre minyak tanah, antre beras, antre susu. Di pasar, para ibu berebut barang sebelum habis, dan pedagang menaikkan harga seenaknya.
Sore itu, Bapak pulang dari sekolah dengan wajah lelah. Ia duduk di kursi bambu, melepas sepatunya perlahan. Di tangannya, amplop gaji lebih tipis dari biasanya.
"Bu," panggilnya pelan.
Siti keluar dari dapur, mengelap tangan di kain. Ia melihat amplop itu, lalu melihat wajah suaminya. Ada sesuatu yang salah.
"Berapa, Pak?"
Bapak menghela napas. "Nggak full. Kata bendahara, anggaran dipotong. Krisis."
Siti menerima amplop itu, menghitung uang di dalamnya. Hitungan cepat di kepala. Cukup untuk seminggu. Mungkin sepuluh hari, jika makan seadanya.
"Pak, uang kita cuma cukup buat seminggu."
Bapak diam. Matanya menerawang ke luar jendela, ke arah jalan yang mulai sepi. Di kejauhan, cerobong tambang masih mengepul, tak peduli pada krisis.
Sub-bab 3: Cincin Kawin
"Bu, gimana kalau kita jual cincin kawin saya?"
Bapak terkejut. Ia menoleh, menatap istrinya dengan mata membelalak.
"Bu, jangan. Itu satu-satunya perhiasan Ibu."
"Tapi anak-anak harus makan, Pak."
"Ada cara lain. Mungkin saya bisa cari kerja tambahan."
Siti menggeleng. "Pak, Bapak sudah capek ngajar. Istirahat."
"Capek boleh, Bu. Tapi anak-anak lapar, nggak boleh."
Mereka diam. Malam turun perlahan, merayap masuk ke sudut-sudut rumah. Di dalam, Raka dan Ina sudah tidur, tak tahu apa-apa tentang krisis, tentang harga-harga, tentang amplop gaji yang tipis.
Keesokan harinya, Siti pergi ke pasar. Ia membawa uang secukupnya, bertekad untuk membeli yang paling perlu. Tapi di pasar, suasana berbeda. Orang-orang berdesakan, berebut, berteriak. Pedagang memasang harga baru setiap jam, naik terus tanpa ampun.
"Bu, beras sekilo berapa?" tanya Siti pada pedagang langganannya.
"Tiga ribu, Bu. Naik."
"Kemarin dua ribu lima ratus."
"Kemarin, Bu. Sekarang krisis."
Siti menghela napas. Ia membeli beras, minyak, dan sedikit gula. Uang di dompetnya hampir habis, padahal ia baru membeli kebutuhan dasar.
Di rumah, ia membuka lemari, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kayu. Di dalamnya, tersimpan cincin kawinnya cincin emas sederhana, dengan ukiran tipis di permukaannya. Cincin itu adalah satu-satunya perhiasan yang ia miliki. Hadiah dari Bapak saat pernikahan mereka, dua belas tahun lalu.
Ia memandangi cincin itu lama. Lalu ia memasukkannya ke dalam saku, dan pergi lagi ke pasar.
Di pasar loak, ia bertemu dengan seorang pedagang perhiasan bekas. Pedagang itu memeriksa cincinnya dengan kaca pembesar, membolak-baliknya, menimbangnya di telapak tangan.
"Ini emas, Bu. Tapi kadarnya nggak tinggi."
"Saya tahu. Berapa?"
Pedagang itu menyebut angka. Lima puluh ribu.
Siti tertegun. Cincin itu dulu dibeli dengan harga tiga ratus ribu. Tapi ia tak punya pilihan.
"Ambil, Bang."
Ia menerima uang itu, memasukkannya ke dalam saku. Lalu ia berjalan meninggalkan pasar loak, tanpa menoleh ke belakang.
Sub-bab 4: Malam yang Sunyi
Malam harinya, Bapak melihat istrinya duduk di teras. Di pangkuannya, sebungkus nasi dan lauk sederhana. Ia mendekat, duduk di samping.
"Bu, tadi ke mana?"
Siti tak menjawab.
"Bu?"
Akhirnya, Siti menoleh. Matanya merah.
"Pak, saya jual cincin kawin saya."
Bapak terpaku. Kata-kata itu seperti pukulan.
"Bu... cincin itu..."
"Saya tahu, Pak. Tapi anak-anak harus makan."
Bapak menunduk. Tangannya gemetar. Ia ingin marah, tapi tak bisa. Ia ingin menangis, tapi tak pantas. Ia hanya bisa diam, memandangi tanah di bawah kakinya.
Siti memegang tangannya. "Pak, nggak apa-apa. Cincin bisa dibeli lagi nanti. Yang penting anak-anak sehat."
Malam itu, mereka berdua duduk di teras, di bawah langit yang gelap tanpa bintang. Mereka tak bicara. Hanya diam, berduka untuk cincin yang hilang, bersyukur untuk anak-anak yang masih ada di dalam.
Di dalam rumah, Raka terbangun. Ia mendengar suara orang tuanya dari luar. Tak jelas apa yang mereka bicarakan, tapi nadanya berbeda. Ada beban di sana.
Ia bangkit, berjalan ke jendela. Dari celah tirai, ia melihat ibu dan bapak duduk di teras. Ibu memegang tangan bapak. Bahu bapak bergetar.
Raka tak tahu apa yang terjadi. Tapi ia tahu, sesuatu telah berubah.
Keesokan harinya, ia tak bertanya. Ia hanya memeluk ibunya lebih erat sebelum berangkat sekolah.
Bagian 3: Surat untuk Raka (Transisi ke Jakarta)
Malam itu, setelah Raka dan Ina tidur, Siti duduk di meja kayu. Lampu minyak di sampingnya berkedip-kedip. Ia mengambil secarik kertas buram dan pena yang tintanya mulai menipis.
Ia menulis perlahan. Setiap kata dipilih, setiap kalimat dirangkai.
"Raka anak Ibu,
Ibu mau cerita sesuatu. Hari ini Ibu jual cincin kawin Ibu. Cincin itu Ibu dapat dari Bapak dua belas tahun lalu. Tapi Ibu jual, Nak. Karena Ibu lebih butuh beras daripada cincin.
Jangan sedih. Ibu ikhlas. Cincin bisa dibeli lagi nanti. Yang penting kalian sehat. Yang penting kalian sekolah.
Ibu cuma ingin kamu tahu, Nak. Bahwa hidup kadang keras. Tapi kita harus tetap jalan. Seperti naik sepeda kadang tanjakan, kadang turunan. Tapi roda harus terus berputar.
Doakan Ibu, Nak. Doakan Bapak. Doakan Ina.
Ibu sayang kalian.
Ibu."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke amplop. Besok pagi akan ia kirim ke Jakarta, ke alamat kos Raka.
"Ra, Ibu akan selalu kuat. Untuk kalian."
Refleksi Penutup
Di luar, angin malam berhembus. Daun jambu berguguran.
Di kejauhan, lampu-lampu kompleks tambang masih menyala tak peduli pada krisis, tak peduli pada air mata seorang ibu yang menjual cincin kawinnya.
Tapi Siti tersenyum.
Ia kuat. Untuk anak-anaknya. Untuk keluarganya. Untuk masa depan.
Dan roda kehidupan terus berputar.